Zayn menyelesaikan makannya dengan cepat. Bukan karena lapar dan habis. Tapi karna ia cuma makan sedikit. Zayn beralasan sudah kenyang meskipun sebenarnya ia merasa mulutnya pahit dan mual jika di masuki terlalu banyak makanan.
Kenzie juga tidak akan memaksa adiknya. Yang terpenting ada makanan yang masuk.
Aiden mengambil alih adiknya karena Kenzie akan beranjak untuk menyiapkan obat untuk Zayn.
Aiden sedikit terkejut saat merasakan suhu tubuh adiknya yang cukup panas. Ia juga melihat kerutan di dahi adiknya. Aiden mencoba membuat adiknya agar merasa lebih nyaman dengan memijat pelan dahi adiknya.
"Pusing hm ?" Tanya Aiden dengan lembut.
"Iya."
Zayn tidak banyak bicara, dadanya terasa menyempit. Membuatnya sedikit kesulitan bernafas.
Tak lama, Kenzie datang dengan beberapa obat di tangannya. Tidak banyak, hanya 3 butir karena Kenzie akan memberikan sisanya nanti melalui injeksi.
"Baby, minum dulu ya. Setelah itu baby istirahat oke."
Zayn meminum obat itu satu persatu dibantu Aiden dan Kenzie.
"Masih sesak ?" Tanya Aiden yang peka adiknya kesulitan bernafas.
"Emm, sedikit." Cicit Zayn.
Sean yang peka, bergegas mengambil oksigen portable yang biasa disimpan di sekitar ruang makan. Sementara itu, Aiden memeluk Zayn dengan lembut dan mengusap punggungnya agar adiknya merasa lebih nyaman.
Mereka semua sudah selesai dengan makanannya masing masing. Alister mendekati putra kecilnya yang ada di pangkuan Aiden
Sea segera kembali membawa masker oksigen dan memasangkannya ke wajah Zayn. "Baby, tarik napas perlahan. Ikuti perintah daddy, oke?" Alister memandu dengan nada penuh kelembutan.
Zayn mencoba mengikuti, meskipun sedikit kesulitan. Dengan sabar, Aiden mengusap kening Zayn yang berkeringat, sementara Kenzie memastikan alat bantu oksigen berfungsi dengan baik.
Revan, yang merasa tak banyak membantu, memutuskan untuk duduk di samping Zayn dan menggenggam tangannya yang kecil dan dingin itu. "Baby, dengarkan abang. Tidak perlu takut. Semua ada di sini untuk baby" katanya sambil mencium tangan Zayn.
"Aa-bang... Zayn takut." Zayn bergumam lirih, suaranya terdengar gemetar di balik masker oksigen.
"Stt... Tidak perlu takut. Daddy dan kakak-kakakmu tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu." Jawab Alister dengan tenang.
"Sekarang istirahat ya agar cepat pulih." Lanjut Alister sambil mengecup kedua pipi putra kecilnya.
"Malam ini biar Aiden yang menjaga baby." Ujar Aiden menawarkan diri. Ia sudah lama tidak banyak berinteraksi dengan adiknya karena kesibukannya di kantor.
"Adek sendiri juga gapapa kok." Lirih Zayn dengan mata sayunya.
Kejadian siang tadi memberi dampak yang besar dan membuatnya ketakutan. Tapi ia tidak mau menyusahkan keluarganya. Apalagi mereka harus mengesampingkan kesibukan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYN ; KELUARGA ?
Ficção AdolescenteFollow dulu sebelum baca yaww !! Penderitaan anak berumur 12 tahun yang hanya tau cara bekerja dan mencari uang. Hari harinya dihiasi dengan bentakan dan cacian. Belum lagi kekerasan yang harus ia terima. Membuatnya memiliki banyak trauma. Fisiknya...
