"Dalam lamunan aku dihadapkan dengan seribu bunga, tapi aku hanya terpaku pada satu dari seribu bunga yang sangat indah dan bunga itu adalah kamu"
_Nayra Agatha Khanza_
_HUJAN BERCERITA_
HAPPY READING🥀
.
.
.
.
.
Cahaya matahari yang tadinya menyengat, kini hanya tersisa selembar selendang jingga yang tergantung rendah di ufuk Barat, yang memantul samar pada kaca-kaca gedung.
Sore hari dengan ditemani senja, nayra yang menjalankan motornya dengan Revan yang duduk dibelakangnya, entah akan kemana gadis itu membawanya, Revan hanya mengikutinya toh dirumah tidak ada orang pikir Revan
Setelah nayra menghentikan motornya
"Ayo kak udah sampai"
"Dimana?" Tanya revan penasaran.
"Taman bunga" ucap Nayra dengan antusias
Revan hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban
"Kak Revan dengerin nayra, tepat dikaki kak Revan ada 2 anak tangga, setelah kakak melewatinya kakak jalan lurus 8 langkah, terus kakak ke kanan 6 langkah, terus ke kiri kira kira 16 langkah, setelah sampai disana ada kursi, kita duduk disana oke?" Menjelaskan sedetail mungkin lalu mengacungkan jempolnya, meski nayra tau revan tak ada membalasnya.
Revan hanya mengangguk saja
Revan pun mulai mengikuti instruksi nayra perlahan dengan mengayunkan tongkatnya
Sembari berjalan nayra terus menjelaskan apa saja yang ada di taman itu
"Nah tepat di sebelah kiri kak Revan itu ada sekumpulan bunga tulip yang berwarna merah muda" sambil memegang tangan Revan dan mengarahkannya pada sekumpulan bunga tersebut
"Terus di depan sana ada bunga mawar putih, sangat cantik" ucap Nayra kembali mengarahkan tangan Revan pada bunga di depannya itu
"Terus di tengah tengah taman ini ada air mancur, serta kolam ikan kak, suara yang kakak dengar ini suara dari air mancur itu" jelas nayra lagi sambil terus berjalan
Setelah sampai di kursi taman, nayra dan revan pun akhirnya duduk
"Kenapa menjelaskan? Saya juga tidak bisa melihatnya kan?" Ucap Revan tiba tiba
"Nayra tau, jadi nayra menjelaskan supaya kakak merasakan, sekarang kakak bisa merasakannya kan? Kakak masih bisa mendengar, jadi kakak bisa mendengar suara air mancur itu, kakak juga bisa memegang bunga-bunga tadi kan? Jadi kakak jangan pernah berpikir orang yang tidak bisa melihat itu tidak tau apa apa" menjelaskan kepada Revan dengan lembut
Revan terdiam mendengar penjelasan nayra
Setelah sekian detik
"Kenapa taman bunga?" Tanya Revan
"Karna nayra suka, nayra suka bunga"
Revan mengangguk
"Kakak gak tanya? Kenapa nayra suka bunga?"
"Kenapa?" Akhirnya bertanya
"Karna bunga itu indah dan banyak sekali bentuknya, dan aromanya yang harum, nayra suka"
Revan hanya diam mendengarkan
"Sama" ucap nayra ambingu
"Sama apa?" Tanya Revan tak mengerti
"Sama kayak kakak.. indah" ucap Nayra sambil memandangi wajah Revan
Akhirnya yang nayra tunggu tunggu muncul juga yaitu Senyum Revan yang indah layaknya bunga, sepertinya senyum Revan ini akan menjadi candu bagi nayra, nayra menyukainya
"Bisa saja kamu"
"Kak Revan gak salting?"
