9 - Kita Setara

43 8 5
                                        

Halo, selamat malam^^
I'm back. Ada yang nunggu, gak?

Lama bgt aku hiatusnya 😭 Maaf udah bikin nunggu lama. Ada banyak kesibukan di dunia nyata, and aku juga lagi sakit dari bulan Juli sampai sekarang. Aku bolak-balik rumah sakit.

Karena udah lama enggak up, malam ini aku DOUBLE UP! ;)

Yang udah lupa alurnya, better baca ulang dari part pertama yaaa...

Happy Reading My Readers 😉

****

Seringai Savero muncul di wajah tampannya kala dia berdiri di depan pintu masuk sebuah kafe. Kakinya belum melangkah masuk, namun nyanyian dari live music dan interaksi para anak muda di dalam sana terdengar sangat jelas. Sungguh bukan tempat kesukaan Savero. Savero tipikal orang yang suka mengunjungi tempat tenang, jauh dari keriuhan. Demi Reatha, Savero mampir ke tempat mengekakan telinga ini.

Langkah pelan Savero mulai memasuki kafe. Matanya memicing dan mencari seseorang. Seringainya mengembang lagi kala orang yang dicarinya duduk di dekat tempat live music berada. Savero mengetikkan sebuah pesan kepada kenalannya dan berterima kasih karena telah memberinya nama dan alamat kafe tersebut, tempat seseorang sering nongkrong.

Savero menyimpan ponselnya di saku celana. ‘’Saatnya bermain-main,’’ gumamnya.

‘’Kursi ini kosong?’’ tanya Savero ke orang yang dicarinya.

Agnes mendongakkan kepalanya. Senyumnya mengembang. ‘’Ganteng banget,’’ batinnya.

Segera dia mengangguk. ‘’Kosong, lo boleh duduk di sini.’’

Sebelumnya kursi kosong itu diduduki oleh temannya, tetapi temannya pergi ke toilet. Nanti saat temannya kembali, Agnes akan meminta temannya duduk di tempat lain. Pesona Savero tidak dapat ditolak.

‘’Lo Agnes, kan?’’ Savero menanya. Meski dia sudah tahu jawabannya.

‘’Lo tau nama gue? Kok bisa?’’ Agnes tampak tertarik.

‘’Lo Agnes, anak rektor Adiwarna. Pengikut lo di Instagram puluhan ribu. Jadi, gak perlu heran kenapa gue tau nama lo. Kurang ajar banget kalo gue enggak tau eksistensi cewek secantik lo di kampus.’’ Savero menopang wajahnya dengan tangan kirinya. Tatapannya terfokus ke wajah Agnes.

Savero lanjut berbicara, ‘’Gue Savero. Lumayan terkenal di FK Adiwarna. Gue pinter, ganteng, Papa gue punya RSJ dan lagi bangun rumah sakit umum. Dari berbagai hal kita setara.’’

‘’Setara?’’ Agnes melirik Savero dari ujung sepatu kulit mahal cowok itu hingga ke wajah menawan Savero. ‘’That’s right. Kita setara.’’

Savero tertawa, tawa kemenangan. Agnes pikir Savero tertawa karena senang diberi lampu hijau olehnya.

‘’Ternyata anak-anak Adiwarna banyak yang ganteng. Gue enggak tau kalo di FK ada manusia setampan lo.’’ Agnes memuji Savero.

‘’Bener kata mereka, lo lebih cantik kalo dilihat secara langsung. Di detik pertama gue lihat lo, gue udah jatuh cinta.’’

Agnes terdiam. Jantungnya berdebar cepat. Agnes biasanya kebal dengan rayuan berbagai laki-laki yang mendekatinya. Entah kenapa, Savero berbeda sekali. Savero berhasil menarik perhatiannya di detik pertama dia melihat cowok itu.

‘’Sama. Gue juga tertarik sama lo. Kita betulan setara. Mau kenalan lebih jauh?’’ goda Agnes.

Savero mengangguk. ‘’Tentu. Gue gak akan nolak kesempatan ini.’’

Grey & MiseryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang