Begitu sampai di rumah Reatha, Savero tidak langsung pulang. Mereka duduk di kursi teras. Mereka mengecek nomor ponsel tak dikenal tersebut ke aplikasi Getcontact untuk mencaritahu siapa sebenarnya orang itu. Akan tetapi, usaha mereka tidak berbuah manis. Nomor ponsel tersebut tampaknya nomor baru. Tak ada satu pun kontak yang menyimpannya.
Pada keesokan paginya, ketika Sekar sudah pulang dari rumahnya, serta Gale dan Sera telah berangkat kerja, Reatha mengunjungi makam Rona. Agar celananya tidak kotor ketika duduk, Reatha membawa sehelai kain dengan panjang setengah meter. Di sana, dia mengeluarkan beberapa foto keluarganya. Foto yang dipotret ketika usia Reatha masih lima tahun. Atensinya berfokus pada sosok lelaki yang berdiri di sebelah Rona di foto usang itu.
Sepersekian detik kemudian, atensinya berpindah pada makam sang ibu. ‘’Bu, gimana kalau dia kembali? Gimana kalau itu beneran dia?’’
Ada banyak pertanyaan yang Reatha ajukan. Jawabannya keheningan. Tentu, Reatha, kan sedang berbicara pada makam Rona. Kalau ada jawabannya, beda lagi ceritanya.
****
‘’Sial, bocor ban motor gue!’’ umpat Theo kala ban vespanya bocor dan dia berada di jalan yang lumayan sepi.
Theo habis mengantar pacarnya pulang. Habis jalan-jalan dia sama ayangnya.
Kalau dalam kondisi begini, bisa tebak siapa yang akan dia panggil? Kalau ada yang menjawab Geka, maka seratus persen benar. Theo segera menelepon sang sahabat.
‘’Bro, tolong!’’ panik Theo sengaja biar Geka ikutan cemas. ‘’Tolong, Bro. Plis, tolongin gue!’’
‘’Lo kenapa?! Kesurupan?’’ tanya Geka di seberang sana.
‘’Ban motor gue bocor di tempat sepi. Gak ada bengkel dekat sini. Gue takut, gue takut kalo gue diapa-apain sama orgil yang lewat. Help, Bro!’’ dramatis Theo. ‘’Cepetan!’’
‘’Gak usah takut kalo ada orgil lewat. Lo gak bakalan diapa-apain.’’
Theo mengernyitkan dahinya. ‘’Darimana lo tau?’’
‘’Kan lo orgil juga. Kok takut sama temen sendiri. Hahaha.’’ Geka terbahak.
Di tepi jalan raya itu, Theo menunjukkan wajah datarnya meski Geka tak dapat melihatnya. Theo sebenarnya tidak takut, dia kan laki, dia hanya berpura-pura biar Geka cepat datang. Meski jalannya lumayan sepi, masih ada satu dua pengendara yang lewat.
‘’Cepet sini! Bantuin gue,’’ pinta Theo lagi.
‘’Share location, The! I’m coming.’’
‘’Okay, Sayang.’’
‘’Iyuh, mau gue bilangin ke cewek lo kalo lo itu sebenarnya boti?’’
‘’Bercanda anjay! Jadi orang tuh jangan serius-serius amat. Gak asik.’’
Dari seberang sana Geka mematikan sambungan telepon secara sepihak, malas mendengar cerocosan mulut berisik Theo. Kasihan gendang telinganya Geka.
Seusai mengirimkan lokasinya ke Geka, Theo menunggu di bawah pohon samping jalan selama hampir dua puluh menit.
‘’Gila, lama banget lo, Gek! Dandan dulu sebelum ke sini?!’’ keluh Theo kala motor sport Geka mendekat. ‘’Hampir lumutan gue di sini.’’
Geka membuka kaca helm full face-nya. ‘’Daripada gue gak datang, kan, lebih baik telat.’’
Geka menilik ban vespa Theo yang bocor. ‘’Gue ada lihat bengkel buka dua kilometer dari sini. The, ban vespa lo itu tebel, kalo lo kendara pelan-pelan ke bengkel gak bakalan kenapa-napa motor lo. Oon lo! Nyusahin gue aja.’’
‘’Gue emang lagi pengen nyusahin lo.’’ Theo nyengir. ‘’Nanti gue traktir lo, janji. Ah iya, bensin gue juga mau habis. Makanya lo harus datang biar kalo gue mogok tengah jalan ada lo.’’
