8 - Payung

135 14 9
                                        

Di ufuk Barat sana mentari tak akan lama lagi bersembunyi. Artinya kegelapan akan segera tiba. Saat acara Blessing Ceremony resmi ditutup, para mahasiswa mulai bubar. Semuanya berpencar pulang atau menuju ke rencana masing-masing. Reatha bersama tiga mahasiswa yang sudah mendedikasikan diri untuk menjaganya masih berada di dekat parkiran gedung utama FEB.

''Atha dijemput siapa?'' Rezvan menanya. ''Mau pulang bareng? Bentar lagi Ayah jemput gue.''

''Sama gue aja yuk! Bentar lagi dijemput pakek jet pribadi sama Pak Presiden,'' canda Theo yang hobinya berkelakar.

''Jangan, Tha! Nanti virus gilanya Theo menyebar ke tubuh lo juga.'' Geka ikut bersuara. ''Pulang sama gue aja yuk! Bentar lagi Mama gue jemput.''

Reatha menyunggingkan senyumnya pada ketiga lelaki yang menawarinya pulang bersama. Ketiga lelaki itu bukan sembarang orang yang merayunya pulang bersama. Karena ketiganya adalah orang-orang yang dianggapnya sangat berharga.

Reatha bersyukur memiliki teman-teman yang terasa seperti keluarga. Jika mengingat kejadian tadi pagi mungkin rasa sakit hatinya akan kembali menyerang, namun dengan hadirnya ketiga cogan tersebut dia merasa terhibur.

''Gue enggak pulang sama siapapun di antara kalian,'' balas Reatha.

''Lah, kok gitu? Berani-beraninya lo nolak cowok ganteng macam gue. Jeno lo aja kalah ganteng sama gue. Gue sakit hati, Tha, karena lo nolak gue.'' Theo berucap dengan dramatis.

''Si Theo mulai kumat.'' Geka menghela napas.

''Emangnya Theo pernah waras?'' Rezvan geleng-geleng kepala. Tangannya sibuk mengetik balasan pesan Sekar di ponselnya.

''Denger ya, Theo. Jeno gue seribu kali lipat lebih ganteng dari lo.'' Reatha bertutur membela Jenonya. ''Dan gue duluan ya semua. Gue udah dijemput.''

''Siapa yang jemput lo?'' tanya Theo.

''Savero,'' jawab Reatha bertepatan dengan mobil putih mewah tiba.

''Sabar, Gek.'' Theo langsung berbisik di telinga Geka. Theo tahu kalau sahabatnya bakalan kepanasan melihat Reatha pulang dengan cowok lain.

''Gue tau, pasti lo berharap kalo yang pulang sama Atha sekarang adalah lo.'' Theo mendesis lagi.

Geka tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia memilih diam dan benar-benar kepanasan.

Tidak sampai semenit setelah mobil mewah itu berhenti di dekat mereka, Savero keluar dari mobilnya. Dia menyapa ketiga teman Reatha dengan ramah, namun pada Geka agak dongkol. Karena Savero tahu kalau Geka berpotensi merebut Atha-nya.
Hati Savero terenyuh kala melihat plester di dahi Reatha. Tidak sekarang, tentunya nanti kala mereka sudah duduk bersebelahan di dalam kendaraan beroda empat itu dia akan mengaju tanya.

Savero menunduk. Tangannya bergerak mengangkat barang-barang Reatha dan menaruhnya di bagasi mobil.

''Dahi lo kenapa?'' Savero akhirnya bertanya kala Reatha telah duduk di sebelahnya dan mobil sudah mulai melaju menjauhi pekarangan FEB.

Reatha tidak langsung menjawab. Dia terdiam lama dan melamun.

''Kenapa Atha? Ada kejadian yang gak mengenakkan? Cerita ke gue.'' Savero memberikan tatapan khawatirnya. ''Gue berhak tau, kan?''

Reatha menarik napasnya dalam. ''Iya, lo berhak tau.''

Reatha pun menceritakan semuanya, bagaimana jahatnya Agnes ke dia. Reatha bisa merasakan suasana di dalam mobil berubah menjadi tegang. Bulu kuduknya meremang ketika menyadari tatapan teduh Savero berubah menjadi tajam dan menggelap. Tangan Savero yang sedang menyetir pun terkepal rapat.

Grey & MiseryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang