Pintu kamar terbuka keras.
Alister. Ia baru saja tiba dari kantor- ralat, dari markas mafianya. Jasnya belum sempat dilepas, dasinya longgar, wajahnya penuh kelelahan dan stres membuat siapa saja yang melihatnya tahu bahwa si empu sedang tidak baik baik saja. Dunia bisnisnya sedang dilanda masalah. Dunia bawah juga bergerak mencurigakan. Tapi semua itu lenyap saat ia melihat kondisi anak bungsunya.
"Sayang, ada apa ? Tadi baik baik saja hm ? Ar, baby kenapa ? Kita ke rumah sakit." Alister sangat panik. Ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Arnold mengangkat tangan, mencegah. "Jangan panik. Dia butuh oksigen penuh sekarang."
Alister bergegas ke sisi tempat tidur, menjatuhkan diri di lantai, menggenggam tangan Zayn yang meremas selimut lalu mengecupinya beberapa kali.
"Daddy di sini, tarik napas perlahan sayang, dengarkan Daddy." Suara Alister bergetar, tapi tetap lembut. Ia mencoba membantu Arnold untuk menenangkan putranya.
Jujur ia lelah. Setelah seharian membereskan kekacauan para cecunguk, ia tidak bisa tenang saat datang ke mansion ternyata bungsunya kembali drop.
Zayn menatap daddynya. Matanya sudah basah, tapi pandangannya mulai fokus. Ia berusaha mengikuti irama napas Alister. Perlahan, laju napasnya sedikit membaik.
Saturasi oksigen perlahan naik ke 91 lalu 93. Tapi tubuh Zayn masih gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh kulitnya. Matanya tetap berkaca-kaca.
Tiba-tiba, ia mencengkeram lengan Alister. "Dada Adek s-sakit, dad..."
Tombol darurat berbunyi lagi.
Sistem otomatis rumah memanggil seluruh anggota keluarga. Dalam beberapa menit, semua penghuni mansion muncul. Semua membelalak saat melihat Zayn dalam kondisi seperti itu.
Arnold menoleh ke Alister, suaranya tegas. "Dia butuh penanganan lebih lanjut. Harus dibawa ke ruang kesehatan mansion. Sekarang !"
Leonhart mengangguk. "Kita pindahkan perlahan. Jangan guncang tubuhnya terlalu banyak."
Zayn memeluk Alister lemah, tubuhnya nyaris tak bisa menopang dirinya sendiri.
"Daddy hhh jangan tinggalin Adek... sakit banget..." Suara itu terdengar begitu lirih, nyaris tak terdengar.
Alister mengelus pipi Zayn, mengecup keningnya yang basah. Matanya merah, tapi tetap mencoba untuk tenang di depan anaknya.
"Daddy disini sayang. Malam ini daddy akan menemanimu."
Mereka segera memindahkan Zayn ke ruangan khusus, diikuti langkah cemas seluruh keluarga Dareska.
Malam itu, jam istirahat mereka terpotong. Karena nyawa yang sangat mereka cintai sedang bertarung dalam diam.
***
Dengan lembut, Alister menggeser posisi Zayn agar lebih nyaman bersandar di dadanya. Napas bungsu kesayangan Dareska itu mulai tenang meski masih sesekali terdengar pendek. Tangannya yang kecil menggenggam erat baju Alister yang masih dengan setelan kantornya, seolah takut Alister hilang dari jangkauan.
Pukul 03.18 dini hari
Ruangan sudah sedikit lebih tenang. Arnold duduk di sisi ranjang, memeriksa ulang detak jantung Zayn dengan stetoskop. Di sisi lain, Leonhart tetap berjaga, memegang catatan kecil untuk mencatat tiap perubahan vital cucunya.
Mungkin beberapa orang mengatakan itu berlebihan, tapi itu bisa membantu Arnold untuk memantau detak jantung Zayn karena kondisinya yang rawan drop.
"Sudah lebih stabil. Tapi tetap aku sarankan untuk tetap didampingi. Setidaknya butuh 24 jam penuh untuk mengobservasi kondisinya lebih lanjut."
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYN ; KELUARGA ?
Teen FictionFollow dulu sebelum baca yaww !! Penderitaan anak berumur 12 tahun yang hanya tau cara bekerja dan mencari uang. Hari harinya dihiasi dengan bentakan dan cacian. Belum lagi kekerasan yang harus ia terima. Membuatnya memiliki banyak trauma. Fisiknya...