‘’Traktir apa?’’ Geka was-was.
‘’Es lilin seribuan.’’
Geka turun dari motornya dan segera menoyor kepala Theo. “Traktir gue yang mahal-mahal.”
Theo menawar lagi. ‘’Es cekek lima ribuan, mau? Lebih mahal dari opsi pertama.’’
‘’Udah, lah. Cepetan naik ke motor lo! Gue awasin lo dari belakang.’’ Geka menyerah. Emangnya apa yang bisa diharapkan dari seorang Theo.
Sesampainya di bengkel, motor Theo langsung ditangani oleh ahlinya. Geka duduk di atas motornya sembari memandang ke seberang jalan. Tetiba senyumnya mengembang. Di seberang bengkel ada sebuah butik yang menjual dan menyewakan gaun nikah.
‘’Lagi bayangin Atha pakek itu di nikahan kalian?’’ Pertanyaan mendadak Theo menginterupsi hayalan Geka.
‘’Pasti cantik banget kalo Atha pakek itu,’’ jawabnya dengan suara halus. ‘’Bisa gak, ya, suatu hari gue nikah sama Atha?’’
‘’Bisa, lah.’’
Geka melirik Theo. ‘’Serius, The?’’
‘’Bisa, dalam mimpi lo doang.’’
‘’Gue tinggal lo, ya!’’ ancam Geka sambil men-starter motornya.
‘’Tinggalin aja. Kan gue udah di bengkel. Wlee…,’’ cibir Theo sambil menjulurkan lidah. ‘’Jadi orang gampang banget dimanfaatin lo, Gek. Sering-sering, ya.’’
‘’Sialan, Theo sialan!’’
****
Pukul delapan malam. Reatha benar-benar datang ke alamat yang dikirim oleh nomor tak dikenal itu. Reatha tidak datang sendirian. Diam-diam Savero memantaunya dari kejauhan demi keamanannya dari berbagai kemungkinan ancaman. Diam-diam sambungan teleponnya dengan Savero juga tetap menyala.
Sejak masih di rumah hingga kakinya melangkah di halaman sebuah rumah dua tingkat bergaya American classic, jantung Reatha tak berhenti berdebar dengan kencang. Rasa penasarannya kian membuncah.
Siapa sebenarnya lelaki itu? Apa benar tebakannya? Jika benar, apa yang harus Reatha lakukan?
Reatha menarik napas dalam-dalam. Dengan berat kakinya melangkah mendekat ke teras. Tadi sebelum dia tiba di sini, chat masuk lagi, menginstruksinya untuk langsung ke dalam rumah tanpa perlu mengetuk atau menekan bel pintu.
Reatha membuka pintu tersebut. Tak ada siapa pun di ruang tamu rumah asing itu, namun foto besar yang terpajang di sana membuatnya membelalak. Jantungnya bak berhenti berdetak untuk sesaat. Masalahnya ada yang dia kenal di foto keluarga itu. Matanya memicing, memastikan penglihatannya tidak salah.
‘’Atha?’’
Reatha menoleh kala namanya dipanggil. Seorang pemuda yang datang dari arah ruang santai rumah menatapnya kebingungan.
‘’Geka?” Foto keluarga itu tidak salah lagi. Ternyata betulan Geka.
‘’Atha, ngapain ke sini malam-malam? Ada perlu sama gue?’’ heran Geka. Pasalnya Geka belum pernah mengajak teman-teman kuliahnya ke rumah, kecuali Theo.
Belum sempat membalas pertanyaan Geka, seorang lelaki berumur hampir enam puluh tahun datang, menginterupsi interaksi keduanya.
Reatha seketika mematung di tempat. Kedua lututnya melemas. Air matanya pun mulai luruh membasahi pipinya. Ternyata tebakannya benar.
‘’Selamat datang, putriku, Athaku.’’
****
Nyangka gak kalian? Mwehehe
See yaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey & Misery
Teen Fiction(SEKUEL VIP BAD BOY) "Atha, gue akan jadi payung di hari hujan lo." Savero pernah berkata demikian pada Reatha, namun berjalannya waktu dia membatalkan pernyataannya itu. Savero menggantinya dengan pernyataan lain dan sungguh-sungguh. "Kalo jadi pay...
