Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chapter 11: "Priority" ────── ⪩·⪨ ──────
Tetesan hujan mendera jendela ruangan tempat Ibu Jungwon dirawat. Ahrin berdiri di ambang pintu, ragu antara masuk ke dalam ruangan atau menunggu di koridor. Ibu Jungwon terbaring di ranjang, tubuhnya tampak lemah dan wajahnya cantiknya terlihat pucat. Mata lelahnya melihat Ahrin.
"Kamu pasti Ahrin. Ayo masuk."
Ahrin mengangguk, kemudian menutup pintu. Di satu sisi, Ahrin bisa melihat betapa cemasnya Jungwon. Tangannya terkepal hingga buku-buku tangannya memutih dan kaki yang tidak henti-hentinya menghentak lantai pelan, berlawanan dengan usahanya untuk terlihat tenang.
Tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan dokter berjas putih dan stetoskop yang mengalungi lehernya. Lantas dokter bertanya, "Siapa wali dari pasien?"
"Saya, Dok."
"Bisa keluar sebentar? Saya mau berbicara sama kamu."
Jungwon menurut, kemudian keluar untuk bertemu dokter.
Tepat setelah Jungwon keluar dari ruangan, suasana canggung melingkupi Ahrin dan Ibunya Jungwon.
"Ahrin, yuk duduk sini." Ibu Jungwon menepuk kursi di sebelah ranjangnya.
"Maaf, Tan, datang ke sini nggak bawa apa-apa," ujar Ahrin berusaha mencairkan suasana.
Ibunya menggeleng dan tersenyum. "Justru Tante mau terima kasih sama kamu karena udah mampir. Tante juga mau terima kasih udah menjaga Jungwon. Pasti selama ini dia ngerepotin kamu."
Ahrin tertawa pelan. "Sama sekali nggak loh Tan. Malahan selama ini saya yang suka ngerepotin Jungwon," ucap Ahrin, lalu duduk di kursi dekat kasur.
"Oh ya?"
Ahrin mengangguk. Kemudian Ahrin menceritakan bagaimana Jungwon selama ini selalu menjaganya, bahkan pernah menolongnya saat hampir tenggelam. Hal terkecil seperti permainan dodge ball pun sampai dijaga. Semakin Ahrin ingat-ingat, Jungwon selalu menjaganya kapanpun dan di manapun. Semua momen tersebut membuat hatinya hangat.
Sepanjang cerita, raut cerita Ibu Jungwon tampak ceria dan antusias. Barangkali jika Ahrin tidak tahu menahu soal penyakitnya, ia pasti mengira wanita paruh baya di depannya sehat.
"Jungwon juga sering cerita tentang kamu."
"Dia sering cerita?" Ahrin mengerjap-ngerjapkan mata. Tak menyangka jika seorang Jungwon bisa menceritakan dirinya kepada sang ibu.
"Jungwon suka cerita apa, Tan?" tanya Ahrin penasaran.
"Jungwon cerita kalau kamu anaknya keras kepala."
Senyum Ahrin memudar. Begitu kah Jungwon melihatnya? Keras kepala? Ahrin memaksakan senyumnya.