DOUBLE UP!
Happy Reading Folks 🖤
****
PLAK! Satu kali tamparan mendarat di wajah mulus Agnes. Satu kali, namun rasanya bak ditampar berkali-kali. Wajahnya memerah, air matanya berjatuhan ke pipinya yang baru saja dihukum tersebut.
‘’Memalukan! Kamu hampir membunuh salah satu mahasiswi kami! KAMU HAMPIR JADI PEMBUNUH! ANAK BODOH!’’ hardik ayahnya Agnes yang notabenenya rektor di Universitas Adiwarna.
‘’Kamu Papa keluarkan dari kampus kebanggaan Papa! Kamu udah mengotori nama Papa karena punya anak bodoh kayak kamu! Papa malu, berhasil menjaga Adiwarna, tapi gagal menjaga anak tunggalnya. Bukan ini sekali, dulu pas SMP kamu pernah nge-bully anak berharga orang lain! Lagi-lagi kamu bikin masalah! Mulai hari ini, kamu akan dijaga ketat, dilarang keluar rumah tanpa persetujuan Papa. Berhenti kuliah, berhenti ngerokok, berhenti ketemu teman-teman kamu, kamu akan belajar bahasa Inggris untuk persiapan IELTS dan kuliah di Australia tahun depan! Kamu harus dapat nilai IELTS minimal band 7,’’desak ayahnya. ‘’Mulai besok, kamu akan belajar tiap hari.’’
Agnes menggeleng tak setuju. Jemari lentiknya menyeka bukti tangisnya.
‘’Jangan, Papa! Maafin Agnes. Agnes janji bakalan berubah. Agnes janji gak akan ngecewain Papa lagi. Jangan DO Agnes dari Adiwarna. Jangan paksa Agnes buat kuliah di luar. Agnes mohon, Papa.’’
Kekecewaan kentara di wajah ayahnya. ‘’Papa udah enggak percaya lagi sama kamu. Kamu selalu bilang bakalan berubah. Selalu janji buat enggak bikin masalah, tapi kamu khianati janji itu. Papa kecewa berat sama kamu. Kamu punya privilege, tapi sia-siain itu. Di luar sana ada pemuda-pemudi yang bercita-cita buat kuliah, tapi enggak bisa karena kurang mampu. Ada juga yang mati-matian bekerja buat dapat duit dan beasiswa biar bisa kuliah. Di sini ada anak seorang rektor malah main-main pas kuliah.’’
Mata ayahnya Agnes berkaca-kaca. ‘’Papa ingin sekali kepala anak Papa isinya ilmu pengetahuan, bukan rokok, dugem, dan lelaki. Nak, ilmu pengetahuan itu enggak akan selingkuhin kamu. Enggak akan ninggalin kamu. Ilmu pengetahuan itu sangat berharga. Ilmu pengetahuan bisa bikin kamu bernilai. Ingat itu!’’
Agnes tidak lagi bersuara, kecuali isaknya. Penuturan ayahnya bersifat final, tidak bisa diganggu gugat. Kini tidak ada lagi dunia bebasnya.
****
Pada Malam Minggu, ada rencana yang terbatalkan. Cuaca tak mendukung rencana mereka untuk barbeque di rumah Rezvan. Hujan deras, gerimis, berhenti sesaat, dan deras lagi berlangsung dari pagi Sabtu hingga sore. Genangan-genangan air memenuhi halaman rumah dan jalanan. Sebab itu, Plan B pun terealisasi. Mereka memutuskan untuk membeli banyak makanan dan makan malam bersama di rumah Reatha.
Malam ini, untuk pertama kalinya Geka dan Theo ke rumah Reatha. Mereka membawa sepuluh bungkus sate bumbu kacang. Di sana keduanya berkenalan dengan Rona, ibunya Reatha. Rona mudah akrab dengan mereka, apalagi dengan Theo si social butterfly. Theo mah sama anak-anak TK serta ODGJ yang lagi keliling aja bisa akrab.
Theo berbisik ke telinga Geka, ‘’Ambil hati ibunya Atha, Gek. Biar lo didukung buat deketin Atha.’’
Geka deg-degan kala Rona menatapnya sambil tersenyum.
‘’Wajah kamu mirip seseorang,’’ ungkap Rona sambil mengingat seseorang. Di balik senyumnya, ada sedikit rasa sedih yang dia sembunyikan.
‘’Mirip mendiang Agha, kan, Bu?’’ kata Reatha yang datang sambil membawa seteko besar teh hijau hangat. Dia menaruhnya di atas meja di ruang tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Teen Fiction(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
