12. tugas Xvlones

1.6K 180 19
                                        

Hii semuaa, aku update nih.
Aku update cepat yaa meskipun yang vote bab sebelumnya ga sesuai target gapapa semoga kali ini sesuai targett yaa.

Langsung saja baca cerita aku ya, jangan lupa vote and komenn ya, di sini gratis votee okeyy.

Happy reading

Outhor POV

MATA gadis itu perlahan terbuka karena terkena paparan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela. Matanya mengelilingi ruangan yang tak asing, ruangan yang telah ia tempati akhir akhir ini. Ruangan yang bernuansa pink pastel dan putih, khas warna kesukaan Queenadara Asvella Cakrawangsa.

Adara mengerjapkan matanya, merasa aneh. Semalam ia tertidur di ruang IGD rumah sakit, kenapa sekarang sudah ada di kamarnya?

Pandangan mata Adara langsung beralih ke arah pintu ketika seseorang masuk.

"Morning, Princess," sapa seorang pria sambil tersenyum hangat.

"Papah?!" Adara mengernyit heran, semalam saat ia tertidur ayahnya belum kembali, tapi sekarang malah wajah Keivan yang ia lihat pertama kali? Kenapa bukan Gibran? Padahal orang yang terakhir ia lihat adalah Gibran.

"Kenapa, Sayang? Kok kamu kayak bingung gitu?" Keivan berjalan mendekati putrinya.

"Kok Adara ada di kamar? Semalam kan masih di IGD?" tanyanya heran.

"Kata dokter, keadaan kamu sudah membaik. Makanya Papah bawa kamu pulang. Papah mau bangunin nggak tega, akhirnya Gibran yang gendong kamu," jelas Keivan.

"Papah nggak akan marahin Gibran, kan?" tanya Adara ragu.

"Papah percaya sama Gibran, jadi nggak ada alasan buat Papah marah sama dia." Keivan mengelus puncak kepala putrinya.

"Hari ini Papah akan berangkat ke Australia, Papah ada pekerjaan di sana, mungkin sampai dua minggu." Keivan menatap sendu anaknya, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Adara apalagi dengan keadaannya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

"Papah pergi aja, Adara bakal baik-baik aja, kok. Yang penting Papah harus inget satu hal," kata Adara.

"Apa?" tanya Keivan bingung.

"Di sini Adara menunggu Papah, jadi Papah harus kembali dalam keadaan baik-baik aja. Dan satu hal lagi, jangan lupa oleh-oleh." Adara menyengir lebar dan Keivan hanya terkekeh geli mengacak gemas rambut putrinya.

"Tanpa kamu bilang juga pasti Papah ingat." Keivan tersenyum hangat.

"Sekarang kamu mandi, setelah itu turun ke bawah, kita sarapan bersama." Keivan pun beranjak pergi meninggalkan kamar Adara.

♧♧♧

Ruang inap nomor 204 sangat ramai, padahal hari masih pagi. Namun, sepertinya ruangan itu tak pernah senyap walau hanya sebentar. Irsyad yang juga berada di sana kemudian merogoh saku celananya ketika merasakan sebuah getaran dari ponselnya.

My Bodyguard (GIDARA)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang