Bastian sangat bahagia karena dia baru saja dibelikan handphone baru. Katanya, yang lama sudah hilang. Bastian langsung mengunduh media sosial dan membuat akun media sosial baru dengan nama akun yang keren tentunya.
"Bang, gue punya tebak-tebakan, hewan apa yang mirip babi?" ucap Bastian dengan wajah penasaran. Abangnya, yang sedang sibuk tugas, pun penasaran dengan tebak-tebakan adiknya.
"Bulu babi, babi hutan, babi mini," ucap Marvin. Hanya itu jawaban yang ada di otaknya.
"Jawaban abang salah semua," ucap Bastian dengan wajah tengil. Marvin yang melihat gelagat aneh adiknya semakin penasaran.
"Terus jawabannya apa dong? Jangan bilang mirip abang," ucap Marvin dengan wajah merah sambil mendekati Bastian.
"Itu tahu! Hahaha," ucap Bastian sambil tertawa karena digelitik oleh abangnya. Tiba-tiba, orang tua mereka datang membawa makanan.
"Sudah, Bang. Kasihan adikmu, makan dulu. Tadi Papi Mami belikan ayam bakar kesukaan kamu, dan adik makan sup bikinan Mami ya, sup ayam kesukaan kamu." Mereka akhirnya makan bersama, Bastian disuapi oleh Maminya.
Arsen yang melihat ini sangat terharu. Sudah lama keluarganya tidak begini. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa meluangkan waktu untuk keluarga. Kejadian yang menimpa Bastian menjadi pengingat untuk lebih menghargai waktu bersama keluarga.
Bastian merasa ragu untuk meminta izin agar bisa kembali sekolah dan meminta motor, karena keluarganya sangat posesif terhadap si bungsu. Namun, dengan keyakinan penuh, Bastian akhirnya mengatakannya, meskipun dengan terbata-bata.
"Papi, hmm... nanti boleh gak Bastian sekolah di tempat yang dulu, dan Bastian mau dibelikan motor, boleh?" Bastian memohon, melihat wajah Papi-nya yang kaget, sudah pasti tidak diizinkan.
"Kenapa kamu mau kembali ke sekolah itu? Terus, sejak kapan kamu bisa naik motor? Naik sepeda saja kamu belum bisa. Sebenarnya, dari lubuk hati Papi yang terdalam, Papi tidak mengizinkan kamu itu semua," ucap Arsen sambil menatap mata anaknya. Arsen takut kejadian dulu terulang, kejadian di mana dia hampir gila karena takut kehilangan Bastian.
"Yah Papi, kenapa begitu sih? Bastian malas adaptasi di sekolah baru. Sebenarnya Bastian sudah lama belajar naik motor diam-diam, tapi itu motor tua punya teman Bastian. Sayangnya, dia meninggal karena ditabrak truk. Ayolah, Pi, boleh ya sekolah di sana lagi? Kalau enggak, Bastian ngambek sama kalian semua," ucap Bastian sambil memasang wajah ngambeknya yang menggemaskan.
"Tapi, Nak, lingkungan sekolah itu tidak baik. Buktinya, kamu dibully sampai koma. Kalau soal motor, oke, Papi kasih, tapi masalah sekolah, Mami dan Papi tidak setuju. Tolong pengertiannya, Nak. Kami takut kamu kenapa-napa lagi," ucap Arsen sambil menatap wajah si bungsu. Namun, Bastian tetap ngambek.
"Pokoknya Bastian ngambek sama kalian sampai kalian izinin Bastian ke sekolah itu, baru Bastian gak ngambek lagi," ucap Bastian sambil membelakangi orang tua, benar-benar ngambek.
Skip – Bastian pulang dari rumah sakit
Dengan wajah cemberut, Bastian melihat jalan yang cukup ramai dari kaca. Dari tadi abang mengajak Bastian ngobrol, tapi tidak digubris. Dia masih ngambek sampai mereka mengizinkannya sekolah di tempat yang dia sebut "tempat sampah" itu.
"Bastian, kamu kapan selesai ngambeknya? Abang gak bisa lihat kamu kayak gini. Mana Bastian yang selalu ceria, yang hobinya ganggu abang?" ucap Marvin dengan nada dramatis sambil mencolek-colek lengan Bastian, namun tetap tidak digubris.
Papi dan Mami hanya diam. Mereka masih bingung apakah akan mengizinkan Bastian kembali ke sekolah itu atau tidak. Di satu sisi, mereka tidak bisa lama-lama didiamkan seperti ini oleh bungsu kesayangan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUE JADI KAYA !
Teen FictionBudi Satryo merupakan seorang anak yang hidup sederhana yang meninggal kerena kecelakaan dan berakhir berpindah jiwa ke tubuh Bastian Umran Mahendra anak yang koma dua bulan kerena menjadi korban bully oleh kakak kelasnya bastian merupakan orang...
