Chapter 14

162 42 3
                                        

Chapter 14: "Not Your Fault"────── ⪩·⪨ ──────

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chapter 14: "Not Your Fault"
────── ⪩·⪨ ──────

Malam telah tiba.

Sepulang mereka dari taman bermain, kini keduanya berada di ruang makan rumah Ahrin. Rumah Ahrin teramat luas untuk dihuni Ahrin sendirian dan beberapa pembantu. Jungwon merasakan betapa kosongnya rumah Ahrin. Pasti amat kesepian tinggal di rumah sebesar ini, pikir Jungwon.

Ahrin dan Jungwon masih mengenakan seragam sekolah. Keduanya duduk di ruang makan. Hendak makan malam. Banyak sekali makanan yang tersaji di depannya. Mangkuk-mangkuk berisi sayur dan lauk disusun rapi.

Jungwon melihat Ahrin melamun. Mata gadis itu masih membengkak sehabis menangis tadi. Ia tampak tak berniat menyicip sedikitpun makanan yang tersaji di depannya.

"Makan, Rin," bujuk Jungwon. "Nanti makanannya keburu dingin."

"Aku ... lagi diet, Won," jawab Ahrin lesu.

'Diet apanya?' rutuk Jungwon dalam hati.

Jungwon menghela napas. Ia bangkit, lalu pindah agar bisa duduk di dekat Ahrin. "Saya suapin aja ya? Gak habis gapapa, tapi perut kamu harus diisi sedikit."

"Nggak mau," tolak Ahrin.

Seakan tak mendengar penolakan, Jungwon menyumpitkan nasi dan menambahkan potongan daging di atasnya. Tangan kanannya terangkat. Siap untuk menyuapkannya ke mulut Ahrin. Tangan kirinya juga terangkat di bawah dagu Ahrin, mengantisipasi nasi yang tumpah.

Ahrin menggeleng. "Kamu nggak perlu nyuapin aku. Aku dah gede. Gak perlu disuapin."

"Saya tau," jawab Jungwon. "Tapi, saya mau nyuapin kamu. Ayo, makan."

Akhirnya Ahrin mengalah. Ia membiarkan Jungwon menyuapinya. Meski tak merasa lapar, Ahrin menerima suapan nasi tersebut. Enak. Setelah ia telan, Ahrin menerima suapan lagi dari Jungwon. Sesekali bersikap manja tidak apa-apa 'kan?

Jungwon hendak menyuapkan sesendok makanan lagi ketika tangan Ahrin terulur, menggenggam tangan Jungwon. Ia terdiam, mata keduanya saling bertemu. Terkunci satu sama lain. Jungwon melihat sesuatu dalam tatapan Ahrin—kesedihan dan kerapuhan.

"Aku ingin pergi ke suatu tempat," ucap Ahrin pelan. "Kamu mau ikut?"

Jungwon sama sekali tidak ragu. "Sebut saja di mana. Saya akan ikut kemanapun kamu pergi."

Ahrin mengangguk pelan. "Aku siap-siap dulu."

"Kamu selesaikan makan dulu," tarik Jungwon. Lalu, lanjut menyuapkannya makan. Sekarang job desk Jungwon bertambah menjadi babysitter, huh?

Setelah selesai makan. Ahrin bersiap. Lantas keduanya masuk dalam mobil. Duduk bersebelahan di bangku belakang. Mobil yang melaju itu dikendarai oleh supir Ahrin.

Sepanjang perjalanan, Jungwon sama sekali tidak bertanya pada Ahrin mau pergi ke mana. Selama bersama Ahrin, pergi ke manapun tidak masalah baginya.

———

Dear DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang