"Awsss" ringisan itu keluar dari mulut kecil Zayn ketika pecahan kaca itu tidak sengaja menggores telapak tangan kanannya. Ditambah tangannya yang masih dipenuhi busa membuat lukanya semakin perih. Namun ia belum bisa melihat lukanya seperti apa. Jantungnya juga sedikit berdegup dengan kencang karena terkejut.
"Ehh, aduhh maaf dek mbak kekencengan ya nepuknya ? Adek gapapa ?" Tanya perempuan cantik bernama Ananta itu. Ananta memang belum melihat luka di tangan Zayn karena Zayn masih membelakanginya. Ia adalah rekan kerja Zayn yang bertugas mencuci piring. Ia memang agak terlambat datang ke cafe karena ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan. Ketika ia sampai, Zayn sudah berdiri menghadap wastafel dan sudah Ananta pastikan anak itu sedang mengambil alih tugasnya.
"D-darah" lirih Zayn ketika melihat cairan berwarna merah mengucur dari telapak tangannya. Ananta bisa mendengarnya. Wanita itu segera membalikkan tubuh Zayn. Matanya membulat saat darah dari telapak tangan Zayn mengucur begitu saja.
"Ya ampun dek ! Tangan kamu luka ! Cuci dulu tangannya. Itu masih banyak sabun" Ananta benar benar panik. Suara hebohnya menarik atensi pekerja lainnya.
Ananta menarik tangan Zayn ke depan kran. Ia mengucurkan air di sana untuk membilas sabun dan membersihkan luka Zayn. Sementara Zayn sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia panik melihat darah yang lumayan banyak terus keluar dari telapak tangannya.
"Kenapa ta ? Kok rame rame gini" ucap Tian diiringi Raga di belakangnya.
Tiga orang ini adalah orang orang yang dekat dengan Zayn di cafe. Mereka menganggap Zayn sebagai adik mereka sendiri. Mereka berumur sekitar 20 sampai 23 tahunan. Dan Raga adalah yang tertua diantara mereka.
"Ini Zayn luka, kegores pecahan piring. Tolong ambilin kain bersih dong sama P3K" ujar Ananta.
Tian bergegas membawakan apa yang Ananta minta. Ananta bersyukur temannya datang sehingga ia bisa lebih cepat menangani Zayn.
"Stt jangan nangis. Adek tenang ya, gapapa kok, kak ata obatin dulu ya" ujar Ananta menenangkan.
Raga menarik kursi yang ada di dekatnya agar Zayn bisa duduk.
"Duduk" ujar Raga.
Zayn duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Raga. Raga membawa Zayn ke dalam pelukannya. Berusaha menenangkan anak itu agar tidak semakin panik. Raga menyembunyikan kepala Zayn di dadanya agar Zayn tidak terus melihat lukanya. Ia juga mengusap punggung Zayn agar lebih tenang.
Tian datang dengan barang yang diminta Ananta. Ia segera menyerahkannya pada Ananta "ini ta !"
Ananta meraih kain yang Tian ambil lalu menyimpannya di atas luka Zayn. Ananta menekan luka Zayn dan sedikit mengangkatnya agar pendarahan bisa berhenti. Sementara Tian bergegas membersihkan pecahan kaca yang ada di wastafel agar tidak melukai orang lagi. Ia juga melanjutkan pekerjaan Zayn yang sempat tertunda.
"Awshh sakit hiks. Jangan diteken !" Ujar Zayn lirih dengan nada kesalnya namun masih terdengar oleh mereka.
Tanpa mereka sadari tangan Zayn yang lainnya meremas pahanya dengan kuat. Dada Zayn berulah lagi tapi ia berusaha menahannya.
"Tahan sebentar ya, biar darahnya berhenti dulu" ujar Ananta memberi tahu maksudnya menekan luka Zayn.
Langkah yang Ananta ambil berhasil menghentikan pendarahan. Ananta tersenyum senang. Ia membuka kain itu lalu mengambil obat merah yang ada di P3K.
"Ke rumah sakit ya, lukanya lumayan besar dek"
"Enggak~"
"Tahan ya dek, mbak mau kasih obat dulu"
"Enggak ! Jangan ! Perih mbak. Jangan dikasih obat hiks" Zayn mulai memberontak saat mendengar Ananta akan memberikan obat di lukanya.
Zayn berusaha menarik tangannya. Namun Ananta menahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYN ; KELUARGA ?
Teen FictionFollow dulu sebelum baca yaww !! Penderitaan anak berumur 12 tahun yang hanya tau cara bekerja dan mencari uang. Hari harinya dihiasi dengan bentakan dan cacian. Belum lagi kekerasan yang harus ia terima. Membuatnya memiliki banyak trauma. Fisiknya...
