12 - Malam Terakhir

56 8 8
                                        

Selamat Membaca Teman-teman ^^

****

‘’Atha … Ibu ninggalin kita. Ibu udah gak ada.’’

Jantung Reatha seperti berhenti berdetak sesaat. Lalu Reatha tertawa getir. ‘’Ibu ninggalin kita? Jangan bercanda, Kak! Sebelum Atha berangkat sekolah, Ibu baik-baik aja! Kakak bercanda, kan?!’’

Sembari terisak Sera menggeleng. ‘’Kakak juga berharap gitu, Atha! Kakak juga berharap ini semua gak benar!’’

‘’Gak mungkin! Ibu gak mungkin pergi tiba-tiba gini! Ibu enggak pamitan sama Atha!’’ pekik Reatha sembari menepis tangan Sera darinya. Matanya mulai mengabur dengan air mata.

Jantung Reatha berdebar cepat. Dadanya sesak. Dia masih yakin kalau Sera bercanda. Dia menyangkal apa yang didengarnya. Sesegera mungkin dia keluar dari mobil Savero. Sera lelah, ditambah tengah hamil muda. Sera tidak sanggup mengejar Reatha.

Savero mengejar Reatha. Langkahnya berhenti kala melihat Reatha pergi ke dekat sebuah mobil jenazah. Di sana, dua laki-laki yang merupakan tenaga kesehatan hendak mendorong brankar ke dalam mobil. Di atas brankar tersebut ada tubuh tak bernyawa Rona yang tertutup dengan kain sarung panjang. Gale berdiri di dekat brankar dengan tatapan kosong dan mata bengkak.

Semakin dekat, semakin lemas kaki Reatha. Dia hampir roboh ke tanah, tetapi untungnya Savero membantunya berjalan lebih dekat lagi. Savero memberi gesture agar kedua nakes tersebut tidak memasukkan Rona ke dalam mobil dulu. Tangan gemetar Reatha segera menyingkap kain sarung yang menutupi tubuh Rona.

Seketika dunia Reatha hancur. Tubuh Rona membeku, tak bernapas, dan amat dingin. Mata yang biasanya melayangkan tatapan penuh kasih untuknya terpejam rapat, tak akan terbuka lagi.

‘’Ibu,’’ lirih Reatha sembari menggoyangkan bahu Rona. ‘’Ibu lagi tidur, kan? Ibu, bangun! Atha baru siap ujian!’’

Reatha masih menyangkal. Reatha masih yakin kalau Rona tidak benar-benar pergi. Reatha masih yakin kalau Rona hanya tertidur pulas.

‘’Ibu! Kenapa Ibu gak bernapas? Atha mau bilang kalo ujian Atha lancar hari ini! Ibu… bangun!’’ Reatha mulai terisak.

Pertahanan Reatha runtuh. Tangis Reatha tersedu-sedu dan sesekali dia berteriak. ‘’IBU! BANGUN, IBU! IBU GAK BOLEH PERGI! ATHA GAK MAU SENDIRIAN!’’

Hal paling Reatha takutkan terjadi lagi. Kurang setahun dari jarak Agha meninggal, kini dia berduka lagi. Meninggal Agha memang menyakitkan, namun ditinggal ibunya lebih dan lebih sakit lagi. Rasanya seperti ikut mati. Patah hati ditinggal selama-lamanya oleh seorang ibu adalah patah hati terbesar.

‘’Ibu! Jangan tinggalin Atha! JANGAN!’’ Reatha berteriak. Gale langsung memeluk sang adik.

‘’Ibu bilang pengen lihat Atha wisuda kuliah, kan?! Ibu bilang pengen lihat anaknya Bang Gale lahir, kan?! Terus kenapa sekarang Ibu malah pergi?!’’

Reatha putus asa sebab Rona tak kunjung membuka mata. Ternyata, ibunya benar-benar pergi. Jadi, pelukan sebelum dia berangkat kuliah tadi adalah pelukan perpisahan? Tahu gitu Reatha tidak akan buru-buru berangkat kuliah demi ujian. Seberapa kerasnya dia berteriak memanggil ibunya, tak akan didengarnya lagi sahutan sang ibu.

Para tenaga kesehatan mulai memindahkan Rona ke dalam mobil jenazah. Gale menggenggam tangan Reatha, menuntun adiknya untuk ikut masuk ke mobil tersebut. Dengan mobil jenazah mereka pulang ke rumah.

Sementara itu, Savero kembali ke mobilnya. Sebelum masuk, dia menyeka air matanya, sebab Sera masih di dalam. Savero juga dalam lara. Selama ini Savero menganggap Rona seperti ibunya sendiri. Savero ingat, Rona pernah berpesan padanya untuk menjaga Reatha. Savero bersungguh-sungguh, dia akan menjaga Reatha.

****

Di rumahnya, tubuh tanpa nyawa Rona dibaringkan di ruang tamu. Satu per satu kerabat dan tetangga mulai berdatangan. Sesudah shalat Magrib, Savero duduk di sebelah Reatha, dia memimpin yasinan. Sekar, Rezvan, serta Geka dan Theo juga ada di sana. Orangtua Sekar dan Rezvan juga berhadir. Tak lupa, Dokter Pramad, ayahnya Savero, bersama rekan-rekan kerja RSJ Mentari juga datang.

Gale telah menceritakan semua penyebab ibunya berpulang. Sore, pada jam 3.35 WIB, mendiang Rona berkata pada Gale kalau dia ingin sekali menghirup udara segar di taman terdekat. Oleh karena itu, Gale pergi ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu. Sebelum berlalu ke kamar mandi, dia memastikan ibunya duduk dengan nyaman seperti biasanya di atas tempat tidur. Lima belas menit kemudian, Gale selesai dengan mandinya. Dia segera berpakaian rapi dan wangi di kamar. Ketika kembali ke kamar Rona, betapa terkejutnya dia melihat Rona terjatuh ke lantai dengan posisi terlentang. Rona masih bernapas kala itu, namun sangat tipis.

Dengan kepanikan yang kentara dia membawa Rona ke rumah sakit. Dokter dan para perawat sudah berusaha sebaik mungkin untuk menangani Rona, namun takdir Tuhan berkata lain. Lima menit setelah sampai di IGD, tepatnya pada pukul 16.21 WIB Rona berpulang.

Dokter memeriksa dan menemukan bekas benturan di ubun-ubun Rona. Rona diprediksi jatuh dari kasur dengan posisi kepala duluan membentur lantai dengan keras. Karena itu, Rona mengalami trauma kepala berat sehingga menyebabkan pendarahan intrakranial, yaitu pecahnya pembuluh darah di otak. Ditambah Rona memiliki riwayat stroke, sehingga berakibat fatal.

Air mata Reatha tak kunjung reda. Tangan gemetarnya menutup buku yasin kala mereka selesai membacanya. Kepala Reatha rasanya sakit sekali, bak ada benda-benda berat di atasnya. Pandangn Reatha kosong, menghadap kain yang menutupi wajah Rona.

Perlahan-lahan pandangannya menggelap, dan setelah itu Reatha tak tahu apa-apa lagi selain suara panik orang-orang di sekitarnya.

****

Pukul satu dini hari. Reatha terbangun dari pingsannya. Matanya memandang kosong langit-langit kamarnya yang agak gelap. Barusan, terkait meninggalnya Rona, apa itu hanya mimpi?

Reatha melirik ke samping, ada Sekar di sebelahnya. Pelan-pelan Reatha bangkit berdiri. Di ruang keluarga, tepatnya di atas sofa, dia melihat Savero terlelap. Lalu, tiba di ruang tamu, dia melihat Gale tidur di sebelah kanan Rona. Sera serta tiga saudara dekat Rona juga tidur di ruang tamu, mereka menjaga Rona untuk terakhir kalinya.

‘’Ternyata bukan mimpi. Ibu betulan udah gak ada,’’ lirihnya.

Reatha memotong jarak, dia membaringkan tubuhnya di sebelah kiri Rona.

Reatha terisak lagi. Kenapa rasanya sangat menyakitkan? Reatha tidak pernah sesakit ini sebelumnya. Rasanya seperti ingin menyusul ibunya juga. Reatha tidak yakin bisa hidup dengan baik tanpa seorang ibu.

‘’Ibu, Atha mau ikut Ibu,’’ isaknya. ‘’Atha sayang banget sama Ibu. Atha gak bisa hidup kalo gak ada Ibu. Atha gak mau kesepian, Bu.’’

Rupanya Gale dan Sera belum tidur. Mereka hanya menutup mata dan tidak bisa terlelap. 

Gale bangkit dari baringannya. Dia menatap hampa ke arah Reatha. Gale tidak mengudarakan kata-kata penenang atau semacamnya. Dia membiarkan Reatha meluapkan kesedihan tanpa menginterupsi dengan apa pun. Jika dia memaksa Reatha untuk menahan kesedihan, itu malah menyiksa sang adik.

‘’Abang, ini malam terakhir kita tidur sama Ibu, ya? Malam besok udah gak bisa, ya? Besok kita gak bisa panggil Ibu lagi. Ibu cuma satu-satunya di dunia, tapi malah pergi. Abang … Atha gak kuat.’’ Reatha mengusap bukti tangisnya. Tubuh Reatha tak bertenaga saat ini. Dia sangat lemah.

‘’Waktu itu Agha, sekarang Ibu. Mereka ninggalin Atha. Abang, Atha boleh nyusul mereka, gak? Atha pengen nyusul mereka.’’

****

See you next part friends 🖤

Tell me kalo ada typo.

Jaga kesehatan yaa kaliannn... Soalnya lagi musim sakit. Di daerah aku banyak banget yang terkena influenza 🥺

See you, love you<3

By Warda, pacar Jeno 😆

Grey & MiseryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang