Setelah pertarungan sengit dengan beberapa pria sekaligus, Park Jonggun bersandar sembari memejamkan mata– desahan puas berhasil lolos dari bibir yang hampir tertutup rapat. Air hangat berhasil membuat kondisi tubuhnya yang babak belur menjadi cukup rileks. Pria tersebut kembali membuka mata, raut wajahnya mendadak berubah dengan alis berkerut tajam– tampak begitu gundah dengan pemikirannya, perubahan itu tak luput dari perhatian Kim Jungoo, pria besurai kuning itu kini menatapnya jelas mengejek dengan senyuman khas yang mengolok.
"Ada apa denganmu? Seseorang merampas permen kapas mu?" Ejek Jungoo, mengangkat alisnya penasaran dan geli sembari terkekeh, mendapati pria jepang berwajah datar itu kini mengernyitpkan keningnya dalam diam dengan ekspresi muram semakin membuatnya terlihat menyeramkan– sangat tak biasa untuk seorang Park Jonggun.
"Berpikir."
Kim Jungoo berdecih setengah kesal walaupun sejak awal sudah menduga ia tak akan mendapatkan jawaban darinya. Mendengus skeptis, Jungoo lantas menggeleng tak percaya dan menepis rasa ingin tahunya, memilih kembali membaca buku komik yang ia pegang sedari tadi."Sangat tidak penting, siapapun tahu kau sedang berpikir, bajingan." Sambungnya sinis seraya melirik Jonggun sekilas. "Biar ku tebak pasti karena perempuan bernama [Name] itu."
Alih-alih menyangkalnya, Jonggun justru semakin terdiam seolah mengkonfirmasi tebakan Jungoo benar. Kesunyian bertahan hingga beberapa saat, lantas secara tak terduga Jonggun kembali membuka pembicaraan dengan suara seraknya. "Menurutmu, apakah suatu hari nanti dia akan mencoba melarikan diri? Setelah semuanya yang kuberikan dan kulakukan padanya?"
"Ah, jadi itu alasannya." Timpal pria berambut kuning di sana, memasang senyuman geli hampir mengejek sembari menurunkan buku komiknya agar bisa menatap langsung kedepan. Jungoo kemudian mendongak memperhatikan kepulan asap yang bergerumul di udara, tampak berpikir keras berusaha memahami– karena konsep wanita dalam hidupnya selama ini hanya 'berhubungan badan' tanpa perasaan, mencari kepuasan dengan memberi mereka sejumlah uang, itu saja. Jungoo mengangkat bahunya, hanya berhasil menangkap penalaran sesuai logika yang berjalan. "Entahlah, secara logika– seharusnya dia menikmati dan memanfaatkan fasilitas yang kau berikan— Dan, seharusnya dia tau, walaupun ingin terlambat untuk melarikan diri sekarang."
Pria besurai kuning tersebut menurunkan pandangannya, memiringkan kepala kembali menatapnya "Bagaimana jika seandainya dia memilih melarikan diri, apa yang akan kau lakukan?"
Jonggun membalas tatapannya tajam dengan kilatan berbahaya. "Apapun, mematahkan kakinya, mengurung atau membuatnya buta. Menyimpan yang rusak lebih baik dibandingkan membiarkan dia lepas." Katanya tegas dan tak main-main, sembari meraih bungkusan rokok ditepi kolam dan membawa satu batang ke bibirnya.
•••
[Name] hanya diam memandangi langit malam yang berawan, udara disekitarnya semakin dingin kala hembusan angin datang silih berganti. Gadis tersebut menghela napas panjang sembari mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri, terus mendongak ke atas dan sedikit terkesiap saat merasakan tangan kekar seseorang merengkuhnya dari belakang, bersamaan dengan salju-salju yang mulai berjatuhan dari awan. [Name] menoleh lantas mendapati keberadaan Jonggun yang kini membungkuk untuk memberinya sebuah ciuman dalam. Ketegangan [Name] melebur, memilih bersandar pada kehangatan yang pria itu tawarkan. Begitu nyaman.
Ciuman itu berlangsung lembut dan cukup panjang– begitu manis untuk seorang Park Jonggun yang terbiasa dengan wibawa dan dominasi nya. [Name] menyandari bahwa Jonggun kini hampir mati-matian menahan diri, berusaha memberinya kelembutan seperti seorang pasangan pada umumnya kala turunnya salju pertama. Pasangan, ya? Terdengar menggelitik dan walaupun agak aneh ia menyukainya.
Ketika Jonggun menarik diri, [Name] dapat merasakan genggaman pria tersebut menuntunnya lembut agar menghadap langsung kearahnya. [Name] kemudian mendongak, membawa tangannya untuk menyentuh rahang Jonggun– mengelus bekas pukulan yang kini membiru. "Kau berkelahi lagi? Tidak bisakah kau berhenti dan hidup normal seperti orang lain?"
Pria tersebut memejamkan mata, bersandar padanya sentuhan [Name] seraya menggerang puas. Tak lama, Jonggun kemudian menatapnya dengan eskpresi sulit diartikan seperti biasa. "Hampir mustahil.. selain membiarkan mu pergi, berhenti bertarung adalah salah satu yang mungkin mustahil terjadi. Aku memilih pekerjaan ini bukan karena uang, membiarkan diriku diperintahkan orang lain, tentu saja aku mencari apa yang bisa ku nikmati." Jeda Jonggun sembari mengeratkan pelukan di pinggangnya, tak membiarkan ada sedikitpun jarak diantara mereka.
"Mungkin—mungkin saja. Jika kau memintanya dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan meninggalkan ku, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk sedikit menguranginya. Dengan beberapa syarat tentunya, pertarungan adalah salah satu caraku menyalurkan gairah. Then you have to handle me, sebagai gantinya jangan pingsan hingga aku benar-benar puas." Kata Jonggun, membisikkan kalimat terakhir seperti mantra yang membuat sang empu bergidik ngeri dan sesuatu lain yang tidak mampu ia namai– entah itu hanya godaan agar membuat [Name] diam atau memang akan terjadi kedepannya.
"Dasar mesum!" [Name] mencibir hampir membentak kesal, mendorongnya menjauh– menyembunyikan rasa malunya dengan memalingkan wajahnya yang sudah memerah, terus menggerutu berusaha sebaik mungkin memasang ekspresi kesal. Gadis tersebut buru-buru melangkah lebar, meninggalkan Park Jonggun yang menyeringai geli sembari mengikutinya dibelakang.
[Name] berjalan menuju meja makan, disusul Jonggun tak lama setelahnya. Beberapa saat lalu, pria tersebut menjemput dan membawanya ke apartemen miliknya, berjanji menyiapkan makan malam dengan tangan sendiri agar membuatnya lebih spesial. Jujur saja [Name] menikmati setiap perlakuan Jonggun, seorang pria tampak kaku dan galak– merelakan reputasi tak terkalahkan nya menjadi cukup rapuh dengan menyiapkan hidangan di atas meja untuknya. [Name] mengiris steak daging yang dihidangkan, memasukkan kedalam mulutnya dan mulai menguyah perlahan— asin. Namun baginya itu adalah upaya lucu yang patut diapresiasi. [Name] mengangguk puas begitu menikmati sembari tersenyum tipis, ia juga bisa melihat kebanggaan dari Jonggun yang dengan percaya dirinya menyantap masakannya.
Awalnya terdiam lalu mengernyitkan keningnya– [Name] menahan tawa melihat setiap perubahan eskpresi Jonggun. "Hey no.. kau tak boleh melepeh apa yang sudah ada di dalam mulut." Katanya terkekeh geli, menghentikan gerakan Park Jonggun.
"Ah ah ah. Tidak, telanlah sayang– kau tidak boleh melepeh apa yang sudah ada di dalam mulutmu." Bisik Jonggun dengan suara berat dan seraknya, setengah terkekeh diiringi geraman di dadanya.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAIN | LOOKISM
Fanfiction❝Jika aku tidak bisa membuatmu tersenyum maka aku akan membuatmu menangis untukku.❞ Park Jonggun x Reader as Yoo [Name]
