Keesokan harinya. Usai subuh, hari masih gelap sebab mendung dan hujan deras. Seharusnya di hari kedua blessing ceremony ini mereka ada agenda senam pagi, namun keadaan tidak memungkinkan sehingga mereka semua diminta oleh panitia untuk menetap di dalam tenda. Reatha tersenyum ketika mendapat chat dari savero. Pemuda itu mengucapkan selamat pagi dan meminta Reatha untuk terus berhati-hati ketika tahu tempat acara blessing ceremony sedang diguyur hujan lebat.
Reatha yang tengah serius chatting-an dengan Savero agak tersentak ketika Agnes masuk ke tenda dengan wajah paniknya.
‘’Atha, tolongin gue,’’ isak Agnes dengan derai air mata.
Sebagai manusia yang memiliki rasa empati, Reatha ikut panik melihat Agnes menangis begitu. ‘’Lo kenapa?’’
Reatha memutar kepalanya ke belakang, teman-teman sekelompoknya yang lain melanjutkan tidur.
‘’Atha, tolongin gue. Gue takut dimarahin sama Papa gue,’’ isaknya lagi.
‘’Tadi subuh salah satu kakak panitia minta tolong gue buat ambil air di sungai. Terus tiba-tiba hujan, jadi kami buru-buru lari ke area tenda. Waktu itu gue enggak sadar kalo cincin pemberian mendiang nenek gue jatuh. Gue baru aja nyadar. Gue takut dimarahin Papa, Atha. Karena itu satu-satunya hadiah berharga yang ditinggalin mendiang nenek gue. Papa gue selalu ingatin gue buat jaga baik-baik hadiah dari nenek gue itu. Gue takut dimarahin Papa. Lo tau kan, Papa gue rektor terus dia agak galak,’’ jelas Agnes panjang lebar.
Reatha menepuk-nepuk bahu Agnes berusaha untuk menenangkan temannya itu. ‘’Terus lo mau gue bantuin apa sekarang?’’
‘’Bantuin gue cariin cincin itu dekat sungai. Please, tolongin gue, Atha. Cincin itu berharga banget,’’ jawab Agnes meyakinkan sambil menyeka air matanya.
‘’Tapi, kita dilarang pergi ke dekat sungai di waktu pagi kayak gini. Hujan lagi lebat banget. Kita tunggu sampai hujan reda, ya.’’ Reatha menolak dengan halus.
‘’Kalo cincin itu terbawa air hujan gimana, Atha! Bayangin kalo itu hadiah pemberian dari orang yang lo sayang banget. Terus orang itu udah gak ada,’’ desak Agnes dengan mata mulai turun air mata lagi.
Reatha terdiam. Jika itu hadiah dari mendiang Agha, pasti dia akan berlari sekarang untuk mencarinya dan menghadapi segala badai demi menemukan benda berharga tersebut. Reatha tanpa kesadaran penuh mengangguk dan mulai berdiri.
‘’Ayo kita cari,’’ katanya.
Agnes mengangguk. ‘’Makasih Atha. Lo baik banget.’’
Bersama satu payung, akhirnya mereka berdua pergi mendekati sungai. Di jalan menuju sungai, Reatha menyadari kalau di sana menjadi sangat sepi. Orang-orang pasti sedang menetap di dalam tenda karena hujan deras tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Reatha melipat lengannya di atas dada. Kemudian dia menggosok-gosokkan tangannya agar hangat.
Jantung Reatha berdebar kencang ketika langkahnya mulai tiba di dekat sungai. Tempo hari air sungai sangat jernih dan agak tenang, namun sekarang berubah menjadi kecokelatan dan deras.
Reatha kemudian melirik ke arah Agnes yang mulai mencari cincinnya. Ketika Reatha membelakangi Agnes, tiba-tiba dirasakannya sesuatu yang berat mendorongnya keras. Mata Reatha terbelalak. Tak bisa dihindari, dahinya membentur batu besar di bibir sungai dan tubuhnya jatuh ke dalam arus air. Celaka, Reatha tidak bisa berenang.
Reatha hendak meminta tolong, namun dia tak mampu sebab air sungai masuk ke dalam mulutnya. Sambil mengepak-ngepak di dalam air, dia melihat Agnes menyeringai di atas sana. Kenangan buruk hari itu kembali berputar. Hal serupa pernah terjadi dulu, saat Agha masih ada. Bedanya kali itu dalangnya adalah sepupu jahat Agha, si Vanka itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Teen Fiction(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
