17 - Dinner

32 6 7
                                        

Reatha mematut dirinya di depan cermin kamarnya. Muka datarnya dipaksa merekah senyum. Hari-harinya sangat berat tanpa kehadiran Rona. Dalam hening malam dia masih sering mengeluh pada semesta, pun menangis tanpa suara agar tidak mengganggu abang dan kakak iparnya.

Senyum cerianya adalah topeng pada hari-hari ketika bertemu banyak orang. Dia tidak mau merepotkan mereka lagi dengan kesedihannya, namun pada satu orang topengnya dipaksa lepas. Savero selalu bilang, kalau Reatha sedih, bilang sedih. Kalau Reatha bahagia, bertindak bahagia juga. Savero mau Reatha menjadi dirinya sendiri di depannya. Karena memendam sesuatu sendirian akan menyiksa batin Reatha.

Reatha melirik layar ponselnya yang menunjukkan hari sudah jam setengah tiga sore. Hari ini hari Sabtu. Artinya Reatha akan makan malam di rumah Savero malam ini. Jantungnya acap kali berdebar cepat. Dia gugup. Padahal dia mengenal Dokter Pramad, namun ini rasanya berbeda. Karena beliau sendiri yang mengundang Reatha untuk makan malam bersama.

‘’Atha, gue di depan! Yuk berangkat!’’ teriak Sekar selepas turun dari motor Scoopy-nya di halaman rumah Reatha.

‘’Iya, iya, gue mau keluar, nih.’’ Reatha menarik sling bag-nya selepas menyemprotkan parfum.

Sekar akan menemani Reatha ke toko kue. Menurut Reatha, dia merasa tak enak datang ke rumah Savero tanpa membawa apa pun. Meski sebelumnya dia pernah ke rumah lelaki itu, namun kan ini dalam rangka yang berbeda. Apalagi Dokter Pramad yang sedang sangat sibuk dengan proyek pembangungan rumah sakit umum baru, kini meluangkan waktu untuk makan malam bersamanya dan Savero.

‘’Wanginya Kak Atha,’’ puji Sekar sembari kembali duduk di atas motornya, siap berkendara.

‘’Oh iya, dong. Wangi itu wajib. Ayo!’’ Reatha mengenakan helm ke kepalanya. ‘’Tancap gas, bestie.’’

Kendaraan roda dua itu pun mulai berjalan, segera bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan raya.

‘’Lo ada rekomendasi tempat beli kue yang enak, gak?’’ tanya Reatha dengan suara yang dibesarkan agar Sekar mudah mendengarnya di tengah kebisingan kendaraan lain.

‘’Ada. Gue tau tempatnya.’’

Setelah lima belas menit di jalan, motor milik Sekar berhenti di parkiran sebuah cake shop. 

‘’Gue pernah beli bolu gulung di sini buat ibunya Rezvan. Bolu gulungnya enak,’’ jelas Sekar sembari melirik ke dalam toko dari luar kaca bening besar. ‘’Lo mau beli apa?’’

‘’Lihat-lihat dulu, yuk!’’

‘’Yuk!’’

Setelah mengeksplor cake shop tersebut, Reatha agak bingung. ‘’Bolu gulung selai nanas, coklat, keju, atau bolu pisang aja?’’

‘’Gue sih prefer ke bolu gulung selai nanas sama bolu pisang,’’ saran Sekar sembari menjelajah ke dekat etalase-etalase yang membuat matanya berbinar-binar. ‘’Jadi pengen brownie sama soft cookies itu.’’

‘’Hmm… Bolu gulung selai nanas aja deh.’’ Reatha mengikuti arah pandangan Sekar. ‘’Lo makan manis-manis hampir tiap hari. Kurang-kurangin, Sekar. Mau diabetes? Muka makin kusam?’’

Sekar nyengir. ‘’Hehe. Iya-iya.’’

‘’Kita jajan buah aja yuk habis beli ini!’’ ajak Reatha.

Sekar mengacungkan kedua jempol tangannya tanda setuju.

Reatha mengambil satu kotak bolu gulung selai nanas dan membawanya ke kasir untuk dibayar. Selepas itu, mereka keluar dari sana menuju parkiran. Reatha meringis, ketika seseorang menyenggol bahunya. Alih-alih meminta maaf, orang itu langsung berlalu dan masuk ke mobil Jeep hitam.

Grey & MiseryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang