30-CEGILNYA DIRGA

12 2 0
                                        

Selamat menikmati kisah para pemuda penghuni lantai 2 kos 20. Semoga kalian bisa terhibur dan tidak merasa sendiri di dunia ini<3

Now Playing
Risalah Hati—Dewa 19

D

inding rumah sakit lebih banyak mendengar doa tulus dibandingkan rumah ibadah, dan bandara lebih banyak melihat pelukan tulus dibanding acara pernikahan. 

Demikianlah yang terjadi saat keberangkatan Tihan menuju Belanda. Anak-anak lantai 2 yang mengedepankan gengsinya, jarang mengucapkan kalimat sayang, alih-alih kalimat sayang. Setiap hari mereka mengabsen nama-nama hewan di kebun binatang. Jarang saling memeluk dan memberikan sentuhan, sekarang sudah berbeda.

Sesekali mereka harus menghapus air matanya dengan kasar sambil memeluk tubuh Tihan. Mereka menurunkan gengsi, agar bisa merasakan kebersamaan itu untuk yang terakhir kalinya.

Tito, Tiana, Alin, Indira dan Hanin juga ikut mengantarkan Tihan ke bandara. 

"Perihal kejadian di waktu itu, maafkan kelancangan aku ya, kak," ucap Tihan kepada Alin, yang menatapnya berkaca-kaca.

"Iya, Han. Aku juga minta maaf. Kamu yang benar kuliahnya di sana, ya," balas Alin, tidak lagi memikirkan masalah yang kemarin. Ia tidak bisa marah lebih lama kepada Tihan, sebab ia sudah menganggap laki-laki itu adalah adiknya sendiri.

Tihan lalu menatap kakak pertama Hanin, Indira. "Aku pamit ya, kak. Maaf ya, kalau selama ini sikap aku selalu bikin kakak naik darah. Nanti udah gak ada lagi yang akan gangguin kakak. Tapi jangan sering marah-marah, ya. Udah tua, nanti tambah kelihatan tua."

"Yeuh, si bambang. Udah mau pergi masih aja ngeselin," Indira menampar lengan Tihan kesal. "Tapi, enggak apa-apa, deh. Gua enggak bakalan marah kali ini."

"Lo yang bener di sana, Han. Bule Belanda emang bikin terpesona tapi produk lokal jauh lebih menggoda," ujar Indira menaik turunkan alisnya, membuat Tihan tertawa.

Beberapa kali ia harus menghela nafas panjang sebelum berbicara kepada Hanin. Sejauh ini setelah menerima banyak kenyataan pahit, entah mengapa ia tetap jatuh kepada sosok gadis ini. Gadis dengan wajah tenang serta tatapan teduhnya, tutur katanya yang lembut, senyum yang terukir di wajahnya, pola pikirnya, membuat ia tidak punya alasan untuk berpaling.

Andai diberi waktu lebih lama lagi, Tihan berjanji akan mempergunakannya sebaik mungkin. Tidak sebodoh dulu lagi yang hanya terus menunggu waktu yang tepat, tanpa sedikit pun berpikir bahwa masa juga punya batasnya.

"Nin, jaga diri baik-baik, ya! Semangat juga kuliahnya. Kalau aku balik, kita lakukan hal-hal yang menyenangkan seperti dulu lagi, ya. Jangan lupa jaga kesehatan," balas Tihan lalu mendekap erat tubuh gadis itu untuk yang terakhir kalinya.

Tolong, hentikan sejenak waktu ini. Tihan tidak ingin beranjak dari posisi ini. Peluk ini tetap berubah, tetap hangat dan mampu menenangkannya. Tapi sekarang, ada laki-laki lain yang juga turut serta merasakannya.

"Aku selalu menunggu kabar baik kamu, Han. Kamu juga yang baik-baik ya di sana, jangan lupa minum vitamin, dan paling penting jangan lupa ibadah," Tihan mengangguk lalu melepas pelukan tersebut.

Dan terakhir, yang sedari tadi terus menyembunyikan sedihnya, kini mendekap tubuh Tihan dengan erat serta dengan tangisannya. "Gua benci banget sama lo, Han. Lo katanya bakalan minta bantuan gua kalau kuliah, twibbon lo bakalan minta ke gua buat editin, tapi apa, bangsat? Lo ninggalin kita semua!" 

"Baru kali ini gua lihat lo nangisin gua, terus peluk gua dengan erat, bang," ucap Tihan tertawa kecil.

"Gak lucu, anjing!"

KOS 20Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang