Chapter 15

190 39 5
                                        

Chapter 15: "Rumor"────── ⪩·⪨ ──────

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chapter 15: "Rumor"
────── ⪩·⪨ ──────

Pagi ini Ahrin ingin menaiki bus menuju sekolahnya.

Hal itu merupakan hal baru bagi Ahrin yang notabenenya selalu pergi ke sekolah diantar-jemput oleh supir pribadinya. Untuk hari ini, Ahrin ingin melakukan hal baru.

Pagi ini terasa sepi tanpa satupun pesan dari Gyuvin. Biasanya Gyuvin sering mengabari Ahrin, entah rencananya dalam satu hari penuh atau memberi kata-kata penyemangat. Hari ini ponselnya benar-benar sepi. 

Ahrin dan Jungwon berangkat ke sekolah bersama-sama. Tapi, kali ini keduanya menaiki bus selayaknya siswa pada umumnya.

Untung ada Jungwon yang menemaninya. Dengan adanya Jungwon, supir pribadinya tak punya alasan untuk menolak permintaan Ahrin. Lagi pula, keselamatan Ahrin sudah pasti terjamin jika bersama Jungwon. Apalagi pemuda itu menyandang sabuk hitam taekwondo.

"Won, mulai sekarang berhenti berjalan di belakangku," ujar Ahrin menarik tangan Jungwon. "Mulai sekarang berjalan lah di sebelahku, okay?"

"Tapi—" aku cuma bodyguard.

"Nggak ada tapi-tapian!! Rasanya aneh tau. Nanti orang-orang pada ngira kamu penguntit atau kriminal gimana?"

Jungwon menghela napasnya. Menyerah atas ucapan Ahrin.

"Baiklah."

Di dalam bus, Ahrin duduk di salah satu kursi. Sedangkan Jungwon berdiri, tangannya menggenggam pegangan pada bus.

Tanpa keduanya ketahui, seseorang telah mengintai Ahrin. Matanya memperhatikan barang-barang branded yang menempel di tubuh Ahrin. Lantas, ia menyusun sebuah rencana jahat.

———

Sampai di sekolah, Ahrin dan Jungwon berjalan menuju kelas. Ahrin bisa merasakan semua pasang mata menatap ke arahnya. Sepanjang koridor, mereka berbisik. Cukup kuat hingga Ahrin mendengarnya.

"Katanya dia baru putus dari Gyuvin."

"Selingkuh gak sih dia?"

"Tuh liat, dia gak ada malunya ya selingkuh terang-terangan gitu! Kasian deh Gyuvin."

Ahrin berusaha mengabaikan tatapan tajam dan bisikan mereka. Meski hatinya sangat sakit mendengar orang-orang berasumsi soal urusan percintaannya. Selain Gyuvin, kini semua orang juga menuduhnya selingkuh. Ayolah, itu kan bukan urusan mereka, kenapa mereka harus menuduh yang tidak-tidak tanpa mencari tahu kebenarannya?

Tetapi, jika dipikir-pikir, Ahrin paham mengapa orang-orang berasumsi demikian. Lagi pula Ahrin merasa dirinya sudah melakukan hal yang benar dengan memilih Jungwon. Berkali-kali Ahrin mengatakan pada dirinya sendiri bahwa lebih baik seperti ini, ketimbang memecat Jungwon. Jadi, Ahrin memilih untuk pura-pura tuli dan masa bodoh atas perkataan orang lain.

Dear DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang