Savero dan Reatha bertukar pandang. Jantung keduanya berdebar kencang. Savero ingin membuka suara, menanyakan apa alasan Pramad melarang mereka, namun sang ayah lanjut berbicara.
''Papa gak setuju kalau kalian pacaran. Papa setujunya kalau kalian tunangan aja.'' Pramad tertawa kecil karena ekspresi panik Savero dan Reatha. ''Papa pengen kalian berdua tunangan. Habis Savero koas dan dapat gelar dokternya, nikah deh kalian berdua.''
Selamat, Pramad berhasil membuat kedua anak muda tersebut panik. Pramad masih tertawa, apalagi ketika melihat wajah lega putra tunggalnya dan calon menantunya. Itulah mengapa kalau berbicara jangan setengah-setengah. Bisa menimbulkan kesalahpahaman. Tapi, di sini Pramad memang sengaja.
''Papa,'' tegur Savero. ''Kirain Papa ngelarang hubungan kami.''
''Ya enggak, Nak. Buat apa Papa larang-larang kalian. Kalian cocok. Selama kalian bahagia dan gak ngelanggar norma, Papa setuju. Vero, kamu dulu dingin banget, jarang senyum, apalagi sejak Mama meninggal. Pas suka sama Atha, kamu jadi lebih ceria dan semangat hidup. Jadi, Papa gak mau ngerusak kebahagiaan kamu,'' jelas Pramad sambil menatap keduanya bergantian. ''Hubungan kalian udah Papa restui. Bicara deh kalian berdua. Kalo siap untuk tunangan, nanti Papa ke rumah Atha buat jumpa sama Gale, buat bahas tentang kalian lebih serius.''
Reatha deg-degan. Savero dengannya tidak pacaran, namun langsung tunangan? Tunangan? Reatha melirik ke arah Savero. Mata mereka bertemu pandang, lalu keduanya sama-sama membuang pandang ke arah lain. Wajah keduanya sama-sama merona.
''Kalian lucu banget, ya. Papa jadi kangen sama Mama kamu, Vero,'' ujar Pramad sembari mengingat kenangan manisnya bersama mendiang istrinya. ''Semoga kalian bisa menua bersama.''
Savero dan Reatha mengaminkan harapan Pramad.
''Makasih, Om. Makasih udah restui Atha sama Vero,'' ucap Reatha tulus.
''Jangan panggil Om. Panggil Papa,'' pinta Pramad. ''Sekarang anak Papa bukan cuma Vero, tapi Atha juga.''
Di tengah-tengah abu-abu dan kesengsaraan, malam ini, restu Pramad adalah warna-warni yang membahagiakan bagi Reatha. Semoga malam berbahagia seperti ini bertahan selamanya. Ada banyak semoga yang dilangitkan, berharap Tuhan mengabulkan.
''Papa mau istirahat dulu di kamar. Kalian Papa tinggalin di sini berdua. Jangan mesra-mesraan, ya, nanti ada setan yang bikin kalian khilaf.'' Pramad melirik ke arah Savero. ''Vero, jagain Atha, ya. Awas kalo kamu macam-macam!''
''Iya, Papa. Gak usah khawatir. Papa istirahat aja. Vero tau kalo Papa lagi capek.''
Pramad mengangguk ringan, kemudian bangun dari kursinya. Dia melangkah menuju kamarnya.
''Belakang rumah ada taman kecil. Ada gazebo juga. Mau ke sana?'' tawar Savero.
Reatha mengangguk.
''Tadi gue bikin jus jeruk, mau gak? Kita minum jus jeruk di belakang,'' tawar Savero lagi.
''Mau banget.''
''Good girl.'' Savero berjalan ke rak gelas, mengambil dua gelas. Kemudian membuka kulkas untuk mengambil jus jeruk. Jus jeruk tersebut dituangkan ke dalam dua gelas kaca itu.
Di belakang rumah Savero ada sebuah gazebo yang letaknya paling ujung. Tamannya kecil, jadi hanya ada dua lampu yang mengapit tanaman-tanaman milik Pramad. Tanaman-tanaman yang biasanya diurus oleh tukang kebun rumah mereka. Ada anggur, jambu air, jeruk, mangga, hingga tomat.
''Pas banget, ada anggur.'' Savero menaruh kedua gelas ke atas meja gazebo. Lirikannya mengarah ke pohon anggur di sebelah gazebo. ''Tapi, belum ada yang mateng. Padahal mau petik buat Atha.''
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Novela Juvenil(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
