Hingga pagi hari, Reatha masih memikirkan siapa yang mengirimnya setangkai mawar merah muda dan surat kecil semalam. Di surat tersebut, orang itu menyapanya dengan panggilan Athaku. Membuatnya mengingat Agha saja. Dulu Agha sering memanggilnya dengan panggilan tersebut.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Reatha buru-buru keluar dari kamarnya menuju depan untuk melihat siapa yang datang. Reatha tidak langsung membuka pintu. Dia memeriksa terlebih dahulu melalui kaca jendela.
Davanka Palmer? Untuk apa lelaki jahat itu ke rumahnya pagi-pagi?
‘’Ngapain lo pagi-pagi ke rumah gue?! Mau jahatin gue lagi?!’’ serang Reatha kala tangannya sudah membuka pintu rumah lebar-lebar.
Lirikan mata Reatha terarah ke tangan kanan Vanka yang tengah menenteng keranjang kecil berisi roti.
For your information, Vanka adalah sepupunya Agha. Ketika Agha masih hidup, Vanka sangat jahat pada Agha. Tak hanya Agha, bahkan Reatha pun pernah dicelakai oleh Vanka hanya karena cewek itu pacarnya Agha.
Pada hari meninggalnya Agha, Vanka baru mengetahui kalau Agha sangat menyayanginya seperti seorang saudara kandung. Vanka menyesal telah berbuat jahat pada Agha. Sampai-sampai pada hari itu dia menjatuhkan dirinya ke lautan dan berharap mati juga. Namun, dia diselamatkan oleh tiga orang pengunjung pantai yang tak sengaja melihatnya.
‘’Gue ke sini cuma mau kasih roti ini. Gue denger, Ibu lo sakit,’’ kata Vanka dengan suara rendah sembari menyerahkan keranjang tersebut ke Reatha. Akan tetapi, Reatha tak mau menerimanya.
Reatha malah menepisnya hingga keranjang itu jatuh ke lantai. Untungnya roti-roti yang Vanka bawa masih terbalut plastik bening sehingga tak kotor bila terjatuh.
‘’Lo mau kasih roti selai itu ke Ibu gue? Emangnya gue bisa percaya sama pembunuh kayak lo? Gimana kalo ternyata roti itu ada racun? Dulu lo sering banget celakai Agha, dan sekarang mau celakai Ibu gue juga?! Beneran psikopat lo, Vanka! Gue benci banget sama lo!’’ teriak Reatha dengan mata mulai berkaca-kaca.
Dia mengingat kebejatan Vanka di masa lalunya dengan Agha. Kadang Reatha berharap kalau yang seharusnya meninggal bukan Agha, tapi Vanka.
‘’Rotinya baru gue beli tadi pagi, aman kok. Dan juga, niat gue baik ke sini. Gue mau ngobrol sama Ibu lo sekaligus ngucapin terima kasih karena dulu sering jadi tempat curhat mendiang istri gue,’’ jelas Vanka sambil menatap roti-roti di lantai.
‘’Alah, gak percaya gue sama lo! Sana pergi! Jangan kotorin lantai rumah gue dengan kehadiran orang gila macam lo,’’ usir Reatha. ‘’Kalo bisa, jangan pernah muncul lagi di depan gue!’’
Reatha segera masuk dan menutup pintu rumahnya. Sedangkan Vanka terdiam sesaat, lalu membungkuk untuk memunguti roti-roti serta memasukkannya kembali ke dalam keranjang. Vanka menarik garis senyum di wajahnya meski sedang kecewa karena diusir oleh Reatha.
‘’Gak papa, setidaknya lo udah berusaha,’’ gumam Vanka untuk dirinya sendiri.
Sesudah memunguti roti-roti tersebut, Vanka kembali menegakkan badannya. Vanka melangkah menuju mobilnya yang terparkir rapi di halaman rumah Reatha. Sebelum pergi mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Kyra, istrinya, Vanka hendak pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.
****
‘’Ayah! Itu mobil Ayah!’’
‘’Ayah datang. Yeay!’’
‘’Ayah pasti bawa hadiah buat kita!’’
Tiga anak laki-laki berusia tujuh tahun berseru sambil menyerbu mobil Vanka yang baru parkir di parkiran sebuah panti asuhan. Vanka bak terlahir kembali pada hari dia diselamatkan oleh orang-orang baik di laut. Vanka yang jahat itu sudah tidak ada lagi. Vanka yang sekarang patuh pada orangtua, ramah, dan suka berbagi. Dia juga tak pernah lagi main ke kelab malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Novela Juvenil(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
