15 - Should I Wait?

43 7 0
                                        

🎵Play: Take My Half - Beomgyu of TXT 🎶

****

Tak terasa sudah tujuh hari sejak berpulangnya Rona. Sudah tujuh hari Reatha tidak melihat senyum hangat ibunya. Sudah tujuh hari Reatha kehilangan separuh jiwanya.

Malam ini akan diadakan tahlilan di rumah Reatha dengan mengundang para tetangga serta para sanak saudara. Pada sore hari sebelum tahlilan, mereka menyusun kue-kue basah ke dalam piring-piring sebagai cemilan sebelum berdoa nanti. Tak lupa, ada seratus nasi kotak tersusun di atas meja makan.

‘’Atha, Ibu sama Ayah gue gak bisa datang, ya. Mereka jenguk paman gue yang lagi sakit di rumah sakit. Oh iya, gue bawain risol nih,’’ kata Rezvan sambil memberikan sekotak besar risol panas. Di sebelahnya ada Sheila dan Sekar.

‘’Atha, gue bawain bolu pisang,’’ tambah Sekar.

Kemudian, datang juga Geka dan Theo. Mereka serempak memberitahu, ‘’Kami bawa pisang goreng!’’

Reatha menyunggingkan senyumnya. ‘’Makasih banyak, ya.’’

Kalau Savero tidak membawa apa pun, namun biaya nasi kotak ditanggung olehnya setengah. Awalnya Savero ingin membayar seluruhnya, namun Gale melarangnya. Gale menolak tawaran Savero. Gale tak mau memberatkan Savero. Lagipula ini bukan tanggung jawab Savero. Dengan Savero yang bersikeras, akhirnya dia hanya membayar setengah dari dua juta rupiah.

****

Sesudah tahlilan selesai, satu per satu orang meninggalkan rumah Reatha. Sekarang hanya tinggal Reatha, keluarganya, dan teman-temannya. Dari tadi Sheila caper ke Theo.

‘’Adek lo beneran naksir sama gue, Van.’’ Theo bersuara, sambil makan nasi kotaknya. “Gawat, nih, centil banget adek lo. Gak bisa lihat cogan dia.”

‘’Shei, Bang Theo itu udah tua, jadi Shei gak boleh suka sama dia.’’ Rezvan menarik adiknya untuk duduk di pangkuannya. Sheila yang sedang makan bolu pisang mengeluarkan ekspresi cemberutnya.

‘’Kalo suka sama Bang Vero, boleh, gak?’’ tanya Sheila polos sembari menunjuk Savero. ‘’Bang Vero lebih ganteng. Terus suaranya bagus kalo ngaji.’’

Reatha dan Savero saling bertukar pandang.

‘’Bang Savero lebih-lebih tua, Shei,’’ jelas Theo.

‘’Shei, kamu masih kecil banget. Jangan genit!’’ tegur Sekar sembari mencubit pipi calon adik iparnya.

‘’Bang Vero punya Kak Atha, Shei.’’ Pengakuan Reatha seketika membuat senyum Savero merekah, namun memudarkan milik seseorang. Siapa lagi kalau bukan Geka.

Theo menepuk-nepuk pundak Geka untuk menenangkan.

‘’Bukannya Kak Atha punya pacar? Bang Agha yang udah meninggal itu, kan?’’ tanya Sheila dengan raut wajah polos dan tanpa dosa.

Semuanya terdiam. Seketika suasana menjadi canggung.

‘’Uhuk, uhuk!’’ Rezvan pura-pura batuk demi mencairkan suasana. ‘’Shei, ayo kita pulang! Kita makan nasi kotaknya di rumah aja.’’

‘’Peluk Kak Atha dulu sebelum pulang,’’ pinta Sekar setelah bangun berdiri.

Sheila menuruti pintaan Sekar. ‘’Kak Atha, sabar, ya. Semoga ibunya Kak Atha masuk surga. Shei sayang sama Kak Atha. Shei mau pulang dulu, ya. Dadah Kak Atha cantik.’’

Reatha membalas pelukan perempuan kecil itu. ‘’Kak Atha juga sayang sama Shei. Makasih udah datang dan doain ibunya Kak Atha.’’

Kemudian, Rezvan dan Sekar juga berpamitan pulang.

Grey & MiseryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang