Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 24: "Dear Diary" ────── ⪩·⪨ ──────
Senin, 8 Februari 1999.
Dear Diary,
Hari ini aku jatuh cinta.
Semuanya terjadi begitu saja.
Sekarang sedang musim semi, bunga sakura bermekaran indah di sepanjang jalan. Angin berembus membawa kelopak bunga sakura. Rasanya sejuk dan nyaman.
Aku bersama teman-temanku segera pulang kampus demi bisa menonton bunga sakura. Bagi mahasiswa seperti kami yang sumpek dengan tugas, kami sangat butuh jalan-jalan.
Seperti biasa, Dokyeom selalu saja terlambat.
"Ayo, cepat! Nanti keburu ramai," seru Jeonghan.
Joshua mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari teman kami yang satunya lagi. "Dokyeom masih belum datang. Coba hubungi pager dia."
Aku langsung mengirimkan pager pada Dokyeom. Menekan angka 8282, lalu mengirimnya.
(*8282 dibaca palli-palli, artinya cepat)
Tak lama kemudian, ada balasan pager dari Dokyeom. 737—dibaca wasseo, yang berarti sudah sampai. Aku merutuk. "Wah, lihat si brengsek ini, dia sudah pergi duluan."
"Dokyeom sudah pergi?" tanya Jeonghan.
"Ya, dia bilang sudah sampai."
"Kurang ajar anak itu. Nanti kuberi dia pelajaran."
Kami bertiga segera pergi menuju tempat pertemuan. Taman yang letaknya cukup dekat dari kampus. Sambil berjalan kaki menuju taman, aku menahan kesal. Padahal kami menunggu Dokyeom, tetapi justru dia pergi duluan tanpa mengabari kami. Lihat saja, jika bertemu dia, aku akan memukulnya.
Begitu kami sampai, perasaan kesalku kian meningkat saat melihat Dokyeom berbicara dengan seorang wanita cantik. Pantas saja dia pergi duluan. Mau bermesraan ternyata.
Jeonghan langsung merangkul Dokyeom. "Wah lihat ini. Pergi meninggalkan kita demi cewek."
Baik Dokyeom atau perempuan itu tampak bingung. "Eh? Nggak. Cewek ini lagi nanyain arah."
"Ya, aku sedang bertanya ke mana arah ke stasiun Seoul."
Kami mendadak terlihat seperti orang tolol. Terutama aku. Kemarahanku pada Dokyeom langsung sirna melihat kecantikan gadis ini. Seolah-olah kemampuan bicaraku dicuri oleh kecantikannya.
"Aku tahu arah ke stasiun Seoul. Biar aku antar," ucapku tanpa sadar.