Chapter 10

201 42 12
                                        

Chapter 10: "Rainy Day"────── ⪩·⪨ ──────

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chapter 10: "Rainy Day"
────── ⪩·⪨ ──────

Langit mendung. Warna biru langit berubah menjadi abu-abu gelap. Awan gelap menutup seisi kota. Kuatnya embusan angin seakan memperingati orang-orang bahwa sebentar lagi akan turun hujan.

Ahrin menggenggam tasnya erat. Ia dan Jungwon berteduh sejenak di sebuah minimarket dekat sekolah. Matanya menatap rintik hujan yang menghantam tanah.

Mungkin bagi orang lain hujan bersifat menenangkan, namun bagi dirinya, hujan adalah pengingat bagaimana ia kehilangan ibunya. Ini adalah hujan yang sama yang telah merebut ibunya.

Ahrin teringat soal alasan mengapa Jungwon mau jadi bodyguard-nya. Alasannya demi membayar biaya rumah sakit ibunya Jungwon. Perlahan hati Ahrin yang semula skeptis berubah menjadi luluh. Untuk Ahrin yang telah kehilangan sang ibu, tentu saja Jungwon akan melakukan segala cara agar bisa menyelamatkan ibunya sendiri, termasuk menerima tawaran menjadi bodyguard.

"Jungwon, kondisi Ibu kamu gimana?" tanya Ahrin, memecah kesunyian di antara keduanya.

Jungwon tampaknya tidak mengantisipasi pertanyaan itu dari mulut Ahrin, namun ia tetap menjawab.

"Masih di rumah sakit."

"Ibu kamu sakit apa?" tanya Ahrin.

"Dia sakit leukimia, Rin," jawab Jungwon.

Ahrin kehilangan kata-katanya. "Aku turut prihatin, Won," ucapnya pelan. Ia melanjutkan, "Udah berapa lama?"

"Empat bulan, Rin. Dokter bilang butuh kemoterapi intensif, baru tiga hari yang lalu kemoterapi."

Semakin Ahrin pikirkan, konyol rasanya jika ia harus memecat Jungwon hanya karena Gyuvin cemburu padanya. Ia semakin tidak tega untuk memecat Jungwon. Biaya kemoterapi pasti mahal. Belum tentu keluarga Jungwon bisa membayarnya.

"Kamu pasti khawatir sama kondisi ibu kamu," gumam Ahrin.

Seketika Jungwon teringat saat Ahrin yang tidur dan mengigau memanggil 'Mama'. Jungwon juga ingat bagaimana foto keluarga di rumah Ahrin tidak ada sosok ibu kandung Ahrin. Jungwon berusaha menebak-nebak apa yang terjadi, namun ia tidak ingin tebakannya benar.

Seakan membaca isi pikiran Jungwon, Ahrin berkata, "Mama aku meninggal. Semuanya salah aku,"

Ahrin termenung menatap hujan deras. Meski terlahir kaya raya, uang sebanyak apapun tidak bisa menukar ataupun membeli nyawa ibunya.

Jungwon menelan salivanya. Baru kali ini ia melihat raut Ahrin sesedih ini.

Semakin mengenal Ahrin, persepsi Jungwon terhadapnya semakin bergeser. Jungwon pikir Ahrin adalah cewek manja yang tidak punya sopan santun dan suka bertindak seenaknya. Lagi pula gadis itu punya privilege. Ia bisa melakukan apa saja tanpa memikirkan uang.

Namun nyatanya, di mata Jungwon saat ini Ahrin tampak seperti gadis yang rapuh. Gadis yang menimpakan segala kesalahan pada dirinya sendiri.

"Mungkin Papa jarang pulang karena muak ngeliat aku yang masih hidup," gumam Ahrin sambil tersenyum miris.

"Itu nggak benar," balas Jungwon.

"Buktinya dia sampai repot-repot nyuruh orang lain buat jaga anaknya, artinya dia udah nggak mau ngejaga aku kan?" Mata Ahrin berkilat marah.

Ekspresi Jungwon melembut. "Justru karena dia sayang kamu makanya dia mempekerjakan saya. Ayah kamu punya caranya sendiri untuk menunjukkan kalau dia sayang sama kamu, Ahrin."

Ahrin tidak suka bagaimana Jungwon menatapnya. Sekarang Ahrin paham mengapa Gyuvin menyuruhnya menjauh dari Jungwon. Bersama dengan Jungwon memunculkan perasaan-perasaan yang biasanya timbul saat ia bersama Gyuvin.

"Kamu terlalu keras sama diri kamu sendiri. Mau sebesar apapun rasa bersalah kamu, tetap nggak mengubah fakta kalau Ibu kamu meninggal," ucap Jungwon lembut.

"Won—"

Jungwon memegang dua bahunya. "Saya yakin, Mama kamu pasti bahagia ngelihat kamu bisa hidup dan sehat sampai sekarang."

Ahrin terlena akan ucapan Jungwon. Rintik hujan sudah tidak sederas sebelumnya. Rasanya rintik hujan jatuh secara lambat. Dan di waktu yang bersamaan, mobil jemputan Ahrin telah datang.

"A-ayo pulang, Won." Ahrin segera membuang muka.

Keduanya menerobos hujan, kemudian langsung masuk ke dalam mobil hitam jemputan Ahrin. Keduanya memasang seat belt. Tak lama kemudian, ponsel Jungwon tiba-tiba berdering.

Jungwon mengangkat telepon yang masuk. Raut wajahnya berubah serius. Ahrin tidak bisa mendengar sama sekali ucapan penelepon, namun melihat wajah Jungwon, itu bukanlah sesuatu yang bagus. Setelah menutup telepon, Jungwon memandang Ahrin.

"Kondisi Ibu memburuk," ucap Jungwon berusaha tenang. Ahrin melihat ekspresi cemas Jungwon untuk beberapa detik. Ahrin yakin, jika ia tidak memperhatikan, ekpresi itu luput dari matanya.

"Ahrin, saya izin turun di sini, ya? Saya mau ke rumah sakit—"

"Ehhhh, nggak lah. Kasih tau aku rumah sakitnya di mana, biar sekalian diantar."

"Tapi—"

Ahrin menggeleng. "Aku nggak segila itu nurunin kamu di jalan pas hujan deras gini, Won. Ayo cepet kasih tau rumah sakit apa."

Jungwon merasa tak enak. "Tapi saya cuma bodyguard kamu, saya nggak berhak—"

Ahrin mulai kehilangan kesabarannya. "Terus kenapa kalo kamu cuma bodyguard aku? Ini basic human decency, Won. Yakali aku nurunin kamu tengah jalan dan hujan-hujanan gini."

Melihat Ahrin yang ngotot dan keras kepala, akhirnya Jungwon mengalah. "Rumah Sakit Seoul, Rin."

Ahrin menepuk bahu supirnya, "Pak, langsung ke Rumah Sakit Seoul, ya."

Mobil hitam yang ditumpangi keduanya melesat menembus hujan. Menuju Rumah Sakit Seoul. Dalam tas Ahrin, ponselnya memunculkan notifikasi pesan dari Gyuvin.

Gyu💖
Ahrin
Ada sesuatu yang pengen aku omongin
Kita omongin pas birthday party aku malam ini ya?
Jangan lupa datang oke?

——♡——
To be continued

n/a:
Siapa yang nyebarin rumor gak bener tentang uwon dan jay???!?!? Biar aku acak-acak mukanya 👹‼️‼️

Makasihhh buanyaakkkk udah mengapresiasi cerita ini, baik itu nge-vote, comment, dan masuk dalam reading list. Maaf belum bisa balas komentar satu per satu. Rasanya mau aku bawain Jungwon buat masing-masing reader—eh 😁...

Dear DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang