Rumah Reatha sungguh sepi. Setelah cuti selama tujuh hari, Gale dan Sera kembali bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa Mentari. Hari ini, kantin yang dikelola oleh mendiang Rona di RSJ Mentari kembali dibuka. Gale yang akan lanjut mengelolanya. Mengingat pendapatan dari kantin itu dapat digunakan untuk membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) Reatha.
Reatha membuka kenop pintu kamar mendiang Rona. Dadanya nyeri. Bau kamar Rona bak mendiang masih ada. Kakinya bergerak mendekat ke kasur ibunya. Dia merebahkan diri di sana sembari terisak. Sendirian seperti ini membuat lukanya kembali terbuka. Kata orang-orang, luka kehilangan Ibu susah disembuhkan. Mungkin tak akan sembuh.
‘’Bantalnya, masih ada bau Ibu. Atha gak akan cuci sarung bantalnya,’’ isaknya.
Detik berubah menjadi menit. Selangnya sepuluh menit sejak dia tersedu-sedu sambil menenggelamkan wajahnya di atas bantal mendiang sang ibu. Sebuah tangan mengetuk pintu selama tiga kali. Tidak ada salam, atau sepatah kata memanggil pemilik rumah. Hanya ada ketukan.
Siapa yang datang? Kalau Savero atau teman-temannya, mereka pasti akan memanggil namanya. Reatha menegakkan badannya. Kedua tangannya terangkat untuk menyeka tangisnya. Dia menarik napas dalam-dalam untuk melihat siapa tamu hari ini. Sebelum membuka pintu depan, dia memastikan terlebih dahulu melalui jendela. Takutnya orang jahat yang datang, jadi dia tidak perlu membuka pintu.
Reatha memicingkan matanya, tak ada seorang pun di teras rumahnya mau pun di halaman. ‘’Siapa, ya? Kok gak ada orang? Jangan-jangan setan. Ah, gak mungkin.’’
Reatha pun membuka pintu. Matanya membulat, kepalanya menunduk, hampir saja dia menginjak sebuah buket bunga segar. Jemari Reatha meraih bunga tersebut.
Siapa sih yang mengiriminya bunga segar ini? Untuk membayar rasa penasarannya, Reatha mengecek sebuah amplop surat di dekat bunga tersebut. Rasanya tidak asing. Benar, Reatha ingat, berbulan-bulan lalu dia juga pernah mendapat bunga dari pengirim tanpa nama. Bunga beserta kata-kata yang membuatnya masih bertanya-tanya hingga hari ini.
Amplop surat dibuka olehnya, lalu dia secepatnya membaca tulisan tangan tersebut.
Halo, Reatha Shaquita.
Bagaimana kabar kamu? Lagi sedih? Lagi kehilangan?
Jangan sedih lagi, ya. Kita akan segera bertemu, Athaku.
Jantung Reatha berdebar kencang seusai membaca surat tersebut. Singkat, namun membuatnya bertanya-tanya dan mengernyitkan dahi. Siapa sebenarnya pengirim bunga dan surat ini? Apakah orang yang Reatha kenal? Atau justru orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Reatha menyunggingkan senyumnya kala sebuah motor sport hitam berhenti di halaman rumahnya.
‘’Atha!’’ sapa Geka.
‘’Sendirian? Theo mana?’’ heran Reatha. Pasalnya, Geka dan Theo selalu terlihat bersama. Bak direkatkan dengan lem.
‘’Hari ini gue datang sendirian.’’ Geka melepas helm, lalu turun dari motor.
‘’Ayo masuk!’’ ajak Reatha sembari masuk duluan. Dia menaruh buket bunga segar dari pengirim tak dikenal itu ke atas meja dekat sofa.
‘’Sepi banget. Bang Gale sama Kak Sera ke mana?’’ tanya Geka ketika sudah masuk ke ruang tamu. Matanya berselancar ke berbagai sudut rumah yang masih dapat dijangkau oleh pandangannya.
Geka menyembunyikan tangannya di belakang punggung, agar benda yang digenggamnya tidak dilihat oleh Reatha.
Reatha menjawab, ‘’Gue sendirian di rumah. Mereka udah berangkat kerja dari pagi.’’
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Novela Juvenil(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