"Biasa aja"
"Tapi kok telinganya merah?" Meledek Revan
Revan yang reflek memegang telinganya yang terasa sedikit panas
"Kakak mau jajan gak?" Mengalihkan pembicaraan
"Disana ada orang jualan sosis bakar, bentar ya nayra beliin, gak lama kok, kakak tunggu disini ya" segera meninggalkan Revan
Revan yang berada disana melamun memikirkan perkataan nayra dan juga nayra yang menggodanya, dan sekali lagi dia tersenyum 'ada ada saja gadis itu' batin Revan
Setelah Nayra mendapatkan jajanannya dia langsung menghampiri Revan
"Ini kak" meletakkan sosis bakar itu tepat di tangan Revan
Nayra dan Revan pun akhirnya memakannya sambil menikmati suasana di taman itu dengan suara air mancur yang memasuki indra pendengaran keduanya
"Kak Revan pulang yuk udah jam 5 nih" ajak nayra
Revan hanya mengiyakan saja
Lalu nayra memberikan instruksi kepada Revan seperti tadi
Setelah mereka sampai pada motor nayra, nayra pun langsung menjalankan motornya menuju rumah revan.
Setelah mengantar Revan akhirnya Nayra pun pulang dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya sedari tadi 'good job Nayra akhirnya bisa juga pdkt-an sama Kak Revan' ucap batin Nayra senang.
Akhirnya malam pun tiba
Angin malam pun menyapa Nayra yang sedang duduk dibalkon kamarnya sambil tersenyum, nayra masih memikirkan kejadian di taman tadi
Tiba tiba
"WOY KAK" sambil mengejutkan nayra
Nayra yang reflek kaget, langsung memukul Shafa adiknya
"Sakit kak" memegang tangannya yang terkena pukul nayra
"Salah sendiri, suruh siapa ngagetin?" Ucap Nayra sedikit kesal
"Suruh siapa ngelamun? Aku tuh udah ngetok pintu beberapa kali tapi kakak aja yang gak denger jadi aku kagetin deh" ucapnya menjelaskan dan tak mau salah
"Ngapain kesini?"
"Di suruh mama, buat manggil kakak makan, papa udah nungguin" ucap shafa seadanya
"Iya kakak ke bawah habis ini, kamu duluan aja"
"Kakak mau ngelanjutin ngelamun lagi?"
"Enggak kakak mau ganti baju dulu, udah sana dek" sambil mendorong Shafa keluar
Di bawah
"Mana kakak mu?" Ucap papa nayra
"Masih ganti baju katanya pah" kata Shafa sambil mengambil nasi untuk dirinya sendiri
Suara langkah kaki mendekati makan
"Mah, pah" sapa nayra
"Cepat duduk nay kita makan" ucap sang mama
"Iya mah"
Keluarga itu pun akhirnya makan dengan nikmat sembari mendengarkan ocehan Shafa yang bercerita tentang kegiatan sekolahnya.
Setelah makan nayra pun naik ke atas menuju kamarnya
Nayra duduk di depan kaca dengan tangan yang sudah ada di dagunya, tiba tiba nayra mengeluarkan kertas kecil dan menuliskan sesuatu disana
'Kamu indah seperti bunga, dan aku menyukainya'
Setelah menuliskan kalimat tersebut nayra pun menempelkan kertas kecil itu di kaca kamarnya sambil tersenyum
Nayra pun menaiki kasurnya karna sudah beberapa kali menguap, dia pun akhirnya mulai memejamkan matanya.
_HUJAN BERCERITA_
Maaf kalau masih banyak typo
Author hanyalah manusia biasa yang
Tak luput dari salah dan dosa hehe..
Ig author: ndfnisya
Maaf juga kalau semisal alurnya kurang bagus, author masih perlu banyak belajar jadi harap di maklumi ya 🙏
_TERIMA KASIH_
.
.
.
.
JUMPA LAGI
See you again
Bay bay 👋
Jumat 31 Mei 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
HUJAN BERCERITA
Casuale⚠️VOTE DULU SEBELUM BACA!!!⚠️ Hujan bukan rintik yang menenangkan tapi deras yang menyakitkan, Revan masih bisa melihatnya walau dengan penglihatan yang sedikit buram, kilatan petir yang menerangi wajah ibunya sejenak, wajah yang penuh ketegasan sek...
