Agenda setting, media framing, dan manajemen citra adalah beberapa hal yang bisa memengaruhi persepsi masyarakat akan sesuatu. Sama seperti halnya kita yang membenci seseorang karena terbiasa mendengarkan keburukannya dari orang lain, padahal secara personal belum pernah saling bertemu. Terdengar begitu tidak adil, tetapi begitulah cara dunia ini bekerja.
Bintang menikmati segelas kopi di balkon kamarnya. Sembari melihat keramain jalanan dari tempatnya duduk, pikirannya melayang. Memikirkan perempuan bernama Aleandra yang beberapa waktu ini selalu menganggu pikirannya. Termasuk tentang pendapat orang terhadapnya, yang menurut Bintang terlalu bertolak belakang.
Beberapa orang mengatakan bahwa Aleandra adalah perempuan yang rela melakukan apa saja untuk memenuhi gaya hidupnya yang ekslusif, tapi beberapa yang lain justru mengatakan bahwa dia adalah perempuan baik hati yang rela mengorbankan banyak hal untuk orang lain. Membuat Bintang yang belum lama mengenalnya merasa bimbang, meski disudut hatinya lebih percaya dengan pendapat yang mengatakan bahwa perempuan itu adalah gadis baik-baik.
Bintang mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Menghirupnya sebentar dan menghembuskan asapnya perlahan, berharap pikirannya yang ruwet menguap seperti asap yang ditiupkannya itu. "Sebenernya orang seperti apa lo, Le. Kenapa rasanya ada yang berbeda." Gumamnya pelan.
***
Di tengah keramaian kelas, Bintang bergeming, mengabaikan dosen di depan kelas yang masih sibuk menjelaskan perihal teori komunikasi. Fokusnya hanya pada satu objek, perempuan bernama Aleandra yang duduk dua baris lebih depan dari tempatnya duduk sekarang. Kedua bola matanya menatap lurus ke arah Alea, memandangnya dengan pandangan yang bahkan tak bisa orang lain baca.
Kemudian, saat sang dosen akhirnya selesai dengan pengajarannya, Bintang, tanpa melakukan pergerakan apapun, juga tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, beranjak. Meninggalkan tempatnya duduk begitu saja, lalu berjalan ke arah perempuan itu.
"Le," panggilnya pelan.
Alea yang sedang menunduk dan membereskan buku-bukunya mendongak, lalu mengernyitkan dahi heran setelah menemukan Bintang sudah berapa di depannya. "Ya?"
"Mau pulang bareng?" meski terlihat seperti laki-laki berandalan, pada dasarnya Bintang tidak memiliki pengalaman apapun soal wanita. Bahkan kemampuannya bersosialisasi dengan kaum hawa juga mengkhawatirkan, terbukti dengan kelakuannya yang tiba-tiba mengajak Alea pulang bersama, padahal mereka tidak terlalu akrab.
Mendengar ajakan pulang yang dilontarkan Bintang secara tiba-tiba, Alea bingung. Tentu saja mereka saling kenal, namun dia rasa tidak cukup dekat untuk pulang bersama. "Eumm, boleh, Bang." Karena bingung dan tidak enak menolak, akhirnya Alea mengiyakan. Meski mungkin mereka akan terjebak dengan suasa awkward, setidaknya itu masih lebih baik daripada harus bertahan dengan posisi ini di dalam kelas, dengan banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka.
Alea melirik ke arah Bintang yang sudah membawa ranselnya. Itu menunjukkan bahwa laki-laki itu sudah selesai bersiap, dan dia harus cepat-cepat. "Sebentar, Bang" Meski masih merasa aneh, dia tetap menambahkan kata 'Bang' di depan nama Bintang. Bagaimana pun Bintang lebih tua daripada Alea, jadi menambahkan kata tersebut di depan namanya adalah sebuah bentuk kesopanan yang coba ditunjukan Alea untuk Bintang.
"Ayo," dia berdiri dan mengajak keluar Bintang. Meski Bintang terlihat canggung, dia tetap berjalan mengikuti Alea untuk keluar ruangan.
Meski sudah cukup jauh dari ruang kelas, baik Bintang maupun Alea belum ada yang bersuara. Mereka berdua hanya berjalan bersisian, dengan keduanya yang hanya saling diam. Membuat perjalanan yang sebenarnya dekat terasa begitu jauh.
"Ada apa, Bang?" untuk memecah keheningan, Alea membuka suara. Dia tidak tahu alasan Bintang mengajaknya pulang bersama, dan sedari tadi menunggu laki-laki itu membuka suara juga tak kunjung ada, jadi dia memutuskan untuk menanyakannya secara langsung. Tidak ingin lebih lama terjebak dengan keheningan yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Eumm, sebenernya nggak ada sih, Le." Bintang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah mengapa dia merasa grogi, dan tidak bisa mengatakan hal lain selain satu kalimat itu. Padahal sedari keluar kelas dia sudah mempersiapkan diri, namun saat Alea membuka suara, dia justru kehilangan semua kata-kata yang sedari tadi dilatihnya.
"Nggak ada yang penting, Bang?" ulang Alea meyakinkan. Pasalnya dia sudah berpikir bahwa ada alasan penting seorang Bintang mengajaknya pulang, jadi ketika laki-laki itu mengatakan tidak ada yang penting, dia merasa heran, dan sedikit sulit percaya.
Tiba-tiba, Alea terkekeh. Menoleh ke arah Bintang dan berujar "Jadi, emang sengaja pengen pulang bareng gue, Bang?"
Sejujurnya Alea hanya berniat bercanda. Namun melihat ekspresi wajah Bintang yang serius dan anggukan kepalanya yang tidak pernah dia duga, justru Alea lah yang kini kehabisan seluruh kata-kata di dalam otaknya.
"Iya, Le, gue emang pengen pulang bareng lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aleandra
Teen Fiction"Ya, open BO nggak?" Gila! Alea hampir melempari laki-laki yang barusan berbicara itu dengan buku cetak setebal 350 lembar lebih yang ada di tangan kanannya. Bagaimana bisa mulutnya begitu lancar mengatakan hal menjijikan seperti itu pada perempuan...
