37-CAN WE GO BACK?

10 1 0
                                        

Selamat menikmati kisah para pemuda penghuni lantai 2 kos 20. Semoga kalian bisa terhibur dan tidak merasa sendiri di dunia ini<3

Now playing :
Before you go-Lewis Capaldi

Eja mengambil sebuah kertas berukuran sedang dan tebal yang berada di atas meja. Membolak balikkannya, membuka, membaca sebuah informasi yang tertulis di sana. Sangat indah dan mungkin mahal bagi Eja yang memang mengerti sedikit ilmu percetakan. Senyumnya terukir indah melihat dua nama yang tertulis di sana. Kanaya Cessa Kenedy dan Christian Abraham.

"Aku pasti datang. Lumayan ketemu artis papan atas teman kamu, bisa foto sekalian," Eja tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.

"Aku minta maaf, Ja..."

Eja menghentikan ketawanya dan menatap heran Naya yang menunduk di hadapannya. Kesalahan apa yang gadis ini lakukan? Perasaan sedari tadi mereka duduk berdua tidak ada satu perlakuan Naya yang salah atau pun menyinggungnya. Tapi Eja cukup peka akan hal itu. Ini bukan tentang perilaku yang salah, ini tentang masa lalu mereka berdua.

Setelah hampir sepuluh tahun mereka berpisah dan menjadi sosok yang asing, akhirnya mereka kembali bertemu. Lebih tepatnya Naya yang mencari keberadaan Eja dan berhasil menemukan informasi tentang kehidupan Eja yang sekarang.

"Tidak apa-apa, Nay. Sudah jalannya seperti ini. Tidak baik rasanya jika terus berlarut-larut dalam penyesalan dan kesedihan di masa lalu. Aku sudah beranjak dari sana. Dan aku bisa berdamai bahwa memang tidak akan pernah ada kita di masa depan," tutur Eja dengan lembut.

Eja memperbaiki posisinya dengan baik dan menatap Naya. "Kita ikhlaskan yang dulu, ya. Kalau bisa, mari saling lupa. Cintai pasangan kamu melebihi waktu kamu mencintai aku. Tidak ada lagi yang perlu disalahkan. Semua sudah berjalan dengan seharusnya."

"Kamu akan baik-baik saja 'kan? Jangan berlarut-larut dalam sedih. Kamu juga harus bahagia dengan siapa pun nanti yang akan jadi pasangan kamu," ucap Naya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

"Pasti." Eja mengangguk.

"Jangan sedih, dong. Biasanya perempuan kalau mau nikah, itu satu minggu sebelum acara, bakalan perawatan, ke salon, belanja apa pun, bukan sedih kayak kamu. Entar cepat tua kalau nangis mulu," cerocos Eja yang mampu mengundang tawa Naya.

"Aku akan tetap cantik walaupun sering nangis," balas Naya dengan bangga dan penuh percaya diri.

"Wah, kalau ini sih sudah mutlak."

Naya hanya menanggapinya dengan kekehan kecil. Ia sangat tertarik melihat sekeliling gerai TBC milik Eja ini yang menurutnya sangat bagus. Warna cokelat yang mendominasi serta meja-meja yang tersusun rapi membuat ruangan di gerai ini terlihat nyaman.

Wajar saja jika gerai ini tidak pernah sepi akan pengunjung. Naya yang sibuk melihat sekeliling sementara Eja sibuk memandangi Naya.

Gadis ini sama sekali tidak berubah. Berada di dekatnya selalu membuatnya merasakan aura positif dan kenyamanan. Saat memandanginya, ia selalu merasa bahwa ia sedang memandangi dunianya. Rindu yang membuat dadanya sesak kini sudah terbayarkan. Melihatnya tertawa, melihatnya baik-baik saja, sehat, dan dengan semua pencapaiannya, itu sudah lebih dari cukup untuk Eja.

Perihal rasa sakit yang saat ini bersarang di dadanya, biarkan menjadi urusannya. Sekarang ia sudah melihat gadis kesayangannya sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Itu tandanya, tugas dalam membahagiakan gadis ini sebentar lagi akan benar-benar usai.

"EJA!"

Eja terkejut mendengar teriakan Naya dan seketika lamunannya menghilang begitu saja.

"Kenapa?" Tanya Eja dengan panik.

KOS 20Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang