Bel sudah berbunyi, yang menandakan waktu pulang telah tiba. Semua orang berbondong-bondong untuk meninggalkan kelas. Sementara Zayn dan Gian masih duduk santai di kelas.
Zayn yang menghindari kerumunan orang orang dan Gian yang malas berdesakan, membuat mereka menunggu keadaan lebih tenang.
Setelah beberapa saat, Gian beranjak dari duduknya. "Menunggu jemputan ?" Tanya Gian.
Zayn mengangguk ragu. "I-iya."
"Aku akan pulang sekarang. Kau tak apa kan, ku tinggal sendiri ?"
"Gapapa Gi. Terimakasih banyak untuk hari ini." Balas Zayn dengan senyum manisnya.
Gian tersenyum kecil. "Hati hati."
Setelah mengucapkannya, Gian pergi meninggalkan Zayn seorang diri.
Zayn akhirnya ikut beranjak pergi ke tempat Sean menunggunya.
Zayn langsung masuk ke mobil kakaknya yang terparkir apik di sana.
"Lelah hm ?" Tanya Sean saat meliat wajah lesu adiknya.
Zayn menoleh dan tersenyum kecil. "Lumayan kak. Hehe"
Sean menarik sabuk pengaman dan memasangkannya untuk Zayn.
"Terimakasih."
Zayn tersenyum, manis sekali. Sean menyukainya dan berharap senyum itu tidak akan pernah luntur.
Setelah dirasa cukup, Sean menyalakan mesin mobilnya lalu mulai menjalankannya dengan kecepatan sedang.
Tangan Sean terangkat untuk mengelus puncak kepala adiknya. "Tidurlah, nanti kakak bangunkan jika sudah sampai." Ucap Sean dengan suara yang terdengar lebih lembut dari biasanya.
Zayn menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis.
Belum sampai lima menit berlalu, tubuh kecil Zayn sudah terkulai di kursi penumpang. Zayn terlelap dengan napas teratur.
Sean hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. "Dasar bayi." bisiknya, sebelum fokus kembali pada jalan.
***
Setibanya di mansion, Sean masuk dengan Zayn di gendongannya. Ia tak tega membangunkan adik kecilnya itu.
"Baby kenapa ?" Tanya Revan sedikit panik.
"Tertidur di perjalanan, bang."
Revan mengangguk kecil lalu berjalan terlebih dahulu menuju kamar adiknya. Kebetulan tadi Revan memang sedang bersantai di ruang keluarga.
Sean menidurkan Zayn dengan perlahan. Tak lupa Revan membantu membuka sepatu adiknya dan melonggarkan seragamnya agar Zayn tidak sesak.
Setelah dirasa cukup, Sean menyelimuti adiknya sebatas dada.
***
Zayn terbangun dari tidurnya. Zayn mendudukkan dirinya sambil menunggu nyawanya benar benar terkumpul.
"Tuan kecil sudah bangun ?" Tanya mbak Tina.
Zayn sedikit terkejut. Entah kapan mbak nananya itu tiba di sini.
Zayn membalasnya dengan anggukan kecil.
"Sebentar lagi makan malam. Lebih baik tuan kecil bersih bersih terlebih dahulu. Biar saya bantu."
Zayn menurut saja, ia dituntun seperti anak kecil oleh mbak Tina karna takut tuan kecilnya itu belum sadar sepenuhnya dan terjatuh.
Mbak Tina memang diperintahkan oleh Alister untuk menjadi baby sister putra kecilnya. Zayn terlihat nyaman dekat dengan mbak Tina, tidak seperti saat berdekatan dengan maid yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYN ; KELUARGA ?
Novela JuvenilFollow dulu sebelum baca yaww !! Penderitaan anak berumur 12 tahun yang hanya tau cara bekerja dan mencari uang. Hari harinya dihiasi dengan bentakan dan cacian. Belum lagi kekerasan yang harus ia terima. Membuatnya memiliki banyak trauma. Fisiknya...
