Chapter 17

1.9K 388 273
                                        

⚠️TYPOS⚠️


Suara langkah mondar-mandir yang membuat Bianca terjaga secepat itu, setelah semalaman suntuk meladeni nafsu buaya Richard yang tiada habisnya. Dia nyaris—setidaknya—melempar bantal kepada si tampan yang membuat kegaduhan kecil hingga mengusik lelapnya yang belum seberapa, namun niat radikalnya itu urung, setelah mendapati pria itu berulang kali mendengus sembari mengetukkan ujung ponsel pada dahinya.

Bianca sedikit mengangkat punggung dan kepala untuk memastikan bahwa benar raut wajah Richard saat ini dipenuhi resah dan gelisah.

"Ada apa?"

Pertanyaan Bianca disahuti oleh elusan kecil di lengan wanita itu.

"Siapa yang telfon?"

Richard menghadap sepenuhnya pada Bianca, mengulurkan tangan dan merapikan sedikit penampilan wanita itu, meskipun sebenarnya dia tidak keberatan sama sekali, bahkan jika boleh jujur penampilan bangun tidur Bianca adalah favorit Richard, hanya saja, langkah yang dia ambil saat ini adalah sesuatu untuk memberikan jawaban jujur pada Bianca.

"Aa harus terbang ke Belanda."

"Oh ya?"

"Johanna telfon, sebenernya dia nggak menuntut apapun tapi Aa pikir setidaknya Aa harus ketemu sama orang itu sekali seumur hidup Aa. Kondisinya kritis."

"Aa yakin mau berangkat?"

"Kamu minta Aa pertimbangkan harta warisan dan kebun anggur."

"Ish!" Bianca mencubit lengan Richard karena jawabannya yang bersifat candaan.

Richard tersenyum kecil, reaksinya sedikit pasif, ia tahu perasaan tidak nyaman itu datang karena dia harus siap bertemu sang kakek yang tidak pernah dilihatnya seumur hidupnya.

"Kapan Aa mau pergi?"

"Kalau nggak ada halangan, mungkin dalam beberapa hari."

"Aku ikut nggak?"

Suka atau tidak, Bianca tidak perlu ikut, karena mengajaknya pergi ke sarang kriminal kelas kakap bukanlah ide yang bagus.

Meskipun Tuan Van Diederick tidak terang-terangan mengelola organisasi yang dipenuhi sekumpulan gengster, tapi Richard tahu pekerjaan kotor yang digeluti sang kakek secara turun temurun tersebut. Dia dan Johanna berkomunikasi cukup lama dan Johanna telah memberitahu segala hal mengenai pria tua itu.

"Kamu di rumah aja, ya? Aa nggak bakal lama kok, paling enam hari atau seminggu."

"Nanti kalau kangen gimana? Aku udah buang semua dildoku!"

"Dasar mesum! Stop mesumin Aa ya."

Bianca memasang wajah julid yang cukup menghibur hingga tawa kecil Richard pecah.

"Aku mandi duluan."

Setelah mendapati persetujuan Richard, Bianca beranjak menuju kamar mandi hingga beberapa saat kemudian dia kembali dengan rambut basah dan bathrobe yang melekat.

"Aa, sekarang tanggal berapa?"

"Tanggal tujuh."

"Masa sih?"

After BadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang