Di dalam kamar rawatnya, Zayn duduk bersandar di tempat tidur dengan wajah sedikit lesu. Sisa kelelahan setelah drop kemarin masih tercetak jelas di matanya yang terlihat redup. Alister duduk di tepi ranjang, sesekali menyuapi bubur hangat ke mulutnya. Sementara Aiden duduk di sofa, memperhatikan adiknya dengan tatapan tajam.
Saudara saudaranya yang lain sudah tidak ada disini. Mereka di paksa oleh Alister dan Aiden untuk kembali beraktivitas seperti semula. Meskipun dengan berat hati, akhirnya mereka menyetujuinya.
"Pelan-pelan." Alister mengingatkan dengan lembut ketika Zayn menelan dengan sedikit enggan.
Zayn hanya mengangguk kecil, tapi sejak tadi tangannya terus menggenggam selimut, jari-jarinya mencengkeram kain dengan kuat. Aiden memperhatikan gerakan kecil itu sebelum akhirnya bicara.
"Kenapa hm ? Kamu terlihat gelisah."
Zayn terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Abis ini rontgen kan ?" suaranya kecil, nyaris seperti bisikan.
Alister mengusap rambutnya dengan lembut. "Iya, sayang. Kita hanya memastikan memar di punggung dan kakimu tidak ada yang serius."
"Tapi kalau ada yang salah, gimana ?" Zayn menggigit bibirnya, suaranya terdengar semakin lirih. "Kalau tulangnya kenapa-kenapa ?"
Aiden yang sedari tadi membaca di sofa, kini menutup bukunya lalu berdiri dan berjalan mendekat. "Jika ada yang salah, kita akan tahu lebih cepat dan bisa ditangani sebelum itu jadi lebih buruk."
Zayn menunduk, tapi tidak menjawab.
Alister menarik napas pelan dan menggenggam tangan kecilnya. "Baby, Daddy janji ini hanya sebentar. Daddy ada di sampingmu. Kamu aman." Alister mencoba meyakinkan putranya dengan sabar.
Sebenarnya ia ingin putranya diperiksa secara detail. Tapi Alister tau putranya pasti menolak. Yang terpenting sekarang Alister tahu apa yang membuat putranya tidak nyaman dan menjaganya agar tetap tenang.
Zayn masih tampak ragu, tapi ia tidak berkata apa-apa lagi ketika seorang perawat mengetuk pintu dan memberi tahu bahwa mereka sudah bisa menuju ruang radiologi.
Alister berdiri lebih dulu, lalu membantu Zayn turun dari ranjang dan membawanya ke kursi roda dengan hati-hati. Aiden berjalan di sampingnya, ekspresinya tetap datar tapi tatapannya tidak lepas dari Zayn.
Sebenarnya Zayn tidak mau duduk di kursi roda, ia lebih suka di gendong daddy atau abangnya. Tapi sepertinya Alister dan Aiden belum berani menggendong si bungsu karena takut melukainya.
Saat mereka tiba di depan ruang radiologi, Zayn menggenggam pergelangan tangan Alister lebih erat.
"Daddy... ikut, kan?"
Alister berjongkok di sampingnya, menatap matanya dengan lembut. "Daddy di sini. Kamu tidak akan sendirian."
Aiden menoleh pada dokter Faris yang baru keluar dari ruangan. "Bisa dipercepat?"
Dokter Faris tersenyum kecil. "Tentu tuan muda. Kita langsung mulai saja."
Zayn menelan ludah, tangannya sedikit gemetar saat perawat mulai mendorong kursi rodanya ke dalam. Aiden mengusap pipi adiknya dengan lembut sebelum ia masuk. "Tenanglah. Hanya sebentar. Abang tunggu disini."
Di dalam, ruangan terasa dingin dan lampu yang cukup redup membuat Zayn semakin gelisah. Zayn berbaring di atas meja pemeriksaan, tubuhnya sedikit menegang saat alat mulai disiapkan.
Alister berdiri di dekatnya, menatapnya penuh ketenangan. "Tutup saja matanya jika merasa tidak nyaman."
Zayn memejamkan mata, mencoba fokus pada genggaman hangat Alister di tangannya, bukan pada suara alat di sekitarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYN ; KELUARGA ?
Roman pour AdolescentsFollow dulu sebelum baca yaww !! Penderitaan anak berumur 12 tahun yang hanya tau cara bekerja dan mencari uang. Hari harinya dihiasi dengan bentakan dan cacian. Belum lagi kekerasan yang harus ia terima. Membuatnya memiliki banyak trauma. Fisiknya...
