Chapter 23

1.6K 107 31
                                        

TERIMAKASIH BANYAK SUDAH MAU MENUNGGU SETAHUN LAMANYA SKSK

VOTEMENNYA JANGAN LUPAA :)

HAPPY READINGG!!

***

Beberapa jam kemudian di
Ruang kesehatan mansion, Zayn terbangun perlahan. Kepalanya terasa berat, tubuhnya masih lemas. Selang oksigen masih terpasang di hidung kecilnya, dengusan napasnya terdengar pelan dan teratur.

Hal pertama yang ia cari adalah Alister.

Matanya bergerak liar ke sekeliling ruangan.

Aiden menjaga adiknya di kursi yang ada disamping ranjang, satu lengannya masih menggenggam tangan Zayn. Meskipun tangan satunya ia gunakan untuk mengecek berkas berkas yang dikirimkan sekretarisnya melalui tab. Sementara Revan bersandar di sofa yang ada di sudut kamar, kepalanya terkulai memperhatikan adiknya dari jauh.

Tapi sosok yang ia tunggu tak ada.
"D... daddy?" Suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Aiden terkesiap, tabnya ia simpan sembarang. Matanya yang biasanya dingin kini penuh waspada. Ia mencondongkan tubuhnya.

"Abang di sini, baby."

Zayn menelan ludah. Dadanya terasa sesak karena rasa takut yang perlahan naik.

"Daddy mana abang? Daddy sakit ya? Adek mau liat Daddy"

Revan ikut bangun. Ia segera duduk di sisi ranjang dan mengusap rambut adiknya.

"Stt, tenang dulu baby. Daddy sedang istirahat."

Zayn menggeleng kecil lalu menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. "Adek udah bikin daddy pingsan."

Kalimat itu keluar lirih, penuh rasa bersalah. Jemarinya mencengkeram seprai. Tubuhnya mulai sedikit bergetar.

Aiden langsung mendekat dan memeluk Zayn dengan lembut, satu tangan mengusap punggung adiknya perlahan.
"Bukan salah adek, sayang."

"T-tapi-" napas Zayn tercekat. "Daddy jaga adek semaleman, terus tadi tangannya dingin."

Revan menunduk sejajar dengan mata Zayn. Suaranya sengaja diturunkan, tenang dan stabil.

"Dengar abang. Daddy pingsan karena terlalu keras kepala, bukan karena kamu. Daddy sudah dewasa. Tubuh daddy juga punya batas, tapi Daddy tidak menyadari batasnya."

Zayn menggeleng lagi, air matanya jatuh satu per satu. "Adek selalu bikin repot bikin semua orang capek." Tangannya mulai memukul kepalanya sendiri.

Revan yang melihat itu segera menahan tangan adiknya. Ia begitu khawatir dengan kondisi adiknya. "Adek, hey sayang, tangannya tidak boleh seperti itu hm..."

Kalimat itu membuat Aiden terdiam sesaat. Ia tahu, kalimat itu bukan lahir dari semalam saja. Itu hasil dari tahun-tahun rasa bersalah yang dipendam anak sekecil ini.

Aiden menghela napas, lalu mengangkat wajah Zayn perlahan agar menatapnya.

"Zayn. Lihat abang." Nada suaranya tegas, tapi hangat.

"Daddy dan semua orang yang ada di mansion ini tidak pernah menganggap kamu beban. Tidak sekali pun."

Revan menyambung pelan, "Asalkan kamu tau, jika kamu tidak ada, justru kami yang akan hancur."

Zayn terdiam. Air matanya masih mengalir, tapi tangisnya mereda.
"Adek takut." bisiknya. "Takut daddy kenapa-kenapa gara-gara adek, takut kalian capek ngurusin adek, dan takut kalian ninggalin adek karna ade nyusahin-"

ZAYN ; KELUARGA ?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang