13 - Run to Me!

37 7 3
                                        

Hi, I'm back^^

Laptop aku rusak plus hp aku lelet banget kalo buat ngetik, jadi aku updatenya lama bgt yaa

Dan juga, provinsi aku lagi kena musibah. Aceh banjir dan longsor 🥀

Alhamdulillah tempat aku gak kenak, tapi dampaknya di daerah aku 20 hari lebih listrik mati (hidup cuma tiga hari sekali itu pun beberapa jam doang), jaringan internet gak ada, gas buat kompor langka, berasa kembali ke tahun 1970an.

Aku aman, tapi saudara-saudara aku di daerah lain harus ngungsi, kelaparan, etc. It hurts me, so bad. Apalagi dapat kabar ada ribuan orang yg meninggal (Pray for Aceh & Sumatera)🥀🥀

It reminds me of the Tsunami in 2004, in Aceh😭😭

Ugh🤧 Alright, enough, time for you to enjoy this part. Happy Reading!

****

Air mata Reatha mengering, namun laranya tidak. Satu per satu orang meninggalkan pemakaman. Sekarang tinggal Reatha, Savero, Gale, Sera, Sekar, dan Rezvan di sana. Sementara Geka dan Theo sudah balik duluan ke rumah Reatha.

Di dekat gundukan tanah dengan taburan bunga segar itu Reatha berlutut. Reatha tidak mau pulang ke rumah yang tidak ada ibunya. Reatha ingin terus di tempat ini.

Gale menyentuh bahu adiknya. "Atha, pulang yuk! Atha belum makan dari semalam."

"Atha mau tinggal di sini sama Ibu," jawabnya tak masuk akal.

"Atha gak boleh kayak gini. Atha perlu lanjutin hidup juga. Atha masih punya Abang. Abang sama Kak Sera bakalan tinggal di rumah sama Atha." Gale terus membujuk, namun Reatha tak mengindahkannya.

Savero berjalan mendekat. "Bang Gale pulang aja duluan. Kasihan Kak Sera, nanti kelelahan. Bang Gale juga butuh istirahat. Atha biar kami yang urus. Bang Gale gak usah khawatir."

Dari suara hingga raut wajah Savero ada kesungguhan, maka dari itu Gale setuju dengan tawaran Savero. Dan memang benar, dia dan Sera tampak lelah.

"Iya, Bang. Atha aman sama kami," tambah Rezvan meyakinkan.

Akhirnya, Gale dan Sera berlalu duluan. Bagaimanapun, keduanya amat terpukul juga dengan meninggalnya Rona. Ditambah saat ini Sera sedang hamil, jadi mereka harus berhati-hati.

Sementara itu, Sekar merangkul tubuh rapuh Reatha. Sekar tidak banyak berbicara, namun dia setia di sisi sang sahabat.

“Atha, mau pulangnya kapan?” tanya Savero hati-hati.

‘’Pulang? Kalian pulang duluan aja ke rumah. Mulai hari ini … gue ikut mati,’’ ujar Reatha dengan sorot mata kosong. ‘’Jadi, gue mau di sini aja.’’

‘’Oh, lo gak mau pulang?’’ Savero pun duduk bersila di sebelah Reatha. Tak peduli tanah mengotori celananya. Dia mendongak, melirik ke arah Rezvan dan Sekar. ‘’Kalian pulang aja duluan, gue mau temenin Atha.’’

‘’Gak usah temenin gue,’’ tolak Reatha keras kepala. ‘’Gue pengen mati!’’

‘’Ya udah, ayuk, kita mati bareng!’’ tantang Savero yang sukses membuat Reatha terdiam. Rezvan dan Sekar terkejut bersamaan, mereka tidak berencana berlalu duluan. Mereka berjanji akan pergi dari sana kalau Reatha juga ikut.

‘’Lo gila?!’’ bentak Reatha. Matanya yang memerah mulai berkaca-kaca lagi.

‘’Iya, gue gila. Lo baru tau?’’ Savero kemudian berbisik di telinga Reatha. ‘’Atha, gue enggak serius pas gue ajak kita mati bareng. Kita udah enggak sopan lagi. Kita bilang pengen mati di tempat yang enggak seharusnya. Gue yakin, banyak pemilik makam di sini yang ingin umurnya panjang, yang gak ingin meninggal dulu. Terus dengan entengnya kita bilang pengin mati di sini. Walaupun mereka udah enggak hidup lagi, gue yakin mereka bisa dengerin kita. Jangan lukain perasaan orang-orang yang udah mendahului kita. Gue juga yakin, Ibu lo sedih banget liat kondisi lo kayak gini. Jadi, ayo tunjukin ke Ibu kalo lo itu kuat. Tunjukin senyum manis lo.’’

Grey & MiseryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang