Chapter 23

79 22 0
                                        

Chapter 23: "Hold the Same Pain"────── ⪩·⪨ ──────

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chapter 23: "Hold the Same Pain"
────── ⪩·⪨ ──────

"Ahrin, gawat! Papa kamu!"

Ahrin yang tengah bermain Stardew Valley di ponselnya mendongak saat mendengar suara terburu-buru. Menatap bibinya dengan alis mengernyit. Sepanjang hidupnya, belum pernah ia melihat wanita itu sepanik ini.

Bibi Ahrin berjalan panik. Tangannya gemetar meraih remote TV. Dalam sekejap layar televisi menyala. Layar televisi menampilkan berita siaran langsung dari depan sebuah gedung bertingkat tinggi. Para reporter berkerumun di depan gedung tersebut.

Jantung Ahrin mencelus.

"I-itu ... gedung firma arsitek Papa." Ahrin menggumam pelan.

Nama perusahaan ayahnya terpampang jelas di layar. Para jurnalis berdiri berkerumun di depan gedung, menuntut klarifikasi. Desakan dan suara gaduh mengisi siaran. Tertulis di headline news mengenai kasus korupsi dua puluh milyar dalam sebuah proyek.

Ahrin membatin. 'Papa korupsi? Nggak mungkin.'

Papa bukan orang yang seperti itu. Ayah yang Ahrin kenal bukan orang yang gelap mata saat melihat jumlah uang yang besar, walau semua orang bisa tergiur, tetapi jika ayahnya yang melakukan korupsi bukankah seharusnya sudah sedari awal ayahnya melakukan itu?

Ayahnya sudah pernah menangani proyek berskala urban—jauh lebih besar dengan dana mencapai triliunan, tetapi mengapa... ayahnya berubah?

Ahrin berusaha memproses semua informasi ini. Kemudian tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi. Bibinya bergegas keluar rumah, melihat tamu yang datang.

"Ahrin."

Suara yang memanggilnya terdengar amat familiar di telinganya. Meski jarang ia dengar, tetapi Ahrin tidak mungkin lupa suara itu.

"Papa?"

Ahrin mengingat-ingat kapan terakhir kali ia bertemu sang ayah. Satu tahun? Dua tahun? Ah iya, Ahrin ingat terakhir kali ia bertemu ayahnya saat upacara kelulusan SMP. Itupun hanya datang sebentar. Habis itu ayahnya kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Sudah begitu lama, dan begitu asing pria paruh baya di ambang pintu itu. Ahrin baru sadar wajah ayahnya sekarang terdapat garis-garis keriput.

"Kemasi barangmu."

Ahrin menekuk alis bingung. "Setelah sekian lama Papa ga pulang, sekarang Papa minta kemasi barang?"

"Kamu pergi sama Auntie."

"Pergi? Kenapa Ahrin harus pergi? Papa mau ngusir Ahrin?" seru Ahrin marah.

"Papa minta maaf."

"H-hah?" Ahrin terkejut. Kata maaf begitu asing di telinga Ahrin, terutama dari bibir ayahnya.

Dear DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang