Cerita Masa Lalu

179 14 5
                                        

Alea tidak begitu menyukai momen emosional. Dalam setiap film yang dia tonton, atau novel yang dia baca, setiap momen emosional tidak akan berakhir dengan hal yang baik. Sama seperti permintaan maaf yang mendahului penjelasan, seperti itu juga persepsinya terhadap momen yang sering disebut orang dengan kata 'berkesan'.

Pada umumnya seseorang akan menjadi emosional ketikan mengalami dua kejadian, yaitu sebuah perpisahan atau permintaan maaf karena kesalahan. Dan dalam perspektifnya, tidak ada hal baik di antara keduanya. Selalu meninggalkan kesedihan bagi semua pihak, baik yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan.

"Terima kasih Tante, karena berkat Tante Alea masih bisa melihat indahnya dunia." Lepas dari mengunjungi makam mamanya, Alea menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah makam yang masih berada di TPU yang sama.

"Alea selalu berterima kasih atas kebaikan hati Tante," lanjutnya sembari menaburkan bunga mawar di atas pusara yang sudah dipenuhi rumput hijau itu. Terlihat begitu rapi, seolah memang terbiasa dibersihkan di waktu-waktu tertentu.

"Walaupun Alea gak pernah ketemu langsung sama Tante, Alea tahu kalau Tante adalah orang baik." Ingatannya kembali melayang pada hari terburuk yang pernah dia alami. Hari di mana dia harus kehilangan mamanya, juga kehilangan penglihatannya akibat insiden yang sama.

"Kita bahkan nggak saling kenal, Te. Tapi Tante dengan yakin mau donorin matanya buat Alea." Alea selalu bersyukur karena masih diberi keselamatan. Meski dia membenci hidupnya yang tidak punya siapa-siapa, dia tetap menghargai kehidupannya karena seorang perempuan bernama Maharani itu. Sosok yang bahkan tidak pernah dia temui, tetapi memberikan kedua matanya hanya untuk membuat Alea bisa melihat lagi.

Ingatannya kembali melayang ke masa lalu. Hari dimana  dia mengalami kecelakaan bersama mamanya, dan hari yang sama juga dimana ada korban kecelakaan di rumah sakit yang dia datangi. Tentu mereka tidak saling kenal, apalagi waktu itu dia sedang kehilangan kesadaran. Namun ketika dia bangun dan menyadari bahwa dia sudah kehilangan mamanya, dia juga menemukan fakta menyedihkan lain bahwa harusnya dia sudah tidak bisa melihat indahnya dunia. Dan beruntungnya, dia mendapatkan donor kornea dari seseorang, korban kecelakaan yang sama mengenaskannya dengan mamanya.

Ya, apa yang dia lihat sekarang adalah hasil pengorbanan orang lain. Apa yang bisa dia nikmati hingga hari ini adalah karena budi baik seseorang yang bahkan tidak dia kenali. 

"Alea gak bakal lupa sama budi baik, Tante."

"Alea juga akan menjalani hidup dengan baik, sesuai dengan keinginan mama dan juga tante." Lanjutnya.

Dia mengelap air matanya yang mulai jatuh di pipi. Setiap kali mengunjungi makam Tante Maharani, dia sama emosionalnya ketika sedang mengunjungi makam mamanya. Seolah dia memiliki kedekatan batin, meski keduanya belum pernah bertemu. Sebuah kedekatan batin yang mungkin timbul karena berbagi anggota tubuh.

"Maaf karena Alea jarang berkunjung ya,"  sebelum meninggalkan makam, dia mengelus pelan papan nisan di depannya. Lalu beranjak dan melangkah pergi, sebab sudah cukup lama dia mengunjungi tempat pemakaman yang rutin dia datangi.


***


"Maaf, Ma. Maaf karena Bintang jarang berkunjung." Akhir pekan yang biasanya dia gunakan untuk beristirahat, kini dia gunakan untuk mengunjungi mamanya. "Mama nggak kangen sama Bintang? kenapa nggak pernah datang di mimpi Bintang, Ma." Lanjutnya.

Bintang menebarkan kelopak mawar yang masih segar di atas kelopak mawar yang mulai layu. "Apa Mama nggak kangen sama Bintang karena udah ada orang lain yang selalu rutin nengokin Mama?" setiap kali berkunjung, tidak jarang dia menemukan jejak-jejak seseorang yang baru mendatangi mamanya. Bintang tidak tahu siapa, dan tidak pernah ingin mencari tahu melalui penjaga makam. Dia hanya takut kalau orang yang rutin mengunjungi mamanya adalah papanya sendiri, sebab dia belum sanggup untuk memaafkan orang yang menghancurkan hidupnya dan mamanya.

"Maafin Bintang karena belum bisa maafin papa, Ma," dia berjongkok di samping makam dengan perasaan yang tidak menentu. "Bintang selalu gak sanggup buat maafin papa, bahkan untuk sekedar duduk bersama."

"Tapi mama gak usah khawatir. Bintang baik-baik aja kok, meski gak tinggal bareng lagi sama papa." Bintang mengulas sedikit senyumnya. Seolah ingin menunjukkan pada mamanya kalau dia baik-baik saja.

"Usaha bengkel Bintang lancar kaya biasanya, dan kuliah Bintang juga. Walaupun ada beberapa kelas yang harus ngulang. Mama nggak marah kan?"

"Bintang janji tahun ini pasti lulus," Bintang mengelus sayang nisan bertuliskan nama Maharani itu.

"Oh iya, Ma. Baru-baru ini Bintang ketemu sama seseorang. Perempuan, yang entah kenapa selalu mengingatkan Bintang sama Mama setiap kali melihatnya."

"Apa Bintang terlalu kangen sama Mama ya?" dia terkekeh. "Tapi Bintang nggak menemukannya di perempuan lain, Ma. Cuma dia yang ngingetin Bintang sama mama."

"Apa ini yang namanya ketertarikan, Ma? tapi Bintang bingung, ketertarikan semacam apa yang Bintang miliki pada perempuan itu. Apakah ketertarikan layaknya seorang laki-laki pada perempuan, atau ketertarikan karena dia berhasil mengobati rindu Bintang pada Mama?"

"Bintang nggak mau jadi laki-laki brengsek, Ma. Apa Mama bisa datang ke mimpi Bintang? Bintang butuh nasehat Mama."


AleandraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang