Selamat menikmati kisah para pemuda penghuni lantai 2 kos 20. Semoga kalian bisa terhibur dan tidak merasa sendiri di dunia ini<3
Now playing
Kita Usahakan Rumah Itu-Sal Priadi
"Buset dah, tuh bocah satu kenapa lagi?" tanya Eros menunjuk ke arah Sadam menggunakan dagunya. Setelah menutup gerai TBC, anak-anak lantai dua kembali ke kamar masing-masing.
Tapi masih ada juga yang membelokkan diri menuju ruang tamu untuk beristirahat sejenak di sana, menikmati secangkir kopi, mengerjakan tugas dan juga sekedar mengobrol karena kantuk mereka belum datang.
Tapi Eros, Eja, Agum maupun Dirga dibuat heran dengan tingkah Sadam yang sangat aneh tiga hari belakangan ini. Lihat saja sekarang, posisinya sedang berbaring di sofa, namun kepalanya berada di lantai sementara kedua kakinya berada di atas sofa.
"Dari kemarin kak Kinan jarang balas chat bang Sadam," Eja memberitahu alasannya karena beberapa kali ia mendengar Sadam mendumel kesal menyebutkan nama gadis itu.
Ketiga laki-laki itu akhirnya mendekat ke arah Sadam. "Wahai abang ku yang paling ku banggakan, ada apa gerangan sih?" tanya Eja lalu ikut berbaring di sebelah Sadam.
"Kau kenapa lagi sih, Dam? Tidak capek pula kau itu galau terus?" tanya Agum juga, duduk di dekat Sadam.
"Karena Kinan lagi? Ada apa sih? Sabar, Dam, dia juga butuh waktu untuk terima lo. Dan soal chat lo yang jarang dibalas, coba positif thinking dulu. Siapa tau dia emang sibuk, wajar anak organisasi kalau slow respon," sahut Eros mencoba untuk menenangkan suasana hati Sadam.
Tapi sepertinya kalimat-kalimat Eros tidak bisa bekerja dengan baik, buktinya Sadam masih terus hanyut dalam lamunannya. Matanya terus mengarah ke atas langit-langit kamar, serta ponselnya yang tergeletak di atas dadanya.
"Kayaknya ada orang yang lebih dulu menyatakan perasaannya sama Kinan..." lirih Sadam.
Ketiga laki-laki yang ada di sebelahnya mengerutkan dahinya. "Maksud kau apa, Dam?" tanya Agum.
"Gak mungkin lah, bang—"
"Mungkin, Ja," sergah Sadam dengan cepat. "Sudah dua kali gua lihat Kinan diantar jemput sama cowok di kontrakannya. Mereka kelihatan dekat banget. Semenjak hari dimana Kinan mulai sibuk, kita udah jarang banget buat komunikasi."
Eros yang mendengarnya tertegun. Mungkinkah laki-laki yang Sadam maksud adalah laki-laki yang juga ia lihat di kantin duduk berdua dengan Kinan pada saat itu. Sampai sekarang Eros tidak berani untuk membuka suara akan hal itu. Semuanya ia tutup rapat-rapat.
"Kau tidak boleh menyimpulkan semuanya sendirian, Dam. Coba kau bicarakan ini baik-baik dengan Kinan, tanyakan, dan pikirkan kalian berdua ini mau kedepannya mau seperti apa. Tak percaya kali aku kalau Kinan permainin perasaan mu," seru Agum memberikan saran.
"Betul itu, bang. Nih ya, walaupun kita semua baru kenal sama kak Kinan, kita yakin kok, kak Kinan itu orangnya baik banget, gak mungkin lah sampai jahatin lo bang," timpal Eja.
"Sepakat. Gak baik, Dam, kalau lo cuman ngandelin firasat lo doang, itu sama aja lo fitnah Kinan yang enggak-enggak." Hanya itu yang bisa Eros katakan.
Sederhana saja, Eros tidak mau menciptakan asumsi buruk di otak Sadam tentang Kinan, namun ia juga enggan untuk menumbuhkan harapan besar Sadam terhadap Kinan. Pada intinya, Eros tidak mau adiknya itu terlalu sakit nantinya.
****
Setelah pulang dari mengurus berkas-berkas, Alif duduk termenung di depan kamarnya sambil menatap kamar yang sudah lama tidak pernah hidup. Lampu kamar itu tidak pernah lagi menyala, tiada lagi suara yang bisa membuat tetangga sekitar kamarnya menggeram kesal. Penghuninya harus pergi mengejar cita-citanya di tempat yang jauh.
