3 - Apa Kabar, Athaku?

274 21 3
                                        

‘’Mau langsung pulang? Ngopi dulu di kafe depan yuk!’’ ajak Geka ketika mata kuliah terakhir hari ini selesai. ‘’Gue yang traktir, tapi buat Atha doang. Kalo kalian bayar sendiri.’’

‘’Lo mau traktir Atha doang? Gak terima gue, Gek! Apa gue kurang cantik sampe lo gamau traktir gue juga?’’ sembur Theo sambil menunjuk-nunjuk dirinya yang dramatis. ‘’Udah bertahun-tahun kita nempel terus, tapi hari ini lo berpaling dari gue?! Gue gak ikhlas!’’

‘’Gek, sahabat lo kambuh,’’ kata Rezvan tak heran lagi pada Theo yang suka bercanda seperti itu. ‘’Lo suka jadi cowok cantik, The? Kalo gue sih sukanya jadi cowok ganteng."

‘’Nyerah gue sama manusia ini. Kalo nanti ketemu mobil sampah di jalan, tolong suruh angkut orang gila ini juga ya,’’ canda Geka.

Theo mempoutkan bibirnya sebal. ‘’Geka jahat!’’

Reatha tersenyum tipis melihat interaksi ketiga temannya yang suka bercanda itu.

‘’Wow, Atha yang biasanya cuek barusan senyum?’’ takjub Theo. ‘’Manis banget senyumnya. Bikin Bang Geka klepek-klepek.’’

‘’Eh, apa-apaan lo kok bawa-bawa nama gue?’’ Jantung Geka berdebar kencang gara-gara Theo menyinggung namanya.

Apa jangan-jangan kelihatan sekali ya kalau dirinya jatuh hati pada Reatha? Gawat, nih.

‘’Bercanda cok! Kok muka lo panik gitu? Jangan-jangan lo emang suka sama Atha, ya?’’ tanya Theo to the point tanpa beban dan asal nanya.

Geka tiba-tiba menghentikan langkahnya. Membuat Reatha, Rezvan, dan Theo ikut berhenti juga. Mereka bertiga sama-sama menatap ke arah Geka. Geka kesulitan bernapas kala saling beradu tatap dengan Reatha.

‘’Kok gak dijawab? Lo beneran suka sama sahabat gue, nih?’’ canda Rezvan sambil merangkul Reatha.

‘’Eng-enggak!’’ jawab Geka akhirnya.

‘’Ah, shit! Kenapa gue malah terbata-bata? Kan keliatan banget kalo gue beneran suka,’’ rutuk batin Geka.

‘’Men-cu-ri-ga-kan,’’ tuding Theo seperti orang yang sedang mengeja.

‘’Baru juga kenal masa udah suka aja. Jangan gitulah kalian, nanti Atha gak nyaman. Iya, kan, Atha?’’ elak Geka agar situasi yang membuatnya deg-degan ini berakhir.

‘’Biasa aja sih. Karena gue udah biasa direbutin sama cowok ganteng,’’ canda Reatha. ‘’Gue banyak yang suka.’’

‘’Anjay, cool! Keren banget jawabannya. Gue suka gaya lo, Atha.’’ Theo mengacungkan kedua jempol tangannya.

Rezvan tersenyum senang. Setelah sekian lama sejak Agha meninggal, ini pertama kalinya Reatha mengeluarkan kalimat candaannya lagi. Rezvan patut mengucapkan terima kasih pada dua manusia berisik ini. Rezvan sadar kalau Reatha mulai nyaman berteman dengan Geka dan Theo. Syukurlah, setidaknya Reatha mulai bangkit dari laranya seusai ditinggal Agha.

Sebelum pergi ke kafe yang Geka maksud, Rezvan menjemput Sekar terlebih dahulu di Fakultas Psikologi. Rezvan hari ini berangkat kampus dengan mobil milik ayah sambungnya. Jadi, sekarang Reatha ikut ke mobil Rezvan. Sementara itu, Geka dan Theo pergi ke sana dengan vespa abu-abunya Theo. Hari ini Geka memang ke kampus dijemput Theo.

‘’Gek, serius gue nanya, lo punya perasaan ke gue, kan?’’ tanya Theo ketika motornya mulai melaju keluar dari parkiran khusus motor FEB.

Grey & MiseryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang