Hai hai hai, gausah pake basa basi langsung saja kita masuk ke ceritanya, jangan lupa vote and komen yaww.
" I beg you to believe me, Jangan pernah samain gue sama laki laki brengsek yang pernah menyakiti kamu Dar,"
-Gibrana.
Happy reading
☆
☆
☆
Outhor POV
ADARA duduk termenung di balkon kamarnya. Matahari telah kembali turun dari singgasananya digantikan oleh bulan. Malam itu langit terlihat sangat indah, bulan bersinar begitu terang ditemani taburan bintang. Sejak kepergian mamanya, tak ada lagi yang menemani untuk sekadar melihat bintang.
Perasaan Adara pada Zaki sudah terkubur dalam, namun luka yang ditorehkan cowok itu belum pulih. Dan hari ini, cowok itu malah kembali datang untuk menoreh luka yang baru. Zaki, cowok yang la anggap pelidungnya, ternyata tak lebih dari sekadar lelaki berengsek yang hanya bisa menyakiti perempuan.
"Non Adara," panggil Bi Imah dari luar kamar.
"Iyaa Bi, kenapa?" tanya Adara, sambil berjalan menjauh dari balkon. "Makan malam sudah siap, Non," kata Bi Imah.
"Iyaa, bentar lagi Adara turun."
Adara menutup pintu balkonnya dan berjalan keluar kamar. la mengernyit heran ketika melihat cahaya rumahnya yang remang. Adara penakut. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan makhluk halus.
"Bi... Bi Imah!" panggil Adara sambil berjalan menuruni anak tangga. "Bi Imah... Pak Ahmad!!! Ishhh... ini semua orang pada ke mana, sih?" gerutu Adara sebal. Kakinya terus berjalan menuju ruang makan. Semakin la berjalan ke ruang makan, semakin hilang juga pencahayaan di rumahnya.
Sesampainya di ruang makan, Adara bisa melihat meja makan yang kosong. Tidak ada makanan satu pun, seperti yang dikatakan Bi Imah. Di atas meja, hanya terdapat satu buah lilin yang menjadi satu-satunya penerangan di ruangan tersebut.
Adara berjalan cepat menuju lilin tersebut. Perasaan takut semakin menggerogoti. Sialnya, ponsel yang biasa la bawa kemanapun kini tertinggal di dalam kamar. Di dekat lilin tersebut, terdapat secarik kena yang berisi tulisan: PERGI KE HALAMAN BELAKANG!
Meski ia takut dan bingung, namun rasa penasaran membuatnya malah membawa kakinya pergi ke halaman belakang, dengan membawa lilin yang berada di atas meja untuk dijadikan penerangan, Kakinya melangkah perlahan menuju halaman belakang. Perasaan takut melingkupi dirinya, berbagai pemikiran buruk mulai singgah di bernaknya.
Kaki Adara pun berhenti ketika berada di halaman belakang. la tak berani melangkah lebih jauh. Tidak ada apa-apa di sana selain kegelapan Namun, samar-samar Adara bisa melihat bayangan seseorang. Lalu, tiba- tiba terdengar suara petikan gitar yang membuat Adara sedikit tersentak.
la terkesiap ketika banyak lampu yang menyala. Lampu yang membuat halaman rumahnya yang semula gelap kembali terang. Di atas kolam renang, terlihat seorang lelaki yang duduk sambil menangku gitar.
"Bod...?" gumam Adara pelan sambil mengerutkan keningnya. Namun, rasa terkejutnya langsung hilang, digantikan dengan perasaan kagum. Entah mengapa, Adara merasa malam itu Gibran terlihat sangat tampan. Kemeja putih dan celana chino berwana krem. Rarnbut yang biasa berantakan kini terlihat lebih rapi. Ditambah dengan alunan lembut petikan gitar yang Gibran mainkan, membuat hatinya nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bodyguard (GIDARA)
Fiksi RemajaWARNING! DI LARANG MENGKOPY! Bismilah ramee banyak yang baca dan votee secara iklas. GIBRANA ALKEINEVANDRA ia adalah pemimpin dari Geng Xvandra. Geng yang menguasai SMA merdeka. Semua kehidupan Gibran berubah saat ia menginjak kelas 12. Teman masa...
