Ketika Chanyeol sudah sampai di depan apartemen Baekhyun, dia menekan bell berkali-kali. Dia sudah mencoba menghubungi pemuda itu, tapi Baekhyun tidak kunjung membalas pesannya.
Jongdae adalah orang yang membuka pintu, pemuda berahang tegas itu menatap Chanyeol dengan pandangan sebal.
"Kalau kau mencari Baekhyun, dia sedang tidak ada." Jongdae berkata dengan dingin, langsung kembali menutup pintu tanpa peduli dengan Chanyeol yang sepertinya masih ingin bertanya.
Jika boleh jujur, dia jadi makin tidak menyukai pemuda tinggi tersebut. Apa yang sudah Chanyeol lakukan pada Baekhyun jelas adalah penyebabnya.
Jongdae'pun sama, dia punya semacam brother complex pada sahabatnya itu.
Hari demi hari berlalu, terhitung sudah hari kelima sejak Chanyeol tidak bisa menemui Baekhyun. Bahkan, pesannya hanya di baca saja. Pemuda manis itu sepertinya tidak berminat untuk membalas meski satu hurufpun.
Di sisi lain, Baekhyun sudah kembali ke Korea kemarin malam. Terapi yang dia jalankan berjalan dengan lancar, mimpi buruk yang biasa datang tanpa permisi'pun mulai berkurang.
Bisa di bilang, Baekhyun mulai bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dia sudah tidak menyalahkan dirinya atas tragedi yang terjadi pada keluarga Byun.
Ayah dan ibu meninggal karena aku.
Kalau saja aku tidak turun ke lantai bawah.
Kalau saja aku tidak teriak hingga membuat Baekbeom-hyung ikut tertangkap.
Kalau saja aku yang mati, mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Itu adalah isi kepala Baekhyun selama ini, alasan mengapa dia seperti terbelenggu tapi tidak tau apa yang mengikatnya.
Dan setelah dia bisa menerima keadaan, Baekhyun memutuskan untuk pergi menemui Baekbeom, agar mereka bisa bicara dari hati ke hati.
Karena, Baekbeom pun sama dengannya. Menyalahkan diri sendiri atas apa yang pernah terjadi. Terlebih dia melihat dengan kedua matanya bagaimana orang tua mereka merenggang nyawa.
Selama beberapa hari kemarin, mereka menghabiskan waktu bersama. Ada rindu yang tertahan antara kakak beradik itu. Dan akhirnya, topik mengenai orang tua mereka terbahas juga setelah sekian lama.
Baekhyun paham, Baekbeom pasti butuh waktu untuk menata ulang hatinya. Dan melihat kakaknya kemarin merespon dengan baik, Baekhyun harap Baekbeom akan baik-baik saja ke depannya.
Serta menjalani hari dengan bahagia.
Si manis tersenyum tipis mengingat liburannya di Kanada berlangsung menyenangkan. Rasanya, langkah serta punggung Baekhyun lebih ringan dari biasanya.
Beban yang dia pikul sudah berkurang banyak.
Kini hanya sisa satu hal lagi yang perlu Baekhyun bereskan; menyelesaikan kisah asmaranya yang bahkan tidak pernah dimulai. Melupakan cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan.
Hanya saja, ada sebuah kendala di sini.
Sekarang lengannya sedang dicekal oleh Chanyeol. Mereka tidak sengaja berpapasan saat Baekhyun baru saja mengunjungi Jaehyun untuk memberi oleh-oleh.
Pemuda manis itu menatap Chanyeol sebentar, menatap guratan bahagia yang terpatri di sana.
Akhirnya, Baekhyun ketemu juga.
"Baek, bisa bicara sebentar?"
Tatapan tidak setuju itu terukir jelas di wajah Jaehyun. Ini bukan sekedar cemburu saja, tapi diapun sebagai teman peduli pada Baekhyun mengingat apa yang sudah terjadi berbulan-bulan silam.

KAMU SEDANG MEMBACA
ROPE ✔
RomanceApa yang membuat dua orang bisa bersama? Baik Chanyeol maupun Baekhyun memiliki kebutuhan akan kehadirannya masing-masing. Ikatan yang terjalin di antara mereka bukan berlandaskan cinta, uang ataupun martabat; tapi, mereka lebih dari itu semua. Tri...