Bahagia Itu Sederhana

493 59 8
                                        

Alunan musik pada cafe itu menjadi melodi yang begitu indah untuk keadaan yang Forza rasakan  saat ini, lantunan dari setiap liriknya menambah kesan rasa bahagia untuk siapa pun yang mendengarkan. Pentikan gitar dan suara merdu dari seseorang yang dia kagumi benar-benar membuat dirinya jatuh untuk kesekian kali dalam pesona laki-laki yang lebih tua dari dirinya itu. 

Bagaimana bisa tiba-tiba Gema berada diatas panggung memainkan gitar dan juga memamerkan suaranya yang begitu merdu? Jawabnya ada pada Forza, berawal dari ucapan spontan yang dia lontarkan tentang kekecewaanya karna tak ada pertunjukan musik disaat itu, membuat pria yang berada tepat di depannya inisiatif langsung berdiri dan berjalan menuju kearah salah satu karyawan untuk meminta izin, kemudian berlalu mengambil gitar dan  naik keatas panggung bernyanyi untuk membalas rasa kecewa yang Forza rasakan.

Forza terpaku sejenak dengan apa yang baru saja Gema lakukan, tersenyum dengan begitu lebar menatap kearah Gema yang juga sedang menatapnya dengan nyanyian yang membuat Forza menjadi salah tingkah.

"Duh lah jantung gw kenceng banget ini detakannya." Forza memegang bagian dada nya terasa begitu mendebarkan, membuat ekpresi-ekpresi lucu yang mana membuat Gema yang berada di atas panggung tersenyum gemas melihatnya.

Petikan terakhir dari gitar yang Gema mainkan membuat seluruh isi Cafe itu bertepuk tangan, suara berisik yang di hasilkan mampu membuat Forza tersadar dari segala lamunan dan kembali menatap kearah Gema yang sekarang sedang berjalan menuju kearahnya.

"Gimana udah nggak sedih lagi kan?" Sial kenapa Gema harus bertanya seperti itu kan hati Forza jadi semakin tak karuan.

"Hehehe iya udah enggak, ternyata Mas Gema bisa main musik juga ya? Suara Mas Gema juga bagus, nggak mau jadi Idol aja?" Gema tersenyum dan menggeleng mendengar celotehan Forza, duduk dengan santai menyilangkan kaki dan meminum sedikit minumannya karna merasa haus.

"Nanti kalau aku jadi Idol banyak yang suka, kamu nya cemburu lagi, lagian aku udah jadi Idol buat kamu juga kan?" Bangsat kata-kata Gema bener-bener ngebuat Forza kaget, seluruh wajah Forza sekarang sudah semerah tomat karna benar-benar malu, menelan ludah dengan susah payah untuk mengendalikan diri dan berusaha untuk bersikap biasa aja.

"Hahaha Mas Gema bisa aja, nanti kalo aku baper tanggung jawab loh ya mas!" Gema hanya tersenyum melihat wajah Forza yang terlihat lebih manis dengan rona merahnya, entahlah Gema hanya menyukai kekita Forza terlihat salah tingkah karna dirinya.

"Abis ini mau kemana lagi?" Pertanya Gema membuat Forza berpikir sejenak sebelum dia tersenyum dengan cerah menatap kembali kearah Gema.

"Ke Time zone mau nggak?" 

"Boleh udah lama juga nggak kesana." 

"Yeyy." Mendengar jawaban dari Gema membuat Forza bersemangat, emenghabiskan makanannya dengan cepat seperti anak kecil yang sangat amat ingin bermain di dunianya.

"Pelan-pelan Za, masih pagi juga timezone nya nggak kemana-mana kok." Gema berucap dengan santai sambil mengelap noda saos yang berada pada sudut bibir Forza menggunakan ibu jarinya. Tak cukup sampai disitu, Forza kembali di buat kaget karna secara tiba-tiba Gema menghisap Ibu jarinya yang mana membuat wajah di manis menjadi semakin memerah. 

"Manis." Bangsat sekali memang mulut Gema ini, jika seperti ini terus Forza bisa mati muda karna kena serangan jantung.

"Mas Gema mah bisaan banget, udah tau aku tuh lemah sama Mas Gema, malah makin di buat baper, kalo aku tambah baper dan tambah bucin Mas Gema nggak boleh lari pokoknya." Gema tersenyum menanggapi amarah Forza yang menurutnya lucu, Forza yang mode tantrum adalah kesenangan tersendiri bagi Gema.

"hahaha okey maaf, udah selesai makannya?" Forza mengangguk untuk menjawab, masih dengan wajah yang memerah berusaha untuk menahan rasa malu nya, mungkin jika dia tidak ada di tempat umum Forza sudah akan berteriak meluapkan segala rasa yang ada di hatinya.

"Mas, mau minta bil." Seorang pelayan mendekat kearah mereka, memberi tahu jumlah yang akan meraka bayar dengan senyuman yang terpatri di wajahnya. Gema mengeluarkan dompet pada sakunya mengambil beberapa uang dan di sodorkan pada pelayan tadi, namun hal itu di urungkan sejenak, karna secara tiba-tiba tangan kecil Forza menahan tanganya saat ingin melakukan transaksi pembayaran.

"Kenapa Za?"

"Kan aku yang mau traktir Mas Gema, jadi aku aja yang bayar." Forza bersiap ingin mengeluarkan uang pada dompet nya, namun ketika dia ingin membayar  secara tiba-tiba pelayan tadi sudah tidak ada di tempatnya. Forza melirik keaah Gema yang sedang tersenyum dengan begitu tampan, saking tampanya hingga membuat Forza ingin menapar wajah yang terus menatapnya dengan tatao meledek itu.

"Udah si gpp, masa anak gadis yang bayar itu kan tugas cowok." 

"Aku juga cowok loh ya kalo Mas Gema lupa."

"Ohh ya? Tapi kok cantik banget?" Wajah Forza kembali memerah, bergerak dengan gelisah berusaha untuk terlihat biasa saja, namun seperti nya itu tak ada pengaruh, karna saat ini Gema terus tertawa melihat tingkah konyolnya, yang membuat Gema harus terkena amukan Forza untuk kesekian kalinya.

.

.

.

.

.

Suasana Timezone pagi ini lumayan begitu ramai, mungkin karna hari ini Weekend Timezone menjadi salah satu tempat yang paling banyak di kunjungi oleh para anak-anak muda sekarang. Forza menunggu Gema yang sedang mengisi saldo  kartu pada salah satu kursi tinggi yang memang disediakan, melihat sekeliling menentukan wahana mana yang ingin dia mainkan terlebih dahulu. Kakinya bergoyang-goyang seperti anak kecil yang merasa bosan karna  menunggu. 

Fokusnya teralihkan ketika dia merasa ada hawa dingin yang berhembus masuk ketelinganya. Forza menoleh mendapati Gema yang sedang tersenyum dengan jahil menatap tepat kemata dengan jarak yang terlampau dekat, secara spontan mengikuti naluri Forza memukul pipi Gema lumayan keras hingga membuat Gema sedikit memiringkan kepala. Forza mengira Gema itu adalah hantu, tapi mana ada hantu yang setampan Gema? Forza yang tersadar telah melakukan kesalahan langsung turun dari kursi tinggi itu dan mengambil tangan Gema yang memegang pipinya, tangan kecil itu menggantikan tangan Gema untuk mengelus pipi yang sudah memerah karna ulahnya. 

"Maaf Mas aku nggak sengaja." Mata Forza sudah berkaca-kaca merasa bersalah, melihat pipi yang sedang dia genggam berubah warna menjadi warna merah. Elusan pada pipi itu terhenti karna sang pemilik tubuh menggenggam tangan kecil milik Forza dan melepaskannya secara perlahan.

"Hiks Maaf." Pecah sudah tangisan Forza, Gema yang melihat itu menjadi panik sendiri, berusaha untuk menenangkan laki-laki yang lebih muda dari nya itu.

"Ehh kok nangis? Iya gpp Forza nggak sakit kok udah dong jangan nangis lagi. Kan aku juga yang salah tiba-tiba ngagetin kamu, aku juga minta maaf okey?" Di sela isak tangisnya Forza mengangguk, mengelap air matanya menggunakan lengan sweeter yang dia kenakan. Gema yang melihat itu memekik gemas namun berusaha dia tahan.

"Jangan sampe ini anak gw cium disini ni." ucap Gema dalam hati.

"Ya udah ayo mau main yang mana dulu." Wajah Forza kembali berseri, berjalan pada salah satu mesin permainan dengan senyum yang kembali berseri pada wajahnya. Gema yang di tinggal dengan kartu yang sudah berpindah tangan itu pun di buat tercengang.

"Mood nya tuh gampang berubah secepet itu ya? Ajaib." Monolog Gema seorang diri, dan ikut melangkahkan kaki mendekat kearah Forza yang sekarang tengah asik bermain sendiri.

.

.

.

.

Hallo kembali lagi dengan saya author yang lagi males buat ngetik wkwkwk

Ehhh sumpah si gimana ngilangin rasa males abis pulang kerja tu?

Pulang kerja rasanya cuma pengen tiduran sama nonton doang  ampe besok nya kerja lagi😭😭

Kaya ide tu ada tapi males ya Allah kenapa ya???

Kenapa susah sekali menghilangkan rasa malas 😭😭


jangan lupa vote ya manteman biar aku semangat dan nggak males lagi wkwkwk


FOTOCOPYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang