Setelah mereka menghabiskan mie instan, Baekhyun dan Jongdae memutuskan untuk berbelanja di swalayan yang berada tepat di perempatan jalan.
Baekhyun berlari mengambil sekotak stroberi segar dan langsung memasukkannya ke dalam troli. Kemudian Baekhyun pergi meninggalkan Jongdae yang tengah mendorong troli. Dia kembali setengah berlari dengan membawa sebungkus keripik ubi dan beberapa bungkus cokelat batangan.
Sedangkan Jongdae memutar mata malas, dia sudah mengira pengeluaran bulan ini akan banyak pada cemilan yang dipilih oleh Baekhyun. Baekhyun memang suka makan, tapi toh dia juga akan mendapat jatah. Maka dari itu semua biaya yang mereka beli akan mereka bagi sama rata.
"Pantas saja ini semakin enak dicubit."
Jongdae meraih lengan atas Baekhyun lalu menekan-nekan bagian tersebut hingga membuat sang empu mengerucutkan bibir.
"Kau kan juga ikut memakan ini semua." kemudian Baekhyun meninggalkan Jongdae yang berada di belakang.
Mereka akhirnya memasuki area yang di penuhi oleh beberapa macam label sabun. Telunjuk Baekhyun menyentuh bibir sedangkan pandangan Baekhyun menerawang ke atas. Tidak benar-benar ke atas sebenarnya, ia sedang membandingkan harga dengan berat bersih detergen yang akan dibelinya. Berhemat tidak salah, kan?
"Oi, Baek."
Baekhyun menoleh ke arah Jongdae setelah ia mengambil salah satu detergen.
"Bagaimana dengan Jongin?" Tanya Jongdae saat Baekhyun memasukkan detergen yang ia pilih ke dalam troli.
"Bagaimana apanya?" Tanya Baekhyun tidak mengerti, ia bersiul namun segera berbalik dan menatap Jongdae dengan senyum seperti ibu-ibu penggosip.
"Kau tahu tidak?" Baekhyun kembali bertanya saat menyamakan langkahnya dengan sang karib, "Kurasa Kyungsoo suka pada Jongin."
Namun tanggapan yang di terima Baekhyun hanyalah mulut Jongdae yang menguap seperti paman-paman pengangguran lalu pemuda tersebut berkata kalau Baekhyun sok tau.
Karena tidak terima maka Baekhyun berkacak pinggang dan menghadang Jongdae beserta trolinya. Mata sipit Baekhyun memincing dengan senyum penuh kemenangan.
"Aku kenal Kyungsoo sejak SMA, oke? Tentu saja aku tahu."
Kemudian Jongdae mengambil sebuah buku asal yang berada pada rak di sebelah dan memukul kepala Baekhyun dengan benda tersebut pelan.
"Kau juga mengenalku sejak SMA, tapi kau tidak tahu siapa yang aku suka."
Tangan Baekhyun mengusap kepalanya yang sebenarnya tidak begitu sakit, ia kembali berjalan di sebelah Jongdae.
"Itu karena kau tidak memiliki hati. Kau hanya perduli dengan gambar dua dimensi yang ada di dalam laptopmu, ataupun anime yang selalu kau tonton setiap hari, dasar bodoh."
"Hm, ya, betul juga sih."
- chanbaek -
"Ya, Ibu.. aku tahu, tapi aku tadi benar-benar memiliki urusan penting."
"..."
"Aku sudah memberitahunya untuk pulang dengan kendaraan umum, bu.. Lagipula dia sudah besar."
"..."
"Ya, aku takkan mengulanginya."
Sambungan terputus saat Chanyeol melempar ponselnya ke tempat tidur. Dia baru saja selesai mandi dan langsung mendapat panggilan dari sang Ibu.
Wanita paruh baya tersebut menelepon hampir selama satu jam hanya untuk memberikan Chanyeol sebuah wejangan yang menurutnya tidak penting.
Salahkan saja Luhan karena pemuda itu tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Tapi Chanyeol juga salah sih. Dia meninggalkan Luhan begitu saja hingga Luhan harus naik-turun kereta bawah tanah beberapa kali dan ia tersesat.

KAMU SEDANG MEMBACA
ROPE ✔
RomanceApa yang membuat dua orang bisa bersama? Baik Chanyeol maupun Baekhyun memiliki kebutuhan akan kehadirannya masing-masing. Ikatan yang terjalin di antara mereka bukan berlandaskan cinta, uang ataupun martabat; tapi, mereka lebih dari itu semua. Tri...