~Happy Reading~
☆
☆
☆
Author POV.
TANGAN kecil nan lembut milik Adara bergerak mengusap puncak kepala Gibran saat laki-laki itu memejamkan mata, menahan air mata yang ingin menerobos keluar.
"Nangis aja Gib, kalo itu buat kamu merasa lebih baik." Adara tak menghentikan gerakan tangannya yang membelai lembut kepala Gibran, berusaha memberikan ketenangan untuk lelaki yang dicintainya.
"Gue baik-baik aja," suaranya serak, benar-benar menahan tangis. "Laki-laki juga manusia, Gib. Menangis bukan pertanda lemah, itu hanya sebatas ungkapan lelah bersikap seakan semua baik-baik aja," suara lembut Adara benar-benar membuatnya terlena.
Selama ini, hanya neneknya yang berbicara lembut padanya, tapi kini ia punya Adara yang senantiasa bersikap lembut padanya.
Tanpa aba-aba, Gibran bangkit dari posisi berbaringnya, memilih duduk dan menarik Adara dalam dekapannya.
"Gue cuma pengen punya keluarga utuh, Dar. Bisa ngerasain kasih sayang orangtua, bisa tinggal sama mereka tanpa diasingkan. Gue butuh mereka, bukan harta mereka." Adara tak bersuara, membiarkan Gibran menumpahkan isi hatinya, tangan Adara dengan perlahan mengusap punggung Gibran.
"Dari kecil, gue selalu sendirian, gue selalu kesepian. Saat mereka datang gue seneng, tapi lagi-lagi gue harus nerima kenyataan pahit. Mereka datang bukan karena sayang, tapi hanya ingin mendapat keuntungan." Adara tersenyum pedih, la memang menderita, tapi Gibran jauh lebih dari dia. Laki-laki ini benar-benar tersiksa dengan takdir kehidupan yang semesta tentukan.
"Apa Tuhan benci juga sama gue sampe bikin alur hidup gue menderita? Seakan nggak ada tempat yang cocok buat gue di dunia ini? Sehina apa gue sampe nggak pantas bahagia?" Gibran meracau tak jelas. Suaranya serak, tak banyak air mata yang menetes. Hanya dua tetes air mata yang keluar bukti segala kepedihan.
"Tuhan itu baik, Gib. Tanpa segala derita yang kamu alami, kamu nggak akan tahu arti kehidupan," Adara melepaskan pelukannya, menangkup wajah Gibran yang biasa terlihat sangar kini begitu sendu. "Percaya sama aku, Gib, Tuhan punya rencana terindah untuk kehidupan kamu di masa depan. Masa depan kamu masih panjang, meratapi masa lalu nggak akan bikin kamu maju." Adara tersenyum lembut, menghapus jejak air mata di wajah Gibran. Sekarang kamu nggak sendiri, Gib. Ada aku yang bakal nemenin kamu. Bukan sebagai majikan kamu, tapi sebagai perempuan yang mencintai kamu."
Gibran tersenyum mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Adara. "Terima kasih. Kamu adalah alasan aku bertahan selain Omah."
"Aku nggak tau bakal seheboh apa SMA Angkasa kalau tau orang yang mereka takuti nangis." Adara tertawa puas.
Gibran pun berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Adara yang masih tertawa. "Bod tungguin dong. Masa ngambek, sih." Adara berlari kecil menyusul Gibran.
"Jangan marah dong batu, nanti makin jelek, lho," Adara mencolek lengan Gibran yang sama sekali tak mendapat respons. "Tau ah, sebel banget masa aku dicuekin." Adara berjalan mendahului Gibran.
Gibran menghela napas. Cewek selalu begitu, yang salah siapa yang marah siapa. Padahal Gibran hanya becanda, sama seperti yang dilakukan gadisnya.
Kaki panjang Gibran dengan mudah menyejajarkan langkahnya dengan Adara, merangkul Adara. "Udah nggak usah marah, gue cuma becanda. Ayo pulang, gue traktir tiramisu cake kesukaan lo." Adara menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar. "Uhhh, jadi makin sayang."
Gibran hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah pacarnya ini.
♧♧♧
Dua sejol itu tengah berada di jalan raya Ibukota yang begitu padat. Berlomba-lomba menerobos kemacetan bersama pengendara lainnya. "Dar, di kafe biasa, kan?" tanya Gibran sambil melirik Adara dari kaca spion.
"lya, emangnya mau di mana lagi coba?"
"Siapa tau kamu pengen ke tempat baru," tawar Gibran, tetap fokus menatap jalanan. Dari kecil Gibran sudah tau dimana tempat biasanya Adara beli jajan kesukaanya.
"Maaf nggak minat."
"Yakin? Kalo gitu aku mau lewat jalan pintas biar nggak kena macet."
"Emangnya ada ya? Aku baru tau lho."
"Iya aku juga baru tau, nggak sengaja nemu jalan itu waktu konvoi sama anak-anak."
Adara hanya mengangguk sebagai respons perkataan Gibran. Hal yang paling Adara suka adalah menghabiskan waktu berdua bersama Gibran.
"Pegangin, takut jatuh." Gibran menyerahkan ponselnya pada Adara tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
Tanpa menjawab, Adara langsung mengambil ponsel Gibran. "Aku mau buka HP kamu boleh ya?"
"Nanti aja kalo udah sampe, bahaya kalau sekarang."
"Sebentar doang, deh," tawar Adara.
"Ya udah, tapi kamu pegangan yang bener, nanti jatuh." Akhirnya Gibran mengalah.
Adara tersenyum girang. Tangan kanannya memeluk erat pinggang Gibran, sedangkan tangan kirinya sibuk mengotak-atik ponsel kekasihnya.
Adara mengernyit heran ketika menyadari bahwa mereka memasuki tempat yang cukup terpencil dan sepi."Gib, kamu nggak salah jalan? Ini sepi banget." Adara menatap wajah Gibran dari kaca spion.
"Enggak Dar, emang jalanannya sepi. Waktu gue sama anak-anak juga gini." Gibran menjawab santai, padahal ia merasakan gelisah secara tiba-tiba. Tanpa sadar, Gibran menambah sedikit kecepatan motornya. "Gib, kamu nggak ada niat macem-macem ke aku, kan? Adara bertanya dengan rasa takut. Dirinya sekarang tiba-tiba merasa gelisah, meresa akan ada suatu bencana yang akan datang setelah ini.
"Enggak akan lah, gue nggak sepicik itu."
"Ya siapa tau gitu."
Gibran menarik tangan kanan Adara agar pergelangan tangannya masuk ke dalam saku jaketnya. "Pegangan yang bener, jangan lepas sedikit pun dan jangan main HP!" suruh Gibran dengan tegas.
Adara semakin menekan lengan kanannya masuk ke dalam saku jaket Gibran. Tiba-tiba perasaanya menjadi tak enak, dan ia yakin Gibran juga merasakan hal yang sama. Lalu diam-diam jemari tangan kiri Adara mengetikkan sesuatu di ponsel Gibran. Tak mendapat balasan, Adara menelepon seseorang. Ketika panggilannya terhubung, dengan suara lantang Adara bertanya.
"Kenapa, Gib? Ada apa?" tanya Adara pada Gibran, bermaksud agar orang yang ia telepon mendengar percakapan mereka.
"Gue ngeliat lambang Tiger. Gue rasa daerah ini adalah markas rahasia mereka."
"Tapi mereka nggak ngejar kita, kan?" Adara bertanya gelisah. "Eng... oh shit! Pegangan Dar, mereka ngejar kita!" Gibran semakin menambah kecepatan motornya.
Dengan refleks, Adara melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Gibran, masih dengari panggilan yang terhubung.
☆
☆
☆
~Bersambung~
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bodyguard (GIDARA)
أدب المراهقينWARNING! DI LARANG MENGKOPY! Bismilah ramee banyak yang baca dan votee secara iklas. GIBRANA ALKEINEVANDRA ia adalah pemimpin dari Geng Xvandra. Geng yang menguasai SMA merdeka. Semua kehidupan Gibran berubah saat ia menginjak kelas 12. Teman masa...
