HAI HAII GAISS
masih nungguin kannn ???
Happy reading !
***
Zayn masih lemah, tetapi ia merasa jauh lebih nyaman berada di rumahnya sendiri. Alister memastikan kamarnya sunyi dan tenang, bahkan menolak siapa pun yang ingin mengunjunginya selain keluarga inti.
Zayn yang meringkuk di ranjang hanya bisa tersenyum kecil, merasa begitu dilindungi. Kakak-kakaknya pun menjaga rumah tetap damai. Bahkan Sean yang biasanya tidak banyak bicara, kini lebih sering masuk ke kamar adiknya hanya untuk memastikan Zayn tidak merasa sendirian.
Pagi itu, Zayn terbangun dengan tubuh masih sedikit lemas. Ia memanggil pelan. "Daddy..."
Tak butuh waktu lama, Alister yang memang selalu berjaga di dekat kamar Zayn segera masuk. "Putra daddy sudah bangun, hm?" tanyanya lembut.
Alister mendekat dan duduk di samping putranya. "How are you feeling today?"
"I'm feeling better.
Emmm..."
"Hm?" Alister dengan sangat sabar menunggu kata selanjutnya yang akan di ucapkan Zayn.
Zayn mengulurkan tangannya. "Gendong..."
Alister tersenyum, ternyata Zayn ingin bermanja dengannya. Tanpa menunggu lama, Alister langsung mengangkat putra bungsunya dengan hati-hati dan membawanya ke kursi dekat jendela.
"Hari ini cukup cerah, mau duduk di sini sebentar?"
Zayn menyandarkan kepala di dada Alister. "Mau, tapi adek mau tetep digendong. Boleh?"
Alister hanya terkekeh pelan sambil mengusap punggung kecil itu dengan lembut. "Everything for you, baby. Daddy akan menemanimu selama yang kamu mau."
Sebelum menuju balkon, Alister menyempatkan diri untuk membawa putranya ke toilet untuk mencuci muka.
Mereka menikmati udara segar sembari menatap pemandangan sekitar mansion.
Setelah beberapa saat, Alister tersenyum kecil melihat Zayn yang sangat nyaman di pangkuannya.
Zayn tidak pernah menuntut banyak hal. Dia anak yang sangat baik. Meskipun begitu, Alister tetap khawatir karena Zayn yang belum sepenuhnya terbuka. Itu sebabnya ia dan keluarganya yang lain sangat protektif terhadap permata Dareska itu.
Alister melirik jam tangannya sekilas. "Sudah waktunya sarapan. Mau makan di sini?" Tanya Alister dengan sesekali mengecup dahi Zayn.
Zayn menggeleng pelan. "Mau makan di bawah."
"Baiklah."
Alister berjalan masuk dengan Zayn di gendongannya. Sebelum turun, Alister lebih dulu mengenakan kardigan rajut untuk putranya karena saat Zayn sakit atau dalam masa pemulihan seperti sekarang, putranya sangat mudah kedinginan.
Setelah dirasa cukup, barulah Alister melangkah menuju pantry.
Di dalam lift, Zayn memainkan kancing kemeja Alister. Ya, Alister sudah siap dengan setelan kantornya. Ia akan pergi ke kantor jika situasinya memungkinkan.
Semalam, Bram memberi tahu ada beberapa masalah di kantor yang membuatnya harus turun tangan. Tapi jika putranya tidak mengizinkan untuk pergi, Alister akan menyerahkan tugasnya pada Bram dan Aiden.
"Daddy.." Panggil Zayn pelan.
"Hm.."
"Setelah makan adek mau ke taman."
"Boleh. Tapi jangan terlalu lama. Jika merasa lelah, katakan saja."
"Emm ! Terimakasih daddy."
Alister mengecup pipi putranya karena gemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYN ; KELUARGA ?
Roman pour AdolescentsFollow dulu sebelum baca yaww !! Penderitaan anak berumur 12 tahun yang hanya tau cara bekerja dan mencari uang. Hari harinya dihiasi dengan bentakan dan cacian. Belum lagi kekerasan yang harus ia terima. Membuatnya memiliki banyak trauma. Fisiknya...
