Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 18: "The Look of Love" ────── ⪩·⪨ ──────
Ahrin benci kesunyian yang ada di rumahnya.
Terkadang telinganya menangkap suara-suara familier. Seperti suara ibu yang memanggil namanya, atau langkah kaki ayahnya, atau tawa tantenya. Yang Ahrin sadari semua itu hanyalah imajinasinya.
Perasaan sedih di hatinya kian menggumpal saat melihat-lihat kembali isi galeri ponselnya. Dulu keluarga kecilnya bahagia. Sekalipun ayahnya sibuk bekerja, ia masih mempunyai ibunya. Ibunya lah yang menemaninya bermain dan mengajarkan banyak hal.
Namun, satu kecerobohan—kesalahan fatal yang menimpanya menghilangkan nyawa sang ibu. Sejak saat itu, ayahnya semakin sering menghilang. Tak pernah memunculkan batang hidungnya di rumah.
Jangankan pulang ke rumah, menelepon saja tidak pernah. Memberi kabar sekadar lewat pesan juga tidak pernah. Percuma saja punya ponsel mahal-mahal tetapi tak pernah menghubungi anaknya, pikir Ahrin.
Yah, setidaknya sang ayah rutin mengirimkan uang bulanan.
Ahrin menggulir foto yang ada di galeri ponselnya. Muncul fotonya saat masih berpacaran dengan Gyuvin. Di dalam fotonya, Gyuvin merangkul pinggangnya. Keduanya tersenyum lebar, tampak bahagia selayaknya pasangan yang sedang kasmaran.
Gyuvin lah orang yang dulunya sempat menempati ruang kosong di hati Ahrin. Gyuvin yang selalu menemani Ahrin. Gyuvin yang selalu excited dan memberikan kasih sayang yang Ahrin butuhkan. Kini semua itu hilang. Hati Ahrin sakit mengingat betapa manisnya perlakuan sang mantan.
Kamarnya yang luas itu mulai terasa sesak. Sesak yang menghimpit dadanya. Lantas, Ahrin terbangun dari rebahnya untuk mencari udara segar.
Keluar dari rumah, Ahrin mengeratkan jaket hitamnya. Angin dingin malam menerpa tubuhnya. Ia terus melangkah menuju supermarket terdekat. Sembari berjalan, Ahrin menatap langit malam yang dipenuhi lautan bintang.
Adakah ibunya di atas sana? Mengawasi hidupnya dari langit?
Apapun itu, sekarang Ahrin tidak ingin terlalu berlarut dalam kesedihannya. Ia butuh sedikit jalan untuk menyegarkan pikirannya.
"Cewek, sendirian doang?"
Langkah Ahrin terhenti seketika. Tepat di sampingnya ada seorang lelaki dewasa yang terkesan menyeramkan. Tipikal yang paling sering ditemui di bar karena mabuk-mabukan, lalu diusir karena membuat keributan. Kulitnya agak gelap, akibat sering terbakar sinar matahari. Raut wajahnya sangar dan garang.
Tubuh Ahrin meremang. Bulu kuduknya berdiri. Insting menyuruhnya berlari, namun belum sempat sarafnya memerintahkan otaknya untuk kabur, tangannya sudah ditarik oleh pria itu. Genggamannya begitu kuat, menahan si gadis untuk pergi.