~Happy Reading~
☆
☆
☆
Author POV.
Gibran kecil menatap bingung omahnya yang menangis tersedu. la tidak tahu apa yang terjadi hingga omahnya mengajak pulang ke Indonesia.
"Omah kenapa? Omah jangan nangis." Gibran menggenggam tangan neneknya yang sudah keriput, namun tangan itulah yang selalu memberikan segala kasih sayang.
"Gina meninggal..." Omah mengucapkan dengan lirih, sebuah fakta yang sangat mengejutkan sekaligus menyedihkan bagi Gibran.
"a-apa?" Gibran menangis, air matanya tak bisa dibendung. Meskipun kehadirannya tak pernah diinginkan oleh kedua orangtuanya, tapi Gibran tahu bahwa Gina mensyukuri kehadirannya. Wanita yang berstatus kakaknya itu selalu menyayanginya sepenuh hati. Semua yang dialami Gibran tak membuatnya membenci Gina. la malah begitu menyayangi Kakaknya.
Sampai di rumah lamanya, Gibran langsung berlari memasuki rumah yang begitu ramai oleh karangan bunga berbagai warna, meninggalkan Omah yang memilih langsung pergi ke makam cucu pertamanya.
Gibran berharap masih bisa melihat wajah Gina sebelum dimakamnkan, la ingin bertemu kakak yang begitu disayanginya, kakak yang selalu melindungi dan menyayanginya.
Terlambat.
Gibran tak bisa melihat wajah Gina untuk terakhir kalinya. jasad Gina telah dimakamkan. Yang la dapati hanya rumahnya yang begitu sepi dan hawa dingin mencekam yang menyambut Gibran ketika bertatapan langsung dengan Papahnya.
Papahnya langsung berjalan tergesa menghampiri Gibran yang terdiam mematung. Tanpa ragu, ia langsung mencekik Gibran untuk kedua kalinya.
"Kamu benar-benar anak pembawa sial. Gara-gara kamu saya bangkrut gara-gara kamu saya kehilangan anak saya. Kamu itu sampah. Kamu aib keluarga yang harusnya tidak ada, sialan!"
Papahnya langsung melempar tubuh Gibran kasar. Tak peduli rasa sakit yang diterima Gibran kecil. Tubuhnya sudah dikuasai amarah.
Mamahnya sama sekali tak menatap Gibran, ia memilih beranjak meninggalkan ruang keluarga dan memasuki kamarnya. Dalam hati kecilnya, ia merasa kasihan melihat Gibran. Tapi, ia juga menyalahkan Gibran atas segala kesialan dalam keluarganya.
Papahnya melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya, memukuli Gibran tanpa ampun. Papahnya menulikan telinganya dari segala tangisan Gibran, mengabaikan rasa iba dalam hatinya.
"Harusnya dari dulu aku membuangmu! Kamu itu hanya anak tidak berguna yang membawa kesialan!" Papahnya menendang tubuh Gibran yang tergelatak lemas di lantai.
Tak memedulikan Gibran yang kesakitan, Papahnya memilih masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Gibran dengan segala luka yang ditorehnya.
♧♧♧
Gibran jatuh sakit selama tiga hari. Dan selama tiga hari itu, Papahnya maupun Mamahnya sama sekali tak mendatanginya untuk sekadar melihat keadaannya. Hanya neneknya yang setia merawatnya. Neneknya selalu memberi senyum hangat dan menenangkan untuk Gibran. Hal yang tak pernah ia dapat dari orangtuanya.
Satu hal yang Gibran tahu, bukan hanya dirinya yang tersiksa, neneknya juga merasakan hal yang sama. Setiap malam, Gibran selalu mendengar isak tangis neneknya. Terkadang, ia juga mendengar perdebatan antara Omah dan orangtuanya.
Pagi hari, Gibran sedang disuapi bubur oleh neneknya. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Papahnya masuk ke dalam kamar putra bungsunya, membanting tas koper yang sudah ada isinya. Dari belakang, Mamahnya menyusul masuk. Wajahnya datar dan dingin tanpa ekspresi sedikit pun.
"Keluar kamu dari rumah saya. Kehadiranmu tak pernah kami harapkan." Papahnya menatap tajam Gibran tanpa rasa empati melihat putranya sakit.
Omah berdiri, menatap anak dan menantunya tak habis pikir. "Tega kalian mengusir anak kalian sendiri? Apakah kalian tidak memikirkan keadaannya yang sedang sakit?"
"Kami melakukan ini untuk kebaikan bersama, Bu." Mamahnya menatap penuh arti. "Yang kalian lakukan hanya untuk keegoisan kalian, bukan kebaikan bersama!"
Omah menatap marah mereka. Dengan kasar, ia mengambil koper Gibran yang tergeletak di lantai, kemudian menarik Gibran dari tempat tidur. "Akan kubawa Gibran, aku tak ingin kehilangan cucuku untuk kedua kalinya karena keegoisan kalian." Omah menarik Gibran keluar dari kamar. Gibran menurut ketika tangannya ditarik. Mata anak kecil itu begitu kosong. Tak ada air mata. Mulutnya terbungkam rapat, la sudah muak dengan segala sikap orangtuanya.
Omah berdiri di ambang pintu, air matanya menetes. "Jika kalian berubah pikiran, datanglah ke rumahku." Omah berjalan meninggalkan anak dan menantunya dengan perasaan kecewa.
Geovano kecewa. Sedih. Terluka. Tapi hati kecilnya berharap orangtuanya akan berubah pikiran dan menjemputnya. Tapi itu hanya harapan semu. Hingga satu tahun berlalu, mereka tak juga kunjung menjemputnya. Dan sejak saat itu, Gibran menganggap ia tak memiliki orangtua. Hanya neneknya, Omah widia, wanita berharga dalam hidupnya.
☆
☆
☆
~Bersambung~
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bodyguard (GIDARA)
Fiksi RemajaWARNING! DI LARANG MENGKOPY! Bismilah ramee banyak yang baca dan votee secara iklas. GIBRANA ALKEINEVANDRA ia adalah pemimpin dari Geng Xvandra. Geng yang menguasai SMA merdeka. Semua kehidupan Gibran berubah saat ia menginjak kelas 12. Teman masa...
