Ada lima hospital bed di IGD rumah sakit di mana Savero membawa Reatha. Ada satu bed yang masih kosong, tepat di ujung ruangan. Maka dari itu, kedatangan Reatha membuat seluruh bed penuh. Seorang dokter langsung mengecek kondisi Reatha. Agar dokter mengetahui lebih detail, Savero menceritakan hal-hal penting yang dapat diputuskan untuk tindakan selanjutnya.
Dokter mengambil kesimpulan kalau Reatha tengah lelah fisik dan batin. Reatha butuh istirahat dan ketenangan. Jadi, perawat menyuntikkan vitamin ke dalam cairan infus. Jika di tengah observasi ini Reatha siuman dan berangsur membaik, maka dia tidak perlu menginap.
Selepas dokter pergi, Savero menarik sebuh kursi dan mendudukkan dirinya di sana. Tangannya menggenggam erat tangan Reatha. Harapannya, genggamannya dapat memberikan kekuatan pada Reatha. Genggaman tersebut tidak berlangsung lama. Savero mengambil ponselnya dari saku celananya. Jemarinya menggulir nama kontak dan berhenti di nama abangnya Reatha. Savero pun menelepon Gale, memberitahu keadaan Reatha.
Selepas itu, Savero menatap wajah Reatha lekat-lekat. Sisi mereka hening, hanya deru napas lemah Reatha. Namun, sisi sebelah riuh. Di balik tirai sebelah ada pasien tukak lambung yang menangis kesakitan karena kambuh. Tidak hanya pada Reatha, doa-doa Savero juga terpanjat untuk siapa pun yang tengah sakit di rumah sakit ini segera sembuh.
Dua puluh menit berlalu. Gale dan Sera datang dengan kepanikan di wajah keduanya.
‘’Adek gue kenapa?’’
‘’Atha kenapa?’’
‘’Atha syok, sama kecapekan, karena ini,’’ jawab Savero sembari menampilkan layar ponselnya yang menunjukkan rekaman teleponnya ketika Reatha bertemu Bawara tadi. ‘’Bang Gale perlu tau ini. Bang Gale denger di luar aja. Jangan di sini, kasian Atha kalau tiba-tiba bangun dan dengar percakapan ini. Atha butuh ketenangan, Bang.’’
Gale mengangguk. Dia meraih ponsel Savero untuk mendengar rekaman tersebut di luar rumah sakit. Tidak sendirian, Sera setia di sisinya. Sama seperti reaksi Reatha saat pertama kali bertemu dengan Bawara setelah sekian tahun ditinggalkan, mata Gale berkaca-kaca. Debaran jantungnya menggila. Tangannya mengepal. Emosinya naik ke ubun-ubun. Sesudah mendengarkan rekaman emosional itu, Gale kembali ke IGD.
‘’Kirim alamat laki-laki brengsek itu ke gue!’’ titah Gale pada Savero sambil mengembalikan ponsel tersebut pada sang empunya.
Savero mengirim alamat Bawara ke WhatsApp Gale.
‘’Sayang, kamu di sini aja jagain Atha sama Savero, ya. Kamu gak boleh capek,’’ pinta Gale pada Sera. Meski tengah emosi, tatapannya akan melembut tiap menatap wajah dan mata perempuan tercintanya.
‘’Kalo kamu emosian, aku ikut juga.’’ Sera was-was. "Aku gak mau kamu main tangan dan ngancam nyawa kamu sendiri."
Gale menggeleng. ‘’Gak boleh. Bahaya buat kesehatan calon anak kita. Kamu di sini aja, sayang,’’ tekan Gale memerintah.
Sera akhirnya mengangguk. ‘’Hati-hati, jangan ngebut di jalan! Jangan menggebu-gebu!’’
‘’Pokoknya kamu tenang, I will be okay, my wife.’’ Gale mengecup dahi istrinya sebelum melenggang pergi menemui ayah brengseknya.
‘’Kak Sera duduk aja, ini.’’ Savero menyerahkan kursi yang didudukinya beberapa saat lalu. Setiap hospital bed hanya memiliki satu kursi untuk keluarga pasien.
‘’Makasih,’’ balas Sera sembari duduk.
****
Sebuah jembatan, agak sepi, Geka menghentikan motornya di sana. Tempat di mana dia seharusnya tidak boleh menepi. Kilauan bulan memantul pada air sungai di bawah sana. Geka berteriak, usahanya melepas kesesakan dari dadanya. Meski berkali-kali berteriak, rasa sakitnya tak kunjung memudar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Teen Fiction(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
