34-JANGAN LUPAKAN HARI INI

7 2 0
                                        

Selamat menikmati kisah para pemuda penghuni lantai 2 kos 20. Semoga kalian bisa terhibur dan tidak merasa sendiri di dunia ini<3

Now playing :
Pejantan Tangguh-Sheila On 7

T

erkadang ku menyesal

Mengapa ku kenalkan dia padamu

Bila cinta tak lagi untukku

Bila hati tak lagi padaku

Mengapa harus dia yang merebut dirimu

Bugh!

Bantal guling mendarat sempurna di wajah Tihan yang asik bernyanyi diiringi dengan gitar milik Vino. Ia mendelik tajam kepada laki-laki itu, karena sudah mengganggu ketenangannya dalam bernyanyi.

"Apa, mau marah?!" Vino menatap nyalang Tihan membuat nyali Tihan menciut. Kalau seperti ini, Vino sudah seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya.

"Kata gua mending lo kerjain tugas dah, daripada nyanyi enggak jelas kayak begitu," marah Vino.

"Gua mah udah selesai kali," cebir Tihan, meletakkan gitar itu di sampingnya. Takut juga jika Vino mode singa dan tiba-tiba nekat melemparkannya vas bunga.

Tihan melipat kedua tangannya, menjadikannya sebagai tumpuan untuk kepalanya dan melempar pandangannya keluar jendela. Rintik gerimis sedang menari-nari indah di luar sana. Bulir-bulir air hujan turut membasahi jendela.

Hujan selalu menyimpan banyak cerita bagi penduduk bumi. Entah itu cerita menyenangkan maupun menyedihkan, hujan selalu menjadi latar dan saksi yang paling indah setiap part di kehidupan ini. 

Tak terkecuali bagi Tihan. Waktu masih di masa putih abu-abu, ia suka rela menawarkan jaketnya untuk Hanin. Halte bis yang menjadi tempat persinggahan untuk berteduh, dan Tihan akan menjadi peluk menenangkan saat gemuruh guntur yang membuat Hanin ketakutan.

Namun, semua ada masanya. Tihan tidak lagi berada di kesempatan itu. Posisinya tergantikan oleh seseorang yang mempunyai setidaknya sedikit hak dalam kehidupan Hanin. Dan itu bukan Tihan orangnya.

"Malah galau lagi lu, nyet," komentar Vino, tapi tak digubris oleh Tihan. Vino tak ambil pusing, lalu kembali mengerjakan tugasnya. 

Senyum dua insan yang baru saja memasuki area puncak tak pernah luntur sedikit pun. Entah itu karena pemandangan indah di depan mata mereka, atau karena ini pengalaman pertama mereka berkencan setelah memutuskan untuk menjalin kasih. Tapi satu yang pasti, Dirga dan Nala tidak ingin merusak momen malam ini.

"Suka, nggak?" tanya Dirga.

Mata Nala berbinar lalu mengangguk dengan semangat. "Aku baru tau loh, kalau ada tempat sekeren ini. Udaranya sejuk juga dan suasananya bikin tenang. Kamu tau dari mana kalau ada tempat ini?"

"Dulu diajak sama Deden kesini, bareng anak-anak kos juga," jawab Dirga. "Kalau kamu suka, kapan-kapan kita bisa ke sini lagi. Tapi harus sama aku, jangan yang lain."

"Kalau sama Megi boleh gak?"

"Ck, aku masih dendam ya, sama dia," Dirga berdecak sebal. Tentu saja ia tidak akan pernah melupakan bagaimana gadis itu memberikan informasi palsu tentang dirinya.

"Ih, masa gitu, sih. Dia kan juga enggak tau kalau ternyata itu mantan kamu," cerocos Nala.

"Iya, iya... Boleh. Tapi sama Megi aja, enggak usah yang lain. Apalagi sama cowok," tegas Dirga. 

Nala tidak mampu menahan dirinya untuk semakin melebarkan senyumnya. Ingin rasanya sekarang ia melompat-lompat, bagaikan ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.

KOS 20Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang