CHAPTER 8

5.4K 225 5
                                        

Di pagi hari, sudah diawali dengan Zayn yang tak mau makan. Alister dan Revan sudah membujuk Zayn dengan berbagai cara tapi anak itu tetap tidak mau. Ia malah meminta susu coklat kesukaannya. Tentu saja Alister menolaknya. Putranya harus makan terlebih dahulu. Jangan sampai Zayn kenyang karena susu dan tidak makan sama sekali.

Pagi ini Zayn lumayan rewel karena semalam suhu tubuhnya sangat tinggi. Arnold mengatakan, Zayn kelelahan dan sedang menyesuaikan diri dengan suhu di Jakarta.

Kini, suhu tubuhnya memang sudah lumayan turun, tapi tetap saja anak itu masih terlihat sangat lemas. Sedari bangun pagi tadi, Zayn terus berada di gendongan daddynya. Anak itu tidak mau lepas dari Alister.

"Adek harus makan agar cepat sembuh. Bukannya adek ingin cepat pulang ?"

Zayn menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alister.

"Tidak mau daddy~"

Alister menghela nafas saat Zayn kembali menolaknya. Ia tak mau kondisi Zayn semakin menurun, tapi putranya ini sungguh keras kepala.

Sebenarnya Zayn menolak karena mulutnya terasa sangat pahit dan itu tidak enak. Apalagi ia tidak terlalu suka bubur.

Saat mereka tengah kelimpungan, tiba tiba pintu terbuka dengan heboh oleh seorang wanita cantik yang menenteng paper bag di tangannya.

"Aaa putra mama" pekik wanita itu dengan riang. Wanita itu mengelus surai hitam Zayn, namun Zayn malah mengeratkan pelukannya. Dan bergerak seolah olah menolak elusan itu.

Zayn menyembulkan kepalanya. Ia melirik ke orang yang mengelusnya tadi. Ternyata ada wanita cantik yang menenteng paper bag masuk ke kamar rawatnya diikuti oleh Arnold di belakangnya.

"Selamat pagi putra manis mama. Bagaimana keadaanmu sekarang ? Apa sudah lebih baik ?"

Wanita itu adalah Nadine Ananta Dareska. Ia adalah istri Arnold. Selama ini, putra putra Alister bisa mendapat kasih sayang seorang ibu dari Nadine.

Ketika mereka berkunjung ke mansion Arnold, mereka pasti akan dimanja oleh Nadine. Nadine akan membuatkan makanan kesukaan mereka, mengajak deep talk meskipun akhirnya mereka tidak akan tetap tutup mulut, ataupun lainnya. Nadine juga sudah menganggap mereka seperti putranya sendiri.

Bagi Nadine, kecelakaan yang merenggut nyawa kakak ipar beserta putra bungsunya menorehkan luka yang begitu dalam bagi keluarga Dareska. Seketika mereka berubah menjadi pria yang begitu dingin tak tersentuh.

Saat mendengar kabar dari suaminya bahwa Zayn ditemukan, ia sangat bahagia. Ia berharap semoga kehangatan kembali di keluarga mereka.

Zayn meremas pakaian yang dipakai daddynya. Ia bisa melihat senyum tulus dari wanita itu, tapi ia takut wanita itu sama seperti ibunya yang suka memperlakukannya kasar.

Alister mengusap punggung putranya agar lebih tenang.

"It's okay baby. Kita kenalan terlebih dahulu hm ?" Ujar Alister lembut.

Zayn tidak bergeming. Ia masih dalam posisinya.

"Wanita ini adalah istri papa Arnold. Namanya Nadine. Baby bisa memanggilnya mama seperti abang abang baby. Baby tidak perlu takut. Mama orang yang baik, dia sayang sekali pada putra daddy yang satu ini. Buktinya mama Nadine sangat menunggu kedatangan baby di Jakarta."

Nadine tersenyum haru melihat perubahan drastis kakak iparnya. Alister yang ia kenal semenjak kejadian itu adalah pria datar yang tidak mau di usik ketenangannya. Kalaupun ada, mereka akan dengan mudahnya bertemu dengan sang pencipta.

Nadine sangat jarang mendengar Alister banyak bicara. Pria itu hanya akan berbicara secukupnya atau bahkan menyuruh tangan kanannya untuk menjelaskan.

Nadine kembali mencoba mengusap kepala Zayn dengan lembut. Kali ini Zayn tidak menolaknya dan tidak juga memberikan respon.

ZAYN ; KELUARGA ?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang