Chapter 16

153 37 5
                                        

Chapter 16: "Perfect Life"────── ⪩·⪨ ──────

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chapter 16: "Perfect Life"
────── ⪩·⪨ ──────

"R-rin? Lo kenapa liat hape gue?!"

Leeseo merebut ponselnya dari genggaman Ahrin. Ia buru-buru menyembunyikannya di dalam saku celana olahraga. Wajahnya tampak panik.

"Lo salah paham, Rin. Ini nggak seperti yang lo kira—"

"Salah paham?" tanya Ahrin sarkas. "Lo kirim foto gue sama Jungwon ke Gyuvin. Lo sabotase hubungan gue sama dia dengan bilang kalau gue selingkuh sama Jungwon, dan sekarang gue salah paham?"

Leeseo menelan salivanya. Pandangannya menghindari kontak mata Ahrin. "Gue nggak bermaksud, Rin... Gue cuma..."

"Cuma apa?" Ahrin mendesaknya. "Cuma mau jadi temen curhat Gyuvin? Atau mau nikung?"

Leeseo menggigit bibirnya. "Rin, lo nggak ngerti. Gue cuma mau bantu Gyuvin. Dia sedih banget waktu liat lo sama Jungwon..."

"Lo mau bantu dia?" Ahrin memotong dengan nada tinggi. "Bantu Gyuvin dengan cara menghancurkan hubungan gue sama dia?"

Ruangan ganti yang tadi penuh candaan mendadak sunyi. Beberapa murid perempuan mulai menyaksikan, tapi tak ada yang berani ikut campur.

"Gue nggak nyangka bakal sejauh ini!" Leeseo berusaha membela dirinya.

"Leeseo, gue udah anggap lo temen gue. Gue percaya sama lo," lanjut Ahrin.

Bohong, suara lain dalam hatinya menginterupsi. Suara itu kembali mengusiknya, selama ini lo juga rela dimanfaatkan oleh orang lain supaya lo nggak merasa sendirian, iya, kan, Rin?

Ahrin mengabaikan suara itu. Ahrin bertanya, "Kenapa lo lakuin hal ini ke gue, Leeseo?"

"Karena gue udah suka sama Gyuvin dari lama! Jauh dari lo belum kenal Gyuvin, Rin!" balas Leeseo bernada tinggi. Air matanya jatuh menetes.

Ahrin terdiam. Seisi ruangan menjadi sunyi. Para murid perempuan saling berpandangan dan diam, seakan mereka tengah menyaksikan drama.

"Gue udah suka sama Gyuvin dari SMP, Rin! SMP kelas satu! Sedangkan lo baru kenal dan pacaran sama Gyuvin kelas dua!"

Suara Leeseo serak menahan tangis, "Tentu saja dia bakal milih lo, Rin! Semua orang selalu memilih lo. Lo punya segalanya. Kecantikan, uang, dan hidup lo sempurna!"

"Sempurna?" Ahrin menggertakkan gigi. Dadanya sesak oleh ungkapan Leeseo. Perasaannya campur aduk antara kemarahan dan sakit hati. "Lo pikir hidup gue sempurna?"

"Iya! Kita semua tau lo punya segalanya. Sekalipun lo gak ngapa-ngapain, semuanya udah ada di genggaman lo, Rin. Lo juga dapatin Gyuvin tanpa melakukan hal yang banyak!" seru Leeseo.

Ahrin mengepalkan tangan. Ia menahan diri agar tidak menampar Leeseo. Gadis itu tidak tahu apa-apa soal kehidupannya, dan tidak sepantasnya Ahrin mengadu nasib dengan Leeseo. Rasanya terlalu kekanak-kanakan.

"Lo bener, Leeseo. Gue punya segalanya." Sarkas Ahrin, "Termasuk orang-orang yang gak tulus dan datang buat manfaatin gue. Lo pikir gue nggak tau kalau selama ini lo cuma manfaatin gue?"

Wajah Leeseo seketika memucat. Perasaan malu menggerogoti hatinya. Ia mendadak teringat berapa banyak barang dan makanan yang ia minta belikan oleh Ahrin. Semuanya terjadi karena ia menganggap Ahrin sebagai dompet pribadinya, sekaligus saingan dalam mendapatkan Gyuvin.

Rei dan Seowon menarik Ahrin. "Udah, Rin. Sabar."

Ahrin melepas tangan Rei dan Seowon. "Kalian juga sama!"

"Kalian pikir gue nggak sadar kalau selama ini kalian cuma manfaatin gue? Gue tau kok. Tau banget malah. Tapi gue berharap kalian bisa berubah, dan ternyata harapan gue terlalu tinggi."

Air mata Ahrin menetes.

Ahrin tidak biasanya marah. Apalagi mengkonfrontasi orang-orang yang telah menyakitinya. Ia cenderung memendam rasa sakitnya, seakan-akan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Seakan-akan apa yang orang lain perbuat tidak menyakitinya. Karena lebih mudah begitu. Namun, justru itulah orang lain semakin bersikap seenaknya.

Satu kesalahan Leeseo menjadi gong terakhir bagi Ahrin yang memendam perasaannya. Semua permasalahan yang menumpuk kini tumpah.

Wonyoung segera datang untuk menengahi perdebatan yang terjadi.

"Ke lapangan sekarang!" seru Wonyoung, memerintahkan semua cewek untuk pergi.

Satu per satu murid melenggang pergi. Rei dan Seowon menarik Leeseo pergi. Ahrin bisa melihat raut kesal bercampur penyesalan dari wajah mereka.

Tersisa Wonyoung dan Ahrin di ruangan. Wonyoung menatap Ahrin kasihan. Ia merogoh sesuatu dari sakunya, memberikan Ahrin sebuah sapu tangan. 

"Nih ambil."

Ahrin menerima sapu tangan itu ragu-ragu. Wonyoung langsung meletakkannya di tangan Ahrin. Kemudian, Wonyoung tersenyum tipis. Gadis cantik bertubuh jangkung itu menghela napas, lalu berkata.

"Hapus air mata lo. Lo gak mau bikin bodyguard lo itu khawatir, kan?"

——♡——
To be continued


n/a:
Haii!! Apa kabar?
Akhirnya kita udah sampai di pertengahan cerita Dear Diary 🥹💗 (can't wait to finish this asap). Karena sebentar lagi masuk kuliah, aku jadi terhalang untuk konsisten nulis. But I will try my best untuk update secepatnya.

Kira-kira Wonyoung tau dari mana ya kalau Jungwon adalah bodyguard Ahrin? 🤔

Perkembangan konflik ke depan adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu, karena bakal banyak adegan manis-manis Jungwon dan Ahrin. Adegan manis a.k.a fluff dan hurt/comfort itulah alasan mengapa cerita ini ada 🥹🙏

Mohon bersabar yaaa jika aku slow update. Terima kasih atas dukungan kalian semua 🙌
Votements yang kalian berikan jadi semangat aku buat terus menulis.

Sampai jumpa di chapter berikutnya! (and also new arc I guess?)

Dear DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang