11 - Hope

49 11 0
                                        

Happy Reading Folks ;)

****

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa semester pertama akan segera berakhir. Di Universitas Adiwarna, dalam satu semester durasi kuliah ialah empat bulan, kecuali program studi bidang kesehatan seperti kedokteran dan keperawatan. Esok hari merupakan hari terakhir unitnya Reatha menjalani final atau ujian akhir sebelum libur dan masuk semester dua.

Pukul menunjukkan jam sepuluh malam. Reatha masih sibuk belajar. Bukan di meja belajarnya, tetapi di atas kasur Rona. Dia duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca materi di ponselnya. Kepalanya mendarat di bahu sang ibu. Senyumnya mengembang kala sebuah chat masuk. Savero menyemangatinya. Reatha sangat berterima kasih pada Savero sebab dua jam yang lalu cowok itu mengiriminya cemilan untuk menemaninya belajar.

Meski belum resmi memiliki hubungan dengan Savero, perasaan-perasaan Reatha tidak diragukan lagi. Savero adalah orang favoritnya. Savero adalah lelaki yang dicintainya. Reatha ingin hidup bersama Savero.

‘’Ibu, Atha capek belajarnya.’’ Reatha mengeluh pada Rona. ‘’Besok Atha bisa gak jawab soal lisan dari dosen? Atha pasti bisa, kan, Bu? Besok habis dzuhur ada mata kuliah ujian tulis, terus habis ashar ujian lisan.’’

‘’Bisa. Ibu yakin, pu-putri kesayangan Ibu pasti bisa. Atha pasti bakalan dapat IPK tinggi. Semangat ya, Sayang. Ibu bangga sama Atha.’’ Suara Rona amat pelan. Tangannya terangkat guna mengelus kepala Reatha penuh kasih.

Reatha mematikan ponselnya. Dia mengusap kaki Rona. ‘’Ibu cepat sembuh, ya! Biar kita bisa jalan bersebelahan.’’

Rona mengangguk. ‘’Atha pasti cantik banget kalo pakek toga pas wisuda nanti.’’

‘’Oh iya, dong. Pasti Atha cantik banget. Kan Atha anaknya Ibu. Atha dapat visualnya dari Ibu,’’ candanya sembari menegakkan badannya dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gerak bak cewek centil. Rona tertawa menyaksikan tingkah Reatha.

‘’Ibu, gadis cantik ini gamau belajar lagi. Ngantuk.’’ Reatha mengubah topik pembicaraan. Jemarinya mengucek kedua kelopak matanya.

‘’Kalo capek jangan dipaksa. Sana balik ke kamar kamu, tidur!’’ pinta Rona iba melihat Reatha tampak lelah. ‘’Atha udah banyak belajar hari ini. Besok pasti lancar.’’

‘’Atha tidur sama Ibu aja malam ini, boleh?’’ tanya Reatha sembari merebahkan diri di sebelah Rona. ‘’Kalo tidur sama Ibu pasti besoknya Atha lancar final-nya. Kan kasih sayang dan doa seorang ibu itu sangat ajaib.’’

Rona mengangguk. ‘’Boleh, dong. Gak mungkin Ibu nolak tidur sama putri kesayangan Ibu.’’

‘’Yeay, kalo sama putra kesayangan Ibu nolak, gak?’’ tanya Reatha random. Dia teringat Gale.

Rona tertawa lagi. ‘’Nolak, lah. Kasian Sera, nanti tidur sendirian. Mana lagi hamil cucunya Ibu.’’

‘’Kalo di masa depan Atha udah punya suami, terus ada hari di mana Atha pengen tidur sambil meluk Ibu, boleh, kan? Ibu gak akan kasianin suami Atha, kan? Walaupun suatu hari nanti udah nikah, Atha pengen tetap jadi putri kecil Ibu.’’ Reatha penuh harap.
‘’Boleh, kalo dikasih izin sama suami kamu. Karena kalo udah nikah, yang paling harus kamu patuhi itu suami kamu.’’

‘’Siap, siap Ibu. Yuk tidur! Gakuat lagi mata ini.’’

“Yuk, Atha kesayangan Ibu.”

****

Pukul dua belas malam. Geka berdiri sendiri di balkon kamarnya sembari menatap gelapnya langit. Tidak ada bintang. Langit ditutupi awan-awan hitam. Sejuknya angin malam menusuk tulang-belulang Geka. Dia mengembuskan napas berat berkali-kali. Senyum, tawa, dan tatapan hangat Reatha mengisi kepalanya.

Grey & MiseryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang