Mencari Makna Adil

155 16 4
                                        

"Cuma karena gue terlihat lebih kuat, bukan berarti gue pantes dapat semua ini kan, Mas?" Alea berujar pada Seno. Mempertanyakan tentang garis takdirnya yang tidak terlalu baik, sebab terus dilanda masalah secara bertubi-tubi.

"Selama ini gue diem bukan buat diinjek-injek, Mas. Gue diem karena gue gak mau cari ribut dan bikin masalahnya jadi lebih gede." Alea kembali mengingat tentang rumor mengenai dirinya. Rumor yang menyebar karena kesalahpahaman, kemudian berkembang sangat cepat hingga menjadi pembicaraan banyak orang. Rumor akan dirinya yang bukan merupakan perempuan baik-baik, juga kabar yang menyebutkan bahwa dia adalah simpanan om-om hidung belang.

Lagi-lagi Alea menatap lurus ke arah Seno. Meski laki-laki yang sedang dicurhatinya tidak memiliki solusi atas permasalahan yang dia miliki, rasanya tetap sedikit lebih lega setelah mengutarakan unek-uneknya pada orang lain.

Dia yang biasanya memilih acuh atas segala rumor mengenai dirinya, kini sudah tidak bisa mengabaikannya lagi. Kabar tidak benar yang malas dia tanggapi dianggap telah meresahkan, hingga pagi ini dia mendapat surat panggilan dari program studinya. Ternyata rumor tanpa bukti bisa dihakimi, bahkan oleh lembaga pendidikan sekali pun!

"Orang-orang mungkin nganggep gue kuat karena gak pernah peduli sama omongan mereka yang selalu ngerendahin gue. Tetapi yang mereka gak tau, bahwa diam gue bukan karena gue kuat. Namun karena udah gak ada lagi tenaga buat bersuara." Biasanya Alea tak pernah suka mengeluh, apalagi mengeluhkan kehidupan pribadinya. Namun untuk kali ini, rasanya dia ingin menyerah. Bahkan dalam diamnya sekali pun, masalah terus berdatangan di dalam hidupnya.

Seno menarik tubuh Alea dan memeluknya erat. Dia tahu betul bagaimana rasanya berada di titik terendah, sedangkan orang yang diharapkan justru tidak muncul untuk memberikan dukungannya.

Dia sudah menganggap Alea sebagai adiknya sendiri. Makanya dia juga merasa sedih, sebab merasa tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu perempuan yang sedang coba dia kuatkan itu. "Kalo cobaan lo berat, inget kalau Tuhan lagi ngasih ujian buat lo."

Alea terkekeh. Candaan Seno selalu saja garing, tetapi Alea yakin kalau niatnya kali ini hanya ingin menghiburnya.

"Tuhan tau lo perempuan kuat, Le. Jadi jangan pernah berpikir untuk menyerah." Lanjut Seno menambahkan.

"Mau gue temenin? setidaknya gue bisa bantu buat jelasin."

Mendengar penuturan dari Seno, Alea menggeleng."Gue gapapa kok, Mas. Gak usah khawatir."

"Gue gak bakalan kepikiran buat ngakhirin hidup."

"Gue masih seneng hidup," Alea menjeda kalimatnya. "Walau gak tau juga alasan kenapa gue ngerasa masih pengen hidup lama."

"Makasih ya," dia melepaskan pelukan Seno. Lalu menatap lurus ke arah laki-laki itu. "Kalau gue nyelamatin diri gue sendiri tapi dengan cara jatuhin orang lain salah gak?"

Seno mengernyit bingung. "Maksudnya?"

"Salah satu orang yang bikin rumor ini semakin gak terkendali, adalah perempuan yang jadi simpanan laki-laki beristri. Dan beruntungnya, gue punya bukti soal fakta itu."

"Kalau gue mencoba membersihkan nama gue dengan satu fakta itu, apakah tindakan gue bisa dibenarkan? karena dia pasti akan kena sanksi sosial." Alea menunduk lesu. "Dan gue tau betul bagaimana sulitnya survive dari pandangan buruk seseorang akan diri kita."

"Menurut lo, apa yang mesti gue lakuin, Mas?"

Mas Seno memegang kedua pundak Alea. "Membantu orang lain itu emang hal baik, Le. Tapi menyelamatkan diri sendiri tetep jadi yang paling utama."

"Egois itu sifat yang dimiliki setiap manusia." Lanjutnya, "Selagi apa yang kita katakan adalah kebenaran, menurut gue gak ada yang salah soal itu."

"Toh bagaimana pun rapatnya seseorang menyimpan kebusukan, pada akhirnya akan tetap ketahuan."

Long time no seee

AleandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang