"Selamat datang, putriku, Athaku."
Geka mematung. Apa maksud papanya? Kenapa beliau memanggil Reatha dengan sebutan putriku? Geka tidak salah dengar, kan?
"Ayah rindu sama kamu, putriku, Reatha." Bawara, ayahnya Reatha dan Geka, berjalan mendekat ke arah putri yang telah ditelantarkannya lebih dari dua belas tahun itu. "Besok ajak Bang Gale juga ke sini, ya? Ayah juga kangen banget sama anak laki-laki pertama Ayah. Istrinya lagi hamil, kan? Duh, Ayah udah jadi calon kakek."
Bawara memeluk Reatha. "Jangan sedih kalo Ibu meninggal, kamu masih punya keluarga. Kamu punya kakak dan adik laki-laki kamu, Geka. Kamu udah dekat, kan, sama Geka? Ayah sering mantau kalian berdua."
Reatha terisak. Tangan gemetarnya mendorong Bawara menjauh, bertepatan dengan Erlina--mamanya Geka dan Mega--muncul di sana. Mega juga datang. Malam ini memang sudah direncanakan oleh Bawara dan Erlina.
"Dua belas tahun! Dua belas tahun tanpa kabar dan sekarang tiba-tiba muncul begini?! Punya selingkuhan?!" Reatha memukul dada Bawara. Meluapkan amarahnya.
"GILA! AYAH GILA! AYAH BRENGSEK!" erang Reatha. "Pas Atha kecil Ayah pamitan mau berangkat kerja, tapi gak pernah pulang. Kami putus asa. Kami pikir Ayah udah meninggal. Ternyata, Ayah bangun keluarga sama wanita lain! Pas Ibu udah meninggal baru muncul tiba-tiba? PENGECUT! BAWARA PENGECUT!"
"Kenapa enggak cerai aja sama Ibu dari dulu? Kenapa harus sembunyi-sembunyi kayak gini?! KENAPA HARUS SELINGKUH? STRESS LO BAWARA!" Kemurkaan Reatha berlanjut.
Geka dan Mega sama-sama terdiam. Mereka juga baru tahu fakta ini. Fakta bahwa ibu mereka adalah istri keduanya Bawara.
"Kenapa Ayah jahat banget?! Kenapa Ayah nelantarin kami?!" Reatha tersedu-sedu. "Selama ini Ayah sembunyi di mana?!"
Bawara memegangi pundak Reatha. Putri kecilnya itu sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Bawara menghela napas, lalu menggandeng tangan Reatha agar duduk di sofa ruang tamu.
Bukan hanya Reatha, Geka kini ikutan menangis. Geka ikutan syok dan berharap semuanya tidak benar.
"Apa maksud Papa? Papa pasti bercanda, kan?!" bentak Geka meminta penjelasan lebih lanjut. "Bilang ini semua candaan, Pa!"
"Ayo duduk dulu," pinta Erlina pada Mega dan Geka. "Ini bukan candaan. Reatha, saudari kalian. Saudari beda ibu."
Bawara menceritakan semuanya. Dua belas tahun lalu, Reatha berumur enam tahun. Bawara bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan. Pagi itu, Bawara berpamitan pada Rona, Gale, dan Reatha untuk berangkat kerja ke luar kota. Ternyata itu semua kebohongan semata. Bawara tidak pernah berangkat ke luar kota, tetapi lebih dari itu. Bawara pergi ke luar negeri, tepatnya ke Australia. Erlina lulus beasiswa magister di Australia. Ini menjadi alasan utama Bawara pindah ke Australia. Di sana dia bekerja penuh waktu di sebuah kebun dengan gaji yang lumayan untuk membesarkan Mega dan Geka.
Sesudah menyelesaikan studi magister di jurusan Manajemen Bisnis, mereka tidak langsung pulang ke Indonesia. Bawara dan Erlina berkarir di sana sekaligus mencari modal usaha. Kala Mega lulus SMP, mereka kembali ke Indonesia, ke Jakarta tepatnya. Mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Modal usaha yang terkumpul itu berjalan sukses. Sekarang mereka memiliki bisnis WO (wedding organizer) yang tidak pernah sepi serta catering untuk pernikahan dan berbagai acara.
For your information, dua tahun sebelum Reatha lahir, Bawara menikahi Erlina tanpa sepengetahuan Rona. Mega datang ke dunia ini lebih duluan sebelum Reatha. Beda usia ketiganya adalah setahun. Mega setahun lebih tua dari Reatha. Dan Reatha setahun lebih tua dari Geka. Sementara itu, Gale adalah anak tertua. Beda usianya dengan Reatha adalah sepuluh tahun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Teen Fiction(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
